Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

April 30, 2007

Artikel #908 Pucung di cinta - Aruan tiba













Kedai Masakan Betawi "Bang Peang"

Masakan Betawi tentu bukan hanya nasi uduk atau sop kambing betawi atau soto Betawi. Masih seabreg-bujeg banyaknya. Tetapi beberapa diantaranya mulai langka karena selain bahan baku yang mulai berkurang, teknik memasaknya tak kalah ribet sehingga banyak yang gagal.

Salah satunya sayur pucung.

Sayur Pucung merupakan semacam gulai ikan aruan (gabus) yang dimasak dengan hamburan bumbu rujak, lalu dikombinasikan dengan pemberian keluwak sehingga kuah sayuran berwarna dawat geseng persis kuah rawon masakan jawa timur. Bedanya rasa masakan mirip rujak, asin, asam dan sedikit pedas dengan bahan baku ikan gabus yang tebal daging dan protein.

Universitas Brawijaya pernah mengasongkan hasil penelitian bahwa jenis ikan ini kaya akan protein Albumin, yang sangat berguna bagi pasien pasca-bedah.

Keluwak dalam bahasa Jawa atau Buah Kepayang (Pangium edule) yang sudah tua berwarna hitam dan menerbitkan rasa asam manis dan pedas. Dibalik kulitnya yang keras terdapat daging berwarna kehitaman. Daging keluwak inilah merupakan bumbu utama yang menimbulkan aroma khusus mirip rawon, dan warna kuah yang berkilau keemasan.

Untuk melengkapi masakan maka ditambahkan cabe, bawang, kunyit, sereh yang digongseng terlebih dahulu. Yang tidak boleh dilupakan, nasi yang dihidangkan lebih afdol bila telah di "akel" sehingga wangi Pandan Wangi semakin tajam dan pulen dan sedikit liat saat memasuki kerongkongan.

Kendati bumbunya nampak sederhana, tetapi lazimnya masakan tradisional, harum pula akan cerita esoteris - pasalnya banyak pakar pucung yang menyoba mengajarkan ilmu kepayang ini kepada generasi dibawahnya. Namun banyak pula sudah mabuk kepayang lantaran mencobai rasa daging keluwak, ilmu belum juga nyantel alias gagal.

Belum lagi buah keluak sendiri memang tergolong "angot-angotan" - kadang panen tanaman liar ini menghasilkan buah yang mengecoh. Dari luar nampak segar namun tak jarang pahit. Akibatnya setiap butir "kudu dicoba" kalau pahit dibuang. Tak jarang "ade lima puluh biji pait semue, ya dibuang." Kata seorang pakar kuliner Betawi sambil merenges humor. Mereka jauh dari virus jargon "paradigma, kendali mutu atau QC." - kalau sudah berase pait masih di terjang, kite selempang (kuatir) langganan pada mabur.

Saya ketemukan sebuah kedai sederhana yang setia menyediakan masakan yaitu berbalut kuah hitam dengan aroma menurunkan jakun adalah kedai bang Peang. Bang Peang sendiri sudah lama meninggal dunia sehingga warisan warungnya diteruskan oleh sang isteri dibantu oleh anak dan mantunya.

Lokasinya di jalan Kampung Sawah sering disebut jalan Puri Gading, sekitar 300 meter arah utara Gereja Kampung Sawah. Jangan tanya kapan mereka buka kedai ini sebab anda akan mendapatkan jawaban pseudo-ngarang lantaran ibu, mantu, anak sepakat mendeklarasikan pernyataan "sejek bujek ngegelar warung, kite orang aseli sinih (h) kagak perna pinda kemane-mane" - pernyataan mengambang yang sekaligus stempel autentik mereka memang aseli lho.

Yang unik mereka menyediakan bale-bale bambu sebagai pengganti kursi. Mungkin maksudnya kalau perut sudah nendang akibat kekenyangan kuah pucung, maka bale-bale bisa dipakai sekaligus buat kongko menunggu nasik (k) turun ke bawah sebelum melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Sejalan dengan waktu dipergelangan tangan menunjukkan sekitar satu setengah jam lagi memasuki waktu lohor, kegiatan warung ini meningkat. Suara jepretan karet gelang beradu dengan kertas kopi coklat berbalut lilin pertanda seporsi nasi bungkus telah selesai menyusul bungkusan yang lainnya.

Kita perlu merogoh kocek ebesar Rp. 15 ribu untuk sepotong ikan gabus. Sekilo gabus menghasilkan enam potong. Rata-rata tiga ekor ikan gabus memiliki bobot sekilo.

Bagi anda yang ingin menyoba pepes ikan mas, tenggiri dan peyek udang, jangan kuatir, masakan disini nampaknya belum mengenal "nget-ngetan" alias sudah kelewat (h)ari. Terbukti rasa dagingnya masih kenyal sementara peyek udangnya begitu renyah.

Siapa bilang masakan Betawi cuma "berani santen?"

1 comment:

vita said...

Pak, Mas, Pakde
ini sebelah mana sebelum gereja ?
Klo aku dari rumahku puri gading, sebelah mananya ?
Ama sekolahan strada, apa ama podok damai, apa setelah gereja sekitar yasfi,?

Klo pas ke gereja bawa kendaraan sendiri aku suka lewat jalan itu, tapi ngga pernah tengak tengok ? soalnya pas dulu jelalatan liat sana sini ternyata di makam umum samping makam katholik itu ada shooting film horor, mori berbecak darah dho digantung dimana-mana, muka orang dibuat serem2 he he he. Sekitar daerah itu khan masih gelap. banyak kebonan

Salam
Vita

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com