Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

November 07, 2006

825 - Bu Sabar

Bagi yang doyan di pijat, maka kebutuhan yang satu ini memang bisa membuat kecanduan. Ada yang mampu membuat sakit tapi enak lantaran pijatan refleksi di telapak kaki yang membuat "unyeng-unyeng" di kepala seperti tercabut. Dan tak sedikit yang mampu menyisakan bilur biru sehingga alih-alih nikmat malahan biru memar yang diperoleh.

Namun, kendati kerap ketanggor pemijat amatiran yang "nyiksa" entoch sebulan sekali tidak ditangani ahli pijat, maka badan seperti ngilu dan loyo mencari pemijat untuk meluruskan otot yang bengkok.

Salah satu profesional, sebut saja Ibu Sabar 45tahun, wanita Jawa bertubuh kecil namun masih "roso-roso" urusan memencet ujung kaki membuat tubuh mengejang kesakitan, dan setelah itu muncul rasa nyaman.

Ia memang jagonya totok darah dan pijat refleksi.

Sebelum menjadi pemijat, bu Sabar adalah istri seorang pegawai negeri cukup terpandang sehingga terbiasa dihormati, dan mendapat pelayanan jalur khusus. Saat itu ibu Sabar hanya sebagai ibu rumah tangga mendampingi sang suami. Ekonomi rumah tangga mulai gonjang ganjing tatkala suami memutuskan mempercepat masa pensiunnya. Menyoba berbisnis dan jeblok.

Celakanya ada yang masih menganggap dunia ini tidak mengkal-mengkol alias lurus. Bawaan saat "masih di kesatuan" bahwa beras, lauk pauk, minyak datang tiap bulan masih susah terhapus. Dan lebih runyam lagi, sang El-Kapitang rumah tidak mengijinkan para makmum mencari tambahan dengan berjualan atau memanfaatkan keahliannya. Jalan cerita yang klop dijadikan sequel sinetron "mantan pejabat".

Lalu melalui gerakan tutup mulut bu Sabar coba berdagang makanan di Pasar Induk. Maksudnya agar bisa menopang asap dapurnya. Sekali tempo, suami menangkap basah bu Sabar sedang berjualan. Barang dagangan dijungkir balikkan lantaran sebagai mantan pejabat ia merasa malu akan gunjingan tetangga dan relasi.

Tetapi seperti namanya ia tetap ibu Sabar, dan masih nekat berjualan penganan dengan modal yang dipepet paling banter mampu membeli lima kilogram singkong yang di parut dan dijadikan penganan. Kalau penganan ini tersisa, maka dagangan dititipkan kepada tetangga agar terhindar dari deraan sang pemimpin rumah tangga.

Dari beberapa pihak yang prihatin akan rumah tangga mereka, disamping ada yang "nyukurin" terselip seorang Rosa yang mata lahirnya melihat jari tangan perempuan ini nampak kekar, kendati tubuhnya kerempeng.

"Modal bagus menjadi ahli refleksologi.." batin Rosa.

Hatta, Rosa membawa Ibu Sabar keteman-temannya yang banyak mengetahui seluk beluk ilmu totok darah dan refleksi, tak lupa ilmu mengurut. Rosa sendiri seorang janda yang ditinggal suami dan anak dalam keadaan morat-marit urusan "Kampung Tengah" maksudnya masih berkutat urusan perut. Dasar perempuan pintar, bu Sabar menjadi perempuan mumpuni refleksi dan urut.

Dan asap dapur tetap mengepul mengirimkan aroma harum masakan.

Mungkin kita akan kepikiran, nelangsa betul hidup perempuan ini. Tapi jangan salah. Anda akan terheran kalau dari mulut perempuan bersuara lirih ini muncul pengakuan, inilah jalan yang harus dilakoni demi sebuah kepercayaan akan karya penyelamatan. Sambil bercerita kadang tangannya terangkat ke udara seperti akan menerima bayi, atau kadang didekapkan ke dadanya.

"Twaaang" - ubun-ubun saya menggelembung. Secara reflek kaki kanan saya tertarik. Rupanya saraf kaki kena mengirim signal sakit akibat tekanan stik refleksinya. Waduh buyar sudah ilmu "interogasi" mengorek sebagian kehidupan bu Sabar.

Kalau kata lagu, dia itu perempuan Jantan!

Namun ada seorang ibu Rosa yang sering menitikkan air mata. "Saya orang susah, masih ker-ker-tok (eker-eker-patuk), artinya cari makan hari ini, dihabiskan ini hari, tapi bahagia melihat teman saya bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi rumah tangganya.."

Iyalah bu. Menolong orang tidak perlu menunggu uang bejibun. Hutang rumah dilunasi lunas. Atawa ekonomi stabil terkendali. Pokoknya Now or never kata Elvis Presley.


Mimbar Bambang Saputro

2 comments:

Anonymous said...

Pak Mimbar,

Apakah boleh saya tahu alamat praktek atau no phone utk panggilan Pijat
Bu Sabar ?
Kbtln saya pencinta Pijat, jadi jika 2 minggu tdk di pijat2, badan
terasa remuk2. Apalagi mengingat sejak kepindahan baru bbrp bulan ke Jkt
ini, blm menemukan aktifitas rutin olah raga.
Mohon info-nya siapa tahu bisa di panggil dan cocok pijatan-nya.

Salam
Nugroho

Anonymous said...

Lha kalau mijat orang yang betisnya seperti betis tukang nyangkul seperti saya apa kuat ya?
Lagi pula kemana sayaa harus nyari bu Sabar karena saya sudah tidak saabar menantinya. Kebetulan kami serumah ( saya dan istri) orang yang doyan pijat. Alangkah senangnya kalau bisa diinformasikan cara kontak bu Sabar. Matur
nuwun mas Mim
Salam, AW

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com