Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

April 21, 2007

Artikel #902 Perang Penggorok Leher


Manusia purba konon sekalipun jarang mandi, tetapi soal mencukur jenggot dan kumis mereka tidak pernah alpa. Pasalnya jenggot terlalu panjang bisa berakibat fatal jika sempat dipegang lawan bertarungnya dalam merebutkan pasangan atau tempat tinggal. Alasan lain jenggot dan cambang yang panjang biasanya disukai pasukan kutu dan sekutu-nya.

Para ahli purbakala menemukan bukti bahwa selain mencabuti bulu-bulu dengan cara menjepit helai-demi helai rambut dengan bantuan dua keping batu pipih yang dijepitkan, manusia gua lambat laut mereka menemukan cara lebih mudah yaitu memotong rambut dengan sisi tajam batuan "chert" atau sering disebut "flint stone."
Chert adalah batu ubahan dari fossil binatang renik purba yang membatu sehingga ideal untuk dipotong-potong menjadi material bangunan. Batuan ini banyak ditemui pada daerah bergunung kapur. Orang-orang Inggris menggunakan batuan chert (flint stone) ini untuk rumah-rumah mereka.

Ribuan tahun kemudian, masih dijumpai manusia modern mencabuti kumis dan jenggot dengan menggunakan dua keping mata uang yang dijepitkan pada ibu jari mereka.
Dari jaman batu, bangsa Mesir dikenal mulai membuat pisau dari lempeng tembaga. Sementara orang Persia menggunakan pecahan batu kali (obsidian). Semua hanya dipergunakan bagi keperluan pribadi. Baru orang Romawi yang menggunakan besi untk membuat pisau cukur dan melihat peluang bahwa usaha cukur bisa menjadi mata pencaharian mereka. Alexander Agung termasuk salah satu penikmat berat ritual bercukur, sekalipun dalam perang ia menyempatkan diri berpenampilan klimis.
Akhir tahun 1700-an Perret seorang Perancis membuat alat yang mirip dengan generasi awal pisau cukur. Ia masih menggunakan kayu untuk membatasi mata pisau agar tidak mengiris kulit. Pada 1845 dari Inggris muncul nama Henson yang menciptakan mata cukur pipih dengan bentuk persegi mirip biskuit (tapi bukan). Tahun 1880 Kamfe bersaudara di Amerika mulai meyempurnakan ciptaan pendahulunya dengan menempelkan kawat pada sisi mata pisau.

Namun persoalan yang masih mengganjal adalah bagaimana mengasah mata cukur yang terlanjur majal?

Persoalan ini dijawab oleh King Camp Gillette yang cerdik memanfaatkan isu pisau tumpul dengan menawarkan pisau yang sangat tipis, tajam, (terpercaya) murah dan tidak perlu diasah sehingga tidak merepotkan pemakainya. Selama dunia dipenuhi manusia berjanggut, maka penawaran silet sekali pakai buang akan menciptakan bisnis yang berkesinambungan. King belajar watak dagang ini dari bosnya saat ia menjadi seorang salesman. Untuk menjaga hak ciptanya, pada 1901, ia mendaftarkan hak paten ciptaannya. Empat tahun kemudian ia bahkan membuka usaha silet di Boston sebelum akhirnya berkembang keseluruh dunia.

Namun ada perusahaan lain yang merecoki monopoli Gillette. Salah satunya adalah "Bic" yang mengendus peluang lain, mereka mengeluarkan pisau cukur yang gagangnya ataupun kepalanya kalau sudah tumpul langsung masuk tong sampah atau didaur ulang. Kepraktisan dan harga ekonomis membuat produk ini langsung diterima tanpa reserve dan merebut setengah dari pasar Gillette.
Yang direbut tentu saja kelenger sebab selama 12 tahun dunia seperti dicekoki alat cukur disposable ini. Daripada jatuh bangkrut, mending mereka jatuh bangun mengikuti jejak pesaingnya dengan menggelar dagangan serupa.

Pisau cukur "Bic" memang murah, tetapi penikmat upacara cukur jenggot dan kumis di pagi hari, merasakan bahwa "habis cukur terasa pedih dan panas..." padahal di iklan, wajah para bintang macam Henry Thiery, Tiger Wood seperti kucing garong baru menelan ikan peda lantas dijawil telunjuk lentik Titi Kamal di dagu sambil bilang "biar bisa henpon aku!." Di papan atas mereka menawarkan teknik bercukur dengan bilah yang bisa berputar (pivot). Sayangnya pemakai mengeluh pisau hanya bisa berputar searah.
Kelemahan ini segera diisi oleh Gillette dengan mengeluarkan rancangan pisau berbilah empat Schick Quattro pada 2004. Tujuannya mampu memotong rambut tanpa ampun tanpa harus mengerok jangat wajah sehingga. Rahasianya, bahan karet diantara bilah pisau berfungsi sebagai penarik kulit wajah sehingga tidak menimbulkan trauma kulit.
Sebetulnya model ini produk gagal pada tahun 1933, lantaran saking banyaknya mata pisau dipasang, selain menyulitkan pembersihan bulu yang terselip diantara bilah pisau, kulit pemakaipun ikutan teriris. Untung mereka menemukan cara yang rumit dengan menciptakan pisau yang hanya tajam untuk membabat rambut namun tidak cukup tajam mengiris kulit.
Tentunya dengan memasang pisau dengan sudut tertentu sehingga membuat nyaman pemakainya.
Daripada repot memperbaiki sistem pivot Gillette mengeluarkan model Fussion sebagai pengganti Mach 3 yang tidak kalah populernya. Bedanya pada model Fussion mereka menempatkan sebilah pisau tambahan disisi pisau lain sehingga mampu memotong pada sudut yang sulit, menipiskan cambang dan mengerok rambut di bawah hidung sekalipun.
Sekarang Gillette bisa berkipas dalam bisnis "potong leher" ini, bahkan mengklaim dipakai seratus juta orang, walaupun baru sepertiga pasar di tangan mereka. Bahkan produksi mereka kalau disambung mampu mengelilingi katulistiwa sebanyak 20 kali.

Di kantor pusat Boston, para petinggi perusahaan Gillette sangat alergi terhadap para wartawan.
Perusahaan yang pada 2005 dibeli oleh grup Procter&Gamble sebesar 74 triliun dollar sebagai pembelian terbesar di abad ini, menerapkan peraturan ketat terhadap karyawannya.
"Karyawan cuma perlu tahu, bagaimana berproduksi secara garis besar. Ini adalah bisnis penuh persaingan," kata seorang pejabat di Boston. Maklum intip mengintip teknologi lawan sudah merupakan rahasia umum.

Yang perlu diingat, seperti kata iklan, apapun jenis pisau cukurnya, maka untuk urusan mencukur jenggot dan kumis ada aturan "fore play" yang perlu diikuti. Pertama mencuci muka dengan air hangat agar mengangkat semua lemak dan debu, dan membiarkan agar jenggot dan kumis tetap lembab dan lembut dengan mengoleskan busa cukur.

"Banyak orang berpendapat asal janggut sudah basah dan menggunakan sedikit sabun, maka mereka sudah siap mencukur. Padahal air dan sabun mudah kering sehingga diperlukan busa khusus untuk bercukur," kata Dan Lazarchik dari Gillette.
Dan yang lebih penting lagi, bercukurlah di saat hari masih pagi.
Sayang Alexander Agung sudah tidak sempat menyaksikan rasanya bercukur pakai alat model vibrator.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com