Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 12, 2006

801-Masakan Indo di rig Strali, bunyinya lain.

Fred, seorang juru masak andalan di rig saya memiliki hobbi bermain trompet. Sebelum lupa, Ocean Bounty adalah rig jenis Kolom (semisubmersible), yang saat ini bekerja untuk Santos, dengan kongsi dari Kufpec, dan Woodside di perairan Australia.

Biasanya sekitar jam 9 malam bule berambuk ikal pirang ini keluar dari persembunyiannya (kamar), dengan bercelana blacu putih dan berkaos oblong dia akan melakukan beberapa gerakan Yoga, menarik informasi dan energi dari alam semesta, memasukkannya kedalam tujuh roda chakra kehidupan dan mengendapkannya dalam relung tubuhnya.

Selesai dengan acara meditasi, ia akan berolah raga sekitar 15 menit lalu mengambil trompetnya dan mulai berlatih. Lagu yang dibawakan biasanya irama "dixie" - itu lho yang biasa dimainkan Ireng All Stars kalau menutup acara Berpacu Dalam Melodi. Kadang saya egal-egol menikmati alunan trompetnya yang riang. Romantis juga sih, ditengah deburan ombak Timor Timur, hanya diterangi bintang kadang "dua ekor ikan paus beneran." Juga belakangan ia latihan secara sembunyi di balik gudang diruang Gym kami, rupanya sekali waktu didamprat Driller asal Scotland Cyrill Legge lantaran suara terompet mengusik jam tidurnya. Seperti layaknya orang Australia, Fred sepertinya pernah belajar beberapa kata dalam bahasa. Maklum ia pernah di Balikpapan, kenangnya.

Lalu, dengan menukar sebuah Buku Tally dari BakerHughes Mudlogging mulailah saya melobinya demi kepentingan pribadi untuk dibuatkan nasi goreng dalam salah satu acara makan malam. Fred setuju, dan pada hari yang ditentukan, nasi goreng terhidang, tapi yang nggak nahanin, menu tertulis Fried Rice Singaporean.

Ini tentu kebetulan yang kesalahan. Lalu pada kesempatan lain saya minta dimasakkan (tentunya untuk semua orang di rig juga, saya hanya memberi usulan), Bakmi Goreng. Fred dengan sukses menghidangkan Bakmi goreng, tapi yang masih nggak nahanin (lagi) dia menamakannya Fried Noddle ala Malaysia. Begitu juga ketika saya minta sup Laksa. Dengan sigap dibuatkan sup berlabel "Soup Laksa ala Malaysia" - hanya ketika saya tanya mana seafoodnya, dia bilang agak kesulitan memperoleh seafood kecuali ikan pari pembunuh.

Nah, selang beberapa lama saya carikan masakan yang khas kita yaitu "pepes-ikan" - tentunya pepes dalam bahasa Australia sebagai "steam fish" - persoalannya, bagaimana dengan daun pisangnya? - Hakuna Matata - tidak ada masalah kata Fred dalam bahasa Indo-Australia.

Weleh kok betul, pepes terhidang dengan daging ikan laut yang tebal tanpa tulang, diberi potongan cabe merah. Pembungkusnya kertas timah grenjeng. Tapi.. lagi-lagi kecewa, ia menamakannya "Hot Thai Steam Fish" - sial bener.

Fred, apakah nama Indo sedemikian tidak populer dalam urusan masakan. Sampai-sampai kitab buku masakanmu tidak menyebut Indonesia sebagai tempat kuliner paling sip-maglesip diseantero jagat.

Lain kali saya akan bilang Nasi Sampah, ini urusan makanan yang karena banyak sayurannya ribet persis sampah dan populer di tanah Aceh.

Tunggu tanggal mainnya Fred...

Tuesday, September 05, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Die-Hard old mudlogger (kata bung Fariman WK)

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com