Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

November 02, 2006

823- Phobia

Robert Langdon tokoh sentral ahli tafsir simbol kuno dalam novel rekaan Dan Brown "Da Vinci Code", digambarkan sebagai profesor cerdas. Lukisan Lady Monalisa diutak atik menjadi judul spekulatip "Why Is This Man Smiling" - ini kan urusan melawan arus. Membaca novelnya maka harus siap sumbu-persepsi kita diputar 180 derajat bak kaya nenek "kehilangan kiblat".

Betapa tidak kalau guru menggambar saya di SD No 42, (didalam) Pasar Kertapati, Palembang selalu mengajarkan senyuman perempuan bernama Monalisa begitu misteri, ujug-ujug Dan Brown merevolusi sebagai lukisan pria (agak kewanitaan), yang senyum-senyum sebab berhasil mengelabuhi pemirsa selama berabad-abad. Pentagram (bintang Daud), digambarkan kombinasi simbol panah ke atas (simbol pria) dan panah ke bawah (simbol wanita) yang mencapai titik keseimbangan, maka terjelmalah pentagram yang banyak dipakai dalam serial novel berbau esoteris.

Namun tokoh kontraversial ini jangan berdiri di depan lift. Serentak ia akan tertegun seperti linglung. Apalagi sampai memasuki lift, hatinya mulai berdebar, keringat mulai mengucur dan kepala berkunang-kunang. Saat itu sebaiknya jangan ajak ia berbicara.

Kalau Robert masih terlalu jauh di jengkal lantaran ceritanya berlatar belakang Paris, London, Italia, maka saya beruntung pernah mengenal tokoh yang luar biasa sepak terjangnya, cerdas dan penuh muslihat, maksud saya penuh strategi. Tetapi giliran masuk lift, ia seperti Sembadara "ilang kembene" - kehilangan kutang, langsung ngelokro (loyo) menghadapkan wajahnya ke dinding lift dan mulai merapal mantra.

Maksud saya mulai berbicara yang kadang tidak nyambung antara satu topik dengan yang lain. Hanya sekedar menghilangkan rasa takutnya.

Rojali, anak Citayam dengan mudah ia tidur semalaman dibawah pohon rimbun dengan berbekal sehelai sarung yang kadang berhembus napas prengus (bau sarung basah, kering, basah lagi campur keringat, debu selama seminggu lebih), padahal pohon tersebut terkenal angker. Namun jangan ajak ia memasuki toilet yang dibeberapa tempat ditaburi butiran kapur barus. Ia akan sangat ketakutan sebab kapur barus baginya perkakas jenasah. Dan hal tersebut amat ditakutinya. Banyak diantara kita yang ternyata amat sangat ketakutan pada mahluk, situasi yang oleh sementara orang dianggap soal sepele.

Takut akan semut (myrmecophobia), takut akan menjadi botak, hmmm (phalacrophobia), takut salah tingkah (social phobia), takut kucing (ailurphobia), takut anjing (cynophobia), takut mertua (pentheraphobia), takut jatuh cinta (philophobia), takut ketinggian (acrophobia), takut akan gelap-ngampar (brontophobia). Kalau anda selalu merasa tidak nyaman berada dikerumunan orang seperti pasar, pertokoan mungkin saja ini yang disebut agoraphobia.

Setelah membaca sederet phobia tadi, saya boleh percaya bahwa anda sudah terkena phobia baru logophobia alias takut akan hurup.

Wednesday, November 01, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com