Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

April 18, 2007

Artikel #901 Berebut air dengan Pinus

Memandang hutan pinus apalagi dipuncak gunung berselimut halimun tipis konon mampu membuat beban berat terasa lepas begitu melihat batangnya yang semampai dan luwes seperti manekin yang berjalan dipanggung-panggung kota Paris. Belum lagi siulan angin yang membelai dedaunan pinus lengkap sudah keindahan mereka. Hutan pinus hijau royo-royo selain indah juga berfungsi sebagai hutan lindung danpenyangga kota. Maka ketika banjir melanda sebuah kota, mudah sekali orang menjatuhkan harga mati bahwa pembalakan hutan adalah penyebab utama.

Tetapi di Australia Barat, justru yang terdengar adalah, salah kawasan hutan pinus malahan dipandang biang kekurangan air yang semakin mulai dirasakan oleh warga kota Perth. Di kawasan Gnangara, pinus ditanam seluas 23 ribu hektar untuk keperluan industri dan keindahan kota. Apalagi ada danau Gnagara yang diambil sebagai penyuplai air minum disana.

Namun yang mulai dirasakan, pohon langsing ini ternyata mampu menimbun 40 triliun liter air yang seharusnya tersimpan dalam perut tanah. Jumlah ini sama dengan air yang harus disediakan oleh PAM daerah setempat untuk mensuplai pelanggannya dalam setahun.

Sebetulnya pinusnya sendiri dari sononya memang sudah doyan air, tetapi pihak perusahaan perkayuan terlalu memadatkan penanaman diluar ketentuan 11 meter persegi tanaman untuk satu hektar tanah menjadi lebih padat lagi. Di Riau, pohon kelapa sawit dituding sebagai tanaman pemangsa air tanah. Banyak tanah yang semula basah-basah nyemek begitu ditanami pohon tersebut, tidak lama kemudian nampak kering.

Satu-satunya jalan "perusahaan timber harus menebang lebih banyak lagi pohon sehingga mengurangi kemampuan pohon untuk menyunat air tanah, kata seorang pejabat setempat.

Nah lho ternyata menanam pohon kalau tidak pakai aturan main bakalan celaka juga.

Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com