Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

July 06, 2007

Salah Kamu

Salah kamu

Jumat, 06-07-2007 22:19:15 oleh: Mimbar Saputro

Jeritan kecil campur kaget kedengarannya berasal dari arah toilet airport lounge di Bandara Simpang Tiga Pekanbaru.

Rupa-rupanya ada seorang penumpang perempuan sedang asyik ber "wiwi" sambil jongkok ketika tiba-tiba pintu WC dibuka oleh seorang penumpang pria. Sang wanita menyalahkan pria yang tidak mengetuk pintu, sementara pria muda berkulit gelap tidak kalah sengit menuding "salahnya ibu, kenapa pintu toilet tidak dikunci". Malahan sang pendobrak menambahkan kata-kata "jangan takut di Irian saya biasa lihat begituan, lagian saya sudah kawin.."

"Wah alamat sial itu...." pikiran klenik saya muncul. Kata orang dulu kalau nontonin aura(t) lawan jenis non muhrim maka akan ketiban sial. Mungkin "sanepo" peringatan para orang tua dulu maksudnya agar para lelaki tidak gampang terkokang bilamana bertemu dengan urusan arus bawah.

Lalu pria yang tubuhnya mirip alm Bonny Rolies (pendek dan gempal) ini bergabung dengan teman-temannya, kendati sudah diumumkan melalui pengeras suara agar tidak merokok di ruang tunggu atau restoran dalam bandara, namun asap tetap mengepul dari bibir mereka. Mungkin pria berkulit gelap akan menjawab "bukan salah saya, tetapi salahkan pabrik rokok yang tetap berproduksi.."


SURAT IJIN PERANG

Saya curi pembicaraan mereka.

Ia bekerja di Freeport Timika, lalu menyusul perkenalan diri bahwa isterinya bekerja di Hotel Pangeran, Pekanbaru. Lalu dia cerita bahwa di Freeport Timika para pegawai disana selain mengajukan ijin cuti, mereka juga boleh dan layak mengajukan ijin perang. Entah perang suku, atau perang agama harus ada surat ijinnya. Perang dan sakit sama perlunya, sama seperti cobaan Tuhan, tidak boleh dihindari.

Nampaknya dia pendongeng yang jempolan dan mempersona pendengarnya. Saking asyiknya dia mendongeng, pesawat yang sedianya membawanya ke Jakarta terpaksa harus meninggalkannya karena ketika ia tidak muncul-muncul saat dipanggil. Padahal 10 meter didepannya ada monitor yang menginfokan pesawat datang dan pergi.

Kalau tadi dia menyalahkan ibu "nongkrong" tanpa kunci di toilet, kali ini dia menyalahkan awak darat yang tidak proaktip mencarinya.

"tahu ada penumpang lalai kok tidak dihampiri, saya kan sudah check in. Goblok betul petugas bandara..."

Pantesnya jadi anggota DPR atau Partai keahliannya menuntut dan menyalahkan ketidak beresan, sekalipun sudah jelas andilnya dalam membuat kekacauan negara, namun toh mampu mencuci -tangan dengan menyalahkan orang lain.

Beruntung, karena keahliannya tadi dia mendapat pesawat pengganti yang ternyata satu pesawat dengan saya. Nampaknya ia duduk dibarisan terdepan dari kelas Ekonomi.

Tidak lama kemudian pesawat kami diberangkatkan setelah tertunda ada sekitar satu jam. Suasana bandara Simpang Tiga sangat berkabut. Ada barang sepuluh menit penerbangan namun masih seperti di adegan uka-uka yaitu asap tebal dimana-mana. Barulah setelah setengah jam, kami bisa melihat cakrawala yang biru.

Di ketinggian 27000 kaki rupanya tokoh kita kedinginan sehingga bangkit mencari toilet. Hanya kali ini insiden salah lihat aura(t) tidak terjadi...

Jadi dia tidak bisa menyalahkan orang lain.....




Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com