Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

November 15, 2006

832 - Totok Energi

Ada sekelompok anak muda dari Indonesia Timur yang kerap berkumpul setiap. Anak-anak muda berkulit gelap, pawakan alias postur kekar dengan wajah sangar, masih ditambah rajahan hampir diseantero badannya, adalah anggota sebuah sasana tinju. Berbicara tinju tentunya tak lepas dari keseleo dan memar tubuh sehingga perlu penanganan oleh ahli pijat.

Maka tak putus keinginan saya menyobai rasanya dipijat oleh pemijat para jago-kepruk ini. Ternyata tidak gampang juga menghubungi sang ahli sebab jadwal mereka memijat cukup padat.

Sampai suatu siang di rumah saya datang seorang berkulit keriting, berkumis tebal ala Opik. Ia lalu memperkenalkan diri sebagai ahli pijat. Menilik tubuhnya, mungkin berusia sekitar 40-an. Hanya namanya kurang "ngAmboni" agak kurangberbau Nyong Ambon. Pak Apris menurutnya singkatan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat, sebuah gagasan yang meniru Amerika dengan mendirikan negara bagian sampai akhirnya bermunculan negara-negara berdasarkan kesukuan. Sukarno melihat unsur perpecahan sehingga ia mengubahnya kembali menjadi NKRI. Herannya, puluhan tahun kemudian, gagasan negara Federal dikumandangkan lagi oleh orang-orang yang katanya tidak setuju dengan garis politik Amerika namun sekolahnyapun disana.

Tapi daripada bingung, maka biarkanlah pak Apris bekerja.

Perlu baby oil atau handbody lotion pak Apris?

"Tidak perlu ini totok energy...bukan urut"

Lalu saya membayangkan duduk bersila sambil meditasi, lalu pak Apris menotok saya "tok tok tok", dari sekujur tubuhnya terutama kepala keluar asap halus, lalu seperti adegan pendekar Rajawali, Yoko ditotok oleh Nona Long Sang Bibi ayu saya muntah darah, dada saya kehitaman bekas pukulan Inti Matahari, hanya bisa diselamatkan oleh buah Tho Naga yang berbuah 1000 tahun sekali dilereng gunung yang curam.

Inilah kalau kebanyakan baca karangan Silat. Padahal dibaca jaman anak-anak kok ya nyantel-tel tak lekang dari ingatan. Bahkan saya bisa terhanyut dalam cerita tersebut. Kalau pengarang melukiskan Bibi Liong berduka, saya ikutan sedih. Kalau diam-diam bibi Liong jatuh cinta (iyalah berdua di gua dingin), lalu saya ketularan mukaku panas dan jantungku berdebar.

Kembali ke laptop ...

Rupanya saya kecele. Saya hanya diminta tengkurap. Lalu ia memegang betis saya dan berdiam diri sebentar, terasa hawa hangat mengalir rupanya ia sedang mengalirkan energi sinkangnya.

Beberapa detik dilakukan jarinya piknik ke jempol sambil ditekan-tekan secara cepat. Naik ke betis dan punggung, tangan akhirnya sekujur tubuh. Saat begini saya mulai cari tahu latar belakang ilmu totok energinya yang sekarang sedang naik daun lantaran merupakan perpaduan antara pijat, accupressure dan tenaga dalam.

Tapi pak Apris lebih suka menceritakan biodatanya. Ia mengklaim bahwa bapak Martha Tilaar pernah kena stroke dan dipijat selama beberapa bulan sampi akhirnya bisa berjalan. Sejak itu dia menjadi reflexologi di Marta Tilaar sampai akhirnya mengundurkan diri lantaran jarak tempuh dari Bekasi ke Kuningan yang dirasa sudah mulai mengganggu fisiknya yang ternyata berusia 55tahun.

"Sudah keturunan... datang begitu saja...", tukasnya ketika ditanya darimana belajar pengetahuan ini.

Bagaimana dengan re-generasi, sebab barangkali ada yang kepingin belajar totok energi..

"Ah biarlah saya bawa mati saja..." , jawabnya enteng.

Gagal sudah skenario untuk mendapat penjelasan bahwa dalam tubuh manusia terdapat meridian energi yang perlu dijaga aliran dan keharmonisannya agar salah satu lubang energi tidak "ngeblok" - seperti layaknya banyak diantara kita yang lebih suka berbicara ketimbang menurunkan lewat prasasti atau tulisan. Maka tidak heran kalau disekeliling kita amat banyak legenda bermunculan akibat kebiasaan verbal ini.

Terus bagaimana kiat merawat petinju yang memar akibat pukulan sampai ada yang KO.

"Jangan dipijat, kompres pakai es saja.."

Hampir sejam, kurang sedikit saya diminta duduk. Pikir mau ditotok ala Yoko, ternyata ia menekan simpul energi dikepala saya.

"Kadang yang pakai susuk kalau saya totok bisa lepas sendiri" katanya setengah promosi. Bahkan orang kesurupanpun bisa saya obati dengan totok energi, tambahnya lagi.

Pria ini tinggal di Komplek Kodau V. Pondok Gede. Namun kalau dipeta kode posnya 17422. Menurut pengakuannya rumahnya berhadapan dengan Terminal Angkot KodauV (Pondok Gede). Istrinya berjualan penganan di SD Kodau. Sayang sekalipun memilih perempuan Jawa yang memberinya satu anak, ia memilih tidak memiliki handphone.

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com