Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 03, 2006

791- Teri nasi Medan van Krueng Raya

Siapa tidak pernah menikmati teri-nasi, ikan teri yang putih dengan ukuran sebesar nasi lonjong memang teman santap nasi yang luar biasa. Dijadikan peyek teri okey, gorengan teri ditaburkan dalam masakan dalam nasi goreng menjelma masakan dengan dominasi rasa teri sehingga benturan lidah dan gigi dengan benda seperti pasir, tapi bukan bahkan menimbulkan zenzazional tersendiri. Lalu teri bisa dimasak bersama duren asam (tempoyak), rasanya wow.

Kita bicara teri(nasi) Medan yang sudah kondang ke seantero Nusantara. Hanya yang tidak adil, tanah tumpah darah teri nasi sebetulnya adalah Krueng Raya di Propinsi Aceh. Di teluk inilah teri putih nan lembut seperti nasi itu dijaring, direbus, dijemur sebelum diangkut dengan truk untuk diperjual belikan di Banda Aceh, Medan, Jakarta, Bandung dengan nama baru "teri Medan."

Sebelum Tsunami, tak kurang 45 palung (bagan) disebar di teluk ini. Masing-masing bagan dilengkapi dengan jaring seluas 1 kilometer persegi. Namun sejak Tsunami, semua bagan ikut tersapu sehingga kerugian ditaksir Rp.9 miliar. Belum lagi kerusakan pada perahu penarik palung, pondok pengolahan teri nasi yang disebut "Jambo Rebus" - maka dari satu titik perekonomian di Aceh, hancur total. Krueng Raya menjadi Padang Raya kehancuran.

Panglima (Laot) Zakaria menuturkan, bahwa ketika air laut naik 1.600 warganya berlarian. Ada 1000 warga desa Meunasah Keudee selamat dengan menggendong anak mengungsi ke perbukitan landai yang memang berjajar di pinggir pantai. Sisanya yang terbawa tsunami umumnya karena melongo dan tak percaya bahwa air laut bisa naik setinggi itu. Lalu ingatan saya ke pantai Panjang Lampung. Anda yang kebetulan menyusuri pantai tersebut beberapa puluh tahun lalu, betapa bukit-bukit landai yang dulu membentengi Panjang dari sergapan tsunami (jika ada), semua di ledakkan, guna kepentingan segelintir manusia, atas nama pembangunan.

"Tuhan memberi kami waktu 20 menit untuk menyelamatkan diri sebelum air laut datang bergulung-gulung..."

Sedikit insiden terjadi ketika Aparat melarangnya kembali ke pantai. "Kami anak laut, macam mana disuruh ke gunung. Pokoknya kami balik ke pantai. Ditembak Brimob pun boleh..." ujar Panglaot Zakaria. Syukur insiden tak terjadi. Tentara dan polisi hanya menyaksikan kepulangan mereka sambil berpesan hati-hati. Kembali ke Malahayati kembali ke Krueng Raya, dan usaha teri nasi kembali berjaya. Memang tidak mudah.

Dulu pada hari baik, tak kurang Rp.10-15 juta bisa dibawa pulang. Sejak Tsunami tak lebih dari puluhan ribu rupiah. Namun mereka tetap bersyukur. Lumayan untuk memghibur. Setidaknya mereka memiliki pekerjaan. Siapa tahu sejak Tsunami, teri nasi Medan kembali ke nama tumpah darahnya Teri Krueng Raya, atau Teri Malahayati atau Teri Aceh, seperti juga trade mark yang diberikan pada kopi Aceh.

--
9/2/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Sumber: Sejarah Tumbuh di Kampung Kami: Mardiyah Chamim.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com