Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

July 15, 2007

Tongseng Soraren van Pasar Bibis Yogya

Ketika berada di Yogyakarta, saya berniat mengulangi sukses makan soto ayam hangat di warung Soto Pak Slamet, yang berlokasi di daerah Gamping, Godean Sleman, Yogyakarta.

Sekalipun namanya Soto Slamet, namun beberapa orang menyebut soto Sawah karena berada di antara sawah membentang di kiri kanan jalan. Ada juga yang menyebut soto Teteg (sepur) karena lokasinya di sebelah barat perlintasan kereta api.

Namun karena musim liburan, pengunjung demikian membludak, ditambah serbuan pendatang dari luar Yogya (dilihat dari nomor plat kendaraan), sehingga tiada kursi tersisa. Terpaksa, keinginan makan kaldu ayam yang segar dicampur dengan cincangan kubis, kecambah, tomat, dan potongan ampela dan hati bertabur usus yang berhiaskan kucuran kecap manis, kali ini saya kubur sementara.


Lalu kendaraan saya jalankan pelan-pelan sekitar 2 kilometer kearah barat. Mudah-mudahan saya mampu menscanning warung atau tenda makanan yang unik.

Tepatnya di pangkal pasar Bibis, saya melihat sebuah warung tongseng dan sate teramat bersahaja.

Warung nampak sepi, padahal masih sekitar pukul 13:00 siang. Seorang lelaki kurus ditemani isteri dan seorang anak kecil nampak menanti kedatangan pembeli.

Lalu saya pesan Tongseng pada bu Warso, yang mengaku bahwa ia dan suaminya meneruskan usaha sang ayah, Karta atau lebih dikenal pak Senen, karena sudah berusia lanjut yaitu 90 tahun lebih sudah tidak mampu berjualan.

Iseng saya menanyakan nama resmi warung ini. Ternyata sejak didirikan tahun 1948-an, pak Senen tidak pernah memberi nama pada warungnya kecuali kecuali para tetangga menyebutnya warung SORAREN. Ini bahasa Jawa dari Ngisor Aren alias bawah pohon Aren. Bahkan sebelum ganti jalur sate, pak Senen terlebih dahulu dikenal sebagai pengolah Tahu Campur yang kondang.

Sambil mengamati ruang seluas 3x3 meter, beratap genting dengan empat buah genting kaca sehingga cukup untuk penerangan ruangan, saya melihat dua bangku kayu besar. Lalu memperkirakan dimana jejak pak Harto pernah duduk disini. Terbayang senyumnya sehinga ia digelari The Smiling General.

Dinding anyaman kulit bambu (gedeg) yang besar dan hanya dikapur putih seperti memperkuat dugaan bahwa pemilik warung ini bisa jadi memang sudah terlalu letih mengais nafkah di bidang sate dan tongseng.

Saya memesan 10 tusuk sate dan tongseng sambil memasang mantera untuk mengorek informasi dari seseorang.

Jujur saja, saya agak grogi kalau harus berbahasa Jawa. Ketiak saya rasanya basah. Kalau pakai baju putih lantas dipotret pasti seperti mengenakan baju tambalan di bawah ketiak. Sialnya dari tulang ekorpun seperti soldaritas aksi meneteskan asam keringat. Orang Jawa menyebut keadaan seperti ini dengan "ngetuk" alias ketiak sesubur mata air (tuk)

Tiba-tiba mata saya seperti mau copot dari frame ketika melihat suami bu Warso, dengan sigap menusuki daging tebal tidak menggunakan tusukan bambu melainkan besi jari-jari sepeda.

Belakangan saya kecewa karena, saat dihidangkan sang daging merah dengan irisan bawang merah dalam jumlah "melimpah ruah" plus aroma sedikit segar campur sangit hasil reaksi fisika dengan arang batok kelapa, ternyata dihidangkan tanpa tusuk (jari-jari sepeda). Jadi urung untuk memotretnya. Grrrh.

Saat menghidangkan teh panas kental beraroma melati dan rasa sepat segar, bu Warso bercerita bahwa pak Senen membuka warung ini pada 1946-an yaitu saat berakhirnya "clash" dengan Belanda. Orang Yogya, selalu menyebut kata "clash" dengan penuh tekanan heroik. Biasanya orang demikian terlibat memanggul senjata dalam perang gerilya melawan Belanda.

"Setelah clash, Pak Harto berjuang menjadi militer sementara bapak kulo (saya) berjuang menusuk sate dan tahu guling," katanya sambil menunjukkan deretan gigi yang ompong.

Rupanya pak Senin ini teman sepermainan pak Harto di kawasan pasar Bibis, Yogyakarta, sehingga iapun sering makan di warung sederhana tersebut.

Deretan nama besar pernah menghias sejarah Indonesia adalah alumni pasar Bibis Godean selain pak Harto, juga Kardono, Karsono dan Bardosono.

"Kulo pernah nemanin bapak kulo menghadap Cendana (Jalan Cendana Menteng), rapat pembubaran panitia perkawinan Mas Sigit. Kami membawa angkring lengkap ke istana, bersama pasukan tahu guling, bakmi godog semua makanan favorit pak Harto dari kawasan pasar Bibis."

"Waktu kami memasak, ibu Tien datang dan berbisik Hayo Pada Wijik - hayo pada cuci tangan, Bapak sebentar lagi rawuh (datang), tentunya karena kegemaran pak Harto menyalami orang kecil.

"Maka semua juru masak bersiap untuk bersalaman dengan pak Harto dari pintu depan rumah Sigit Suharto. Yang tidak diduga, justru yang ditunggu-tunggu datang dari arah dapur," kata bu Warso sambil mengusap bintik air matanya, nampak ia tak kuasa menahan rasa bangga dan haru bahwa masakannya pernah diangkut ke Cendana.

Pengalaman lain adalah, saat berada di jalan Cendana, semua peralatan masak yang tajam dan berkilat berjejer panjang tersedia. Suatu ketika bu Warso bermaksud mengambil pisau untuk memotong daging sambil berjalan tertunduk dengan penuh takzim.

Namun ia rada kebingungan, maklum bermacam pisau mengkilat tersedia disitu. Mulai dari pisau fillet, pisau pemotong, pisau pembelah yang tak ia pahami cara penggunaannya.

Di sela kebingunganya tiba-tiba ada suara kecil dalam bahasa jawa "aja wedhi aja wedhi.." - jangan takut, jangan takut.

"Hampir saya menjerit, ternyata suara burung beo kesayangan keluarga Cendana," lagi-lagi tawanya putri kedua dari dua anak pak Senin ini terdengar berderai campur isak terharu.

Rasa tongsengnya cukup lembut dengan kuah yang kental akan rasa kecap manis. Potongan daging sate cukup besar, sekalipun produksinya cukup lama, sesuai dengan motto kepasrahan Jawa.

Sebelum berpisah, saya sempat diajak menengok ke kamar bagian belakang untuk memotret Angkring (pikulan) yang pernah dibawa ke Cendana. Angkring yang teronggok tak berarti ini, bagi mata yang jeli akan menjadi barang antik yang bernilai jutaan rupiah dikemudian hari.

Ada yang tertarik memburunya?. Mudah-mudahan dapat membantu Warung pak Senen alias Soraren alias Tongseng Soeharto agar bisa di renovasi dari kehancuran dimakan usia setua pemiliknya yang kini terbaring sakit uzur.




Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com