Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

July 21, 2007

Catatan mbak UkirSari wartawati Otomotif ttg saya?

Gathering Wikimu: Perkenalken .... ini Pak Mimbar

Senin, 16-07-2007 16:55:25 oleh: ukirsari Kanal: Opini

Jreng! Akhirnya kesampaian juga niatan saya untuk bisa hadir dalam gathering Wikimu yang 'iming-imingnya' adalah menampilkan Pak Mimbar Saputro sebagai salah satu pembicara. Jujur saja, beliau adalah penulis favorit saya dalam komunitas citizen journalism yang berbasis di Jakarta ini.

Setelah hampir seharian sibuk melakukan fitting bersama rekan tersayang Nawita -sebuah 'kemewahan' bagi saya pribadi, karena akhir pekan biasanya tak banyak beda dengan hari-hari kerja saya: memanggul kamera video sekitar 2,5 kg dan mengantongi handy-talkie serta mondar-mandir di lokasi shooting mulai pukul 09.00 - 16.00 wib- toh tampilan akhirnya jatuh ke situ-situ juga. Celana cargo, tee-shirt, sepatu keds dan tas cangklong. Nawita kurang lebih senada, cuma pastinya lebih chic ;)

Dan oh la la ... di medan pertemuan yang berlokasi di lobby Apartment Pavillion, pandangan kami langsung tertuju pada sosok mantap punya. Ibarat robot di film-film, mata kami yang berubah jadi mata kamera langsung 'wuuuut .... wuuuuut' menangkap objek ini. Bapak Mimbar Saputro tampil dengan kemeja batik hitam berornamen burung merak keemasan, dipadu celana pantalon hitam dan sneakers hitam pula. Sebuah padu padan yang mengundang kami ber tsk ... tsk sampai 8 kali! Dilanjutkan saling berkomentar, "Waduh, lain kali kalau fitting kita mesti serius, nih! Ternyata kita kurang rapi-jali."

Tapi sebuah sumber terpercaya membesarkan hati. Katanya, "Pak Mimbar tadinya juga mau tampil non formal. Namun karena kapasitasnya sebagai salah satu pembicara, maka istri tercintanya mengangsurkan baju batik itu!" Sementara yang bersangkutan sendiri saat menjabat tangan kami dengan ramah, sempat berceletuk, "Tadi saya sempat nyasar masuk ke acara ulang tahun orang yang berlangsung di gedung ini, lho!" Belum sempat dijelaskan, apakah nyasarnya beliau diakibatkan karena penampilannya itu hingga resepsionis gedung menunjukkan arah yang salah.

Patut diacungi jempol adalah saat pria yang berprofesi sebagai 'tukang bor' ini tampil sebagai pembicara: bagaimana cara menulis dan mengendapkan ide agar menjadi tulisan semakin bermutu -bukan menjadi tape seperti candaan Pak Bertold. Suasana makin gayeng, saat topik sampai pada 'kekayaan' beliau dalam menampilkan kosakata yang unik dan [sekalipun] saru jadi lucu seperti NgNgtR alias ngeres-ngeres tapi resep, dengus asmarawati atau olah asmara.

Pemicunya bisa didapat dari kliping. Cerita Pak Mimbar, setiap kali mendapatkan kosakata unik dari suratkabar, artikelnya akan digunting dan dijadikan kliping.

Masih menurut beliau, menulis sesuatu yang serius bukan berarti harus membuat kening si pembaca berkerut lalu berkomentar, 'Iki opo tho karepe?' [bigimane sih maksutnye?]. Namun membuat sajian [tulisan] enak dinikmati dan mudah diikuti lebih penting. Contohnya menggabungkan gaya berkisah bak program televisi Silet campur Buser. Juga tidak tertutup kemungkinan menulis dengan menggunakan logika terbalik.

Selain berbagi pengalaman seputar dunia tulis-menulis yang dilakukan beberapa rekan, di pertengahan acara Gathering Wikimu, redaksi http://www.wikimu.com/ juga membagikan kenang-kenangan kepada para anggota favorit. Yang perhitungannya dilakukan per bulan.
Bisa ditebak, 'Bapak Favorit' saya yang punya banyak pengalaman menulis di berbagai media cetak Tanah Air serta lingkup kantornya itu mendapatkan bingkisan paling banyak.

Mulai kado dimensi besar sampai kecil berhasil disabet Pak Mimbar. Frekuensi maju ke depannya pun otomatis paling banyak. Saat saya berkomentar, "Aduh Pak, bagaimana membawa kadonya nanti?!"

Dengan sigap Pak Mimbar menjawab, "Jangan kuatir, saya sudah merasa [bakal dapat banyak. Ceileeee ....]. Karena itu saya sengaja bawa ransel dari rumah!"

Nah, backpack merah inilah, jadi satu-satunya barang di tubuh Pak Mimbar yang tidak matching dengan properti baju batik dan aksesoris lainnya. Tapi tentunya sangat berdayaguna lho!

Seluruh peserta pun 'larut' dalam kebersamaan makan bersama, diseling ngobrol sana-sini, sampai tiba saatnya beberapa saling berpamitan. Baru dilanjutkan dengan acara foto bersama minta bantuan Hoshino Keciichiro, jurnalis asal Jepang dari Jakarta Shimbun yang kabarnya akan mewartakan gathering ini.

Sayangnya, Pak Mimbar tidak sempat berpartisipasi dalam acara pamungkas jeprat-jepret itu. Pasalnya beliau sudah pamit duluan dan ke tempat parkir di basement. Lagi-lagi sebuah sumber terpercaya memberi info, "Padahal, kalau kalian mau mencari beliau ke tempat parkir, pasti ketemu! Pasalnya, kami tadi jumpa beliau sibuk memencet-mencet kunci untuk mendeteksi mobilnya parkir di mana!"

Lha, rak tenan tho .... siang ini saya sudah menjumpai komentar Pak Mimbar sendiri ihwal 'petualangan' nya di area par kir. Dikutip langsung di bawah komentar Beranda foto saudara Bajoe: Aku memerlukan waktu 60 menit mencari dimana kendaraan di parkir. Tidak mencatat posisi parkir (padahal kalau di mall selalu menulis posisi di belakang kertas parkir), padahal baru pertama kali ke apartemen Pavillion.

Untung ada wartawan KONTAN yang memboncengkan saya meneliti satu persatu mobil warna Silver. Akhirnya ketemu.

Wheladalah!

catatan: foto-foto sumbangan dari mas administrator. matur nuwun!

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com