Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

November 10, 2006

827 - Not Recommended (1)

Memasuki rumah makan selalu terbayang masakan yang lidzat zidaan, plus pelayanan yang menggembirakan sehingga walaupun tidak diberi honor menulis tetap saja dibela-belain membuat jurnal dan menyebar warta kegembiraan ke seantero dunia.

Terus bagaimana kalau ternyata tidak sesuai selera.

Tersebut kisah di ujung jalan Kodau V alias WibawaMukti VI, aliasJalan Puri Gading, alias jalan Rawa Bogo yang sekarang mulai tumbuh rumah makan Padang magrong-magrong (besar), dan rumah makan kelas cere seperti yang saya datangi yaitu sebuah warung Soto Kudus dan Dawet.
Sengaja saya sembunyikan nama warung ini.

Berhubung resto baru mulai maka saya tidak mengharapkan pengunjung ramai ketika saya memasuki sudut resto tersebut, namun paling tidak akan ada pelayanan yang bagus termasuk riset sederhana "bagaimana masakan saya?, ada yang kurang sreg".

Lalu saya tarik sebuah bangku besi ala bakso berwarna hijau telor asin. Bau cat masih menyengat. Bukan itu saja, catpun ikutan lulut (nurut) pertama dijari saya dan belakangan saya ketahui di pantalon kesayangan.

Segera saya memesan soto dan es dawet. Dawet entah mengapa selalu menarik urat syaraf lidah saya. Sambil memberikan pesanan, kepada penunggu warung soto saya ceritakan soal cat masih basah. Raut mukanya bergeming. Sama seperti saya mendongeng bahwa di Australia sana ada laut dan ada daratan. Atau malahan mbatin. "banyak kursi lain yang catnya keburu kering, mengapa pilih yang basah?"

Kekecewaan saya terobati dengan rasa gurih dawet, beda tipis dengan dawet atau cendol Bandung maupun BanjarNegara. Bentuknya agak transparan seperti terbuat dari umbi ganyong (bukan beras). Lalu saya tanya kepada orang yang sama "dawet dari mana ini mas". Dia tetap sibuk dengan urusan meracik masakan soto kudus, dan menjawab "wah saya ndak tahu, cuma pegawai..."

Kalau sudah begini pingin teriak nggak seeh...

Soto dan nasi akhirnya terhidang. Masuk putaran 20 menit menunggu sebetulnya unacceptable. Bukankah tinggal "jimpit" daun bawang, potongan kol, tauge sedikit garam lalu "cemplung". Nasi saya cek kekerasannya. Terlalu lunak untuk pasangan kuah soto. Harusnya nasi mirip di "akel" sehingga butirannya terpisah. Di rumah, nasi lembek memang lebih disukai. Tapi kalau sudah masuk ke selera publik, ilmu nasi harus mengikuti pakem.

Sekalipun demikian dasarnya lapar, tandas juga nasi soto.

Kami minta bon, dia menggunakan kalkulator, es teh tawar, nasi nyemek, semangkuk soto, sebungkus emping, sepotong tempe mini. Ceklak ceklek suara kalkulator menghitung bon. Hasilnya masuk ke angka 20 ribuan lebih sedikit. Lalu saya koreksi, makanan saya mendekati angka 30-ribuan (sebetulnya sudah masuk mahal), lalu saya komentari "kamu bisa rugi kalau cara menghitungmu begitu,bukan ndak mau dikasih murah tapi jelas salah hitung".

"Maaf saya cuma pegawai, dan kami masih baru buka..."

Coba, alasan apaan ini...

Atau yang "ceban" merupakan dicount untuk beli afduner untuk melunturkan cat dari pantalon saya?

Dan kelak saya tidak akan datang ketempat yang sama. Sebab cat yang menempel sudah cukup mengingatkan akan pengalaman kurang menyenangkan. Apa belum cukup iklan di media TV, bahwa kesan pertama begitu menggoda.


Mimbar Bambang Saputro

2 comments:

Anonymous said...

Soal jajan memang soal selera. Ditempat magrong ato di perko ( emper toko ) ngaruh gak banyak, itu kata mas Mimbar dan saya lho.

Seorang pensiunan pekerja asuransi ingin mengisi waktu sepuhnya , dia memutar otak apa sih yang bisa di lakukan ?. Istrinya yang berasal dari daerah penghasil bakso ngetop seantero nusantara memberikan ide untuk membuka warung bakso saja. “ Wis pakne daripada susah mikir dodolan bakso wae, keluargane dewe rak akeh sing iso gawe” ( translate : sudah sayang, jualan bakso saja kan banyak keluarga kita pakar di bidang itu ).
Jadilah si bapak ber niat ingsun berjualan ba’so, dengan modal nol pengalaman. Baksonya di beri label “BA’SO LAGUNA”.
Dengan metode trial & error selama bulan2 awal, sekarang si bapak sudah mantap dengan hasil racikannya, yang menurut dia tiada duanya, bumbu resep leluhur di di kombinasi dengan hasil berburu di Gramedia.

Saya paling suka menu ba’so iganya , minum sup buah yg segar semriwing. Selama menunggu pesanan, bisa nyamil sosis solo sing cilik-cilik nikmat di tutul sambel. Wuah...
O iya, tempat dagangnya di Jl Jatiwaringin Raya, di sebelah butik baju muslim Safira, seberang agak kekiri Supermarket Naga, pas di seberang bakmi Margonda.

Salam,Endang Susilowati.

Anonymous said...

Mas Miem,
10 ribu discount buat ganti rugi celana pantalon yang terkena cat basah hehehe.

Wassalam, Vivie
adikmu yang nebeng email suaminya

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com