Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 21, 2006

808 -Ngayawara - alias ngarang bebas...

Dalam tayangan yang disiarkan oleh TV Australia itu pasukan penjinak bom andalan Indonesia GEGANA sedang mencoba menjalankan alat serupa mobil-mobilan yang dikemudikan secara remote control, kami mengenalnya sebagai sebagai ROV (Remote Operating Vehicle), untuk "nyeken" alias memindai isi suatu benda yang diduga bom.

Melihat cara operasinya, sang robot mengirimkan sinar Gamma yang menembus "benda tak bertuan" - lantas, diujung lain, tembusan sinar gamma ditampung oleh filem khusus. Jadi pihak operator dalam hal ini Gegana, bisa mengetahui isi bungkusan tanpa harus membukanya.

Tiba-tiba ada suara gemrendengan, dalam bahasa Jawa Porongan... "pilem-nya salah pasang" - alias filemnya belum dipasang sesuai SOP. Kamera nampak tertutup bayangan operator, lalu setelah filem terpasang dengan benar, di tayangan TV Australia terlihat isi bungkusan yang ternyata bom lalu diledakkan....

Komentar reporter... Anti teroris Indonesia masih dalam tahap "learning curve"...

Lalu gambar pindah kedalam studio TV mereka, nampak seorang "host" - berbicara, menurutnya para politikus di Indonesia dan juga Militer, memiliki sikap yang berbeda didalam, dengan sikap yang diperlihatkan di publik.

Lalu narasi terdengar...

Sejak BOM Bali I, polisi Indonesia dibanjiri oleh mengalirnya bantuan uang dari negara Donatur....bla..bla..bla. Mula-mula diperlihatkan saat wartawan mengintip di luar pintu sidang. Mungkin mereka menggunakan zoom sehingga wajah tokoh yang terlibat nampak jelas menayangkan para pejabat dan politikus sedang berbincang sambil berdiri diruang sidang. Sepertinya sidang sudah usai sebab hanya nampak sekitar 5 orang berbicara.

Karena bahasa Indonesia terdengar lamat-lamat, maka subtitle bahasa Inggris menerjemahkan percakapan itu.

"Saya dari White House, ketemu Collin" - kata seorang tokoh berseragam dinas yang memegang tongkat komando.

"mereka selalu menanyakan pembentukan Detasemen 88"
"dana dari Amerika sekian ribu dollar...."
"dana dari Belanda sekian ribu gulden..."

Bahkan ketika akan berpisah, sampai menuruni tangga ekskalator-pun pembicaraan dengan wajah sumringah ini isinya cuma dollar dan gulden. Nampaknya seorang anggota komisi disana bertindak sebagai pemancing nara sumber (agak mirip Theo Sambuaga saat mudanya), namun diam-diam kamera wartawan Australia menyedot hampir semua isi pembicaraan.

Tentu saja pembicaraan tidak cuma seputar dollar dan gulden, tetapi dengan dipenggal-penggal, maka kepala berita cuma bantuan-dan-bantuan yang mengalir teramat deras..

Yang bikin Australia sewot, bantuan yang mengucur dari mereka malahan tidak disebutkan sama sekali. Seakan semuanya adalah cuma Amerika, Inggris, Belanda, Jerman...

Tayangan ini menggiring teori konspirasi, apalagi ada "pengamat teror"yang saya lupa namanya.. memberikan komentarnya - yang saya ingat Timsar Jubir salah satu tokoh peledakan Komando Jihad, juga ikut memberikan kesaksian asal muasal namaKomando Jihad.

Seperti teori yang beredar dihalayak. Pengamat politik yang tiba-tiba terkenal di tayangan ini mengatakan bahwa kalau seseorang di takuti dengan "Ancaman Teror" sampai ketakutan, lalu diberi obat penenang "Keadaan Aman Terkendali", lalu tak lama kemudian dibombardir ulang "Ada Teror Setiap Tahunnya...", dan balik "Aman terkendali" - Itu adalah cara ampuh bin cespleng untuk menguasai masa. Dan untuk Indonesia adalah jebolnya bantuan asing ke kocek.

Sayangnya, perhatian saya tidak bisa mengikuti tayangan sepenuhnya. Kadang iklan dimana-mana membosankan. Giliran kita pindahkan channel lain, eh pas acara utama mulai lagi.. Jadi agak terlambat dan tersendat mengikuti tayangannya.

Tidak heran kalau Indonesia rada gerah dengan kedatangan wartawan Australia dan mengusir mereka seperti yang dilakukan terhadap kelima awak TV - Seven Network, pada pertengahan September 06 . Sebab kendati tujuannya menyelamatkan bocah enam tahun bernaman Wah-Wah dari ritual kanibalisme sukunya di Papua, jangan-jangan jadinya melenceng mengompori peperangan suku Mimika lalu membuat judul yang sangat favorit seperti "Benarkah ada pihak ikut bermain dalam kerusuhan perang suku di Mimika." - cuma dugaan, lho sebab Australia, lihai kalau urusan begini..

Bicara soal perang suku...

Padahal kalau saja itu bukan tarian maut, rasanya cantik sekali melihat masa menari bergerak seperti zigzag dijalanan sambil meneriakkan suara-suara pembakar semangat perang, dengan panah berumbai bulu burung, Tapi serentak tahu bahwa tulang Kasuari dan ujung panah beracun yang diacungkan siap merenggut nyawa. Jadi sadar bahwa Batara Yamadipati ada di jalanan dengan angkatan perangnya.

***

Kita sering dipaku pendapat umum bahwa hanya pers barat yang selalu betul, jujur, dan tanpa syak wasangka. Memang disamping beberapa jurnalis memiliki kemampan menggondol hadial bergengsi sebagai Pulitzer Price, tak jarang pers barat juga melakukan karangan bebas
alias fiktip.

Contohnya...

Jason Blair pernah menurunkan tulisan ciamik mengenai wawancara dengan profesor Roger Groot, ahli hukum dari Universitas Washington. Ia melukiskan profesor tersebut sebagai "botak, dan nampak seperti gambaran pengacara dalam filem-filem Holywood"

Ternyata setelah membaca hasil wawancara, gantian profesor Groot mengaku tidak pernah bertemu dengan wartawan New York Times, tersebut.

Wawancara dilakukan melalui tilpun sehingga amat mengherankan bagaimana sampai seorang wartawan kawakan sekelas New York Times bisa "ngayawara" menciptakan cerita menurut versinya. Pasalnya profesor ini memiliki rambut yang tergolong bisa masuk audisi iklan rambut lebat.

Lho kok habis membuat kesalahan yang satu ini, Jason Blair membuat kesalahan lagi. Katanya ia mewawancarai Museum Tradisional Amerika dengan mengatakan bahwa kondisi keuangan Museum tersebut sudah kritis jauh hari sebelum kejadian 11 September 2001.

Terang saja artikel New York Times ini membuat gusar Salemo, kepala keuangan museum. Lalu ia melayangkan protes kepada harian terbesar Amerika tersebut. Dan bagai disengat kala jengking ketika mereka melakukan investigasi, ternyata, Blair tidak pernah mewawancarai
Salemo, dan keuangan museum tersebut selalu dalam keadaan meyakinkan. Rupanya dia hanya nguping sana-sini di bar, lalu menulis laporan seakan-akan ia yang kesana dengan mata kepala sendiri.

Sebetulnya beberapa email sudah masuk ke redaksi NYT agar Jason di singkirkan, karena dasarnya jago fiktip. Namun entah mengapa hal tersebut tidak dilakukan.

Paling tidak kita tahu bahwa jurnalis bule jugak manusia...

--
9/19/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com