827 - Not Recommended (1)

Memasuki rumah makan selalu terbayang masakan yang lidzat zidaan, plus pelayanan yang menggembirakan sehingga walaupun tidak diberi honor menulis tetap saja dibela-belain membuat jurnal dan menyebar warta kegembiraan ke seantero dunia.

Terus bagaimana kalau ternyata tidak sesuai selera.

Tersebut kisah di ujung jalan Kodau V alias WibawaMukti VI, aliasJalan Puri Gading, alias jalan Rawa Bogo yang sekarang mulai tumbuh rumah makan Padang magrong-magrong (besar), dan rumah makan kelas cere seperti yang saya datangi yaitu sebuah warung Soto Kudus dan Dawet.
Sengaja saya sembunyikan nama warung ini.

Berhubung resto baru mulai maka saya tidak mengharapkan pengunjung ramai ketika saya memasuki sudut resto tersebut, namun paling tidak akan ada pelayanan yang bagus termasuk riset sederhana "bagaimana masakan saya?, ada yang kurang sreg".

Lalu saya tarik sebuah bangku besi ala bakso berwarna hijau telor asin. Bau cat masih menyengat. Bukan itu saja, catpun ikutan lulut (nurut) pertama dijari saya dan belakangan saya ketahui di pantalon kesayangan.

Segera saya memesan soto dan es dawet. Dawet entah mengapa selalu menarik urat syaraf lidah saya. Sambil memberikan pesanan, kepada penunggu warung soto saya ceritakan soal cat masih basah. Raut mukanya bergeming. Sama seperti saya mendongeng bahwa di Australia sana ada laut dan ada daratan. Atau malahan mbatin. "banyak kursi lain yang catnya keburu kering, mengapa pilih yang basah?"

Kekecewaan saya terobati dengan rasa gurih dawet, beda tipis dengan dawet atau cendol Bandung maupun BanjarNegara. Bentuknya agak transparan seperti terbuat dari umbi ganyong (bukan beras). Lalu saya tanya kepada orang yang sama "dawet dari mana ini mas". Dia tetap sibuk dengan urusan meracik masakan soto kudus, dan menjawab "wah saya ndak tahu, cuma pegawai..."

Kalau sudah begini pingin teriak nggak seeh...

Soto dan nasi akhirnya terhidang. Masuk putaran 20 menit menunggu sebetulnya unacceptable. Bukankah tinggal "jimpit" daun bawang, potongan kol, tauge sedikit garam lalu "cemplung". Nasi saya cek kekerasannya. Terlalu lunak untuk pasangan kuah soto. Harusnya nasi mirip di "akel" sehingga butirannya terpisah. Di rumah, nasi lembek memang lebih disukai. Tapi kalau sudah masuk ke selera publik, ilmu nasi harus mengikuti pakem.

Sekalipun demikian dasarnya lapar, tandas juga nasi soto.

Kami minta bon, dia menggunakan kalkulator, es teh tawar, nasi nyemek, semangkuk soto, sebungkus emping, sepotong tempe mini. Ceklak ceklek suara kalkulator menghitung bon. Hasilnya masuk ke angka 20 ribuan lebih sedikit. Lalu saya koreksi, makanan saya mendekati angka 30-ribuan (sebetulnya sudah masuk mahal), lalu saya komentari "kamu bisa rugi kalau cara menghitungmu begitu,bukan ndak mau dikasih murah tapi jelas salah hitung".

"Maaf saya cuma pegawai, dan kami masih baru buka..."

Coba, alasan apaan ini...

Atau yang "ceban" merupakan dicount untuk beli afduner untuk melunturkan cat dari pantalon saya?

Dan kelak saya tidak akan datang ketempat yang sama. Sebab cat yang menempel sudah cukup mengingatkan akan pengalaman kurang menyenangkan. Apa belum cukup iklan di media TV, bahwa kesan pertama begitu menggoda.


Mimbar Bambang Saputro
2 comments

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe