Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 17, 2006

806 - Masih punya banyak stock-kah kita akan pemuda seperti ini

Pernahkah anda mendengar nama Agil? selain bekas Mentri Agama Republik Indonesia, belum?, baik, saya beri bantuan pengingat nama kedua-nya, Daeng. Masih belum "kring", saya tambahkan usianya sekitar 22 tahun, mahasiswa Kedokteran Swasta di Jakarta.

Ah ia memang bukan siapa-siapa. Tapi tengoklah prestasinya.

Agil sedang santai menonton acara TV ketika Tsunami Aceh diberitakan. Ia bukan anggota LSM, bukan anggota Partai, bukan Paguyuban atau apa saja. Yang jelas hatinya tercekat "Mayat-mayat bergelimpangan, hati saya tercekat. Sedih ngeliatnya.."

Tanpa koordinasi, ia menyambar tas, menuju ATM terdekat untuk menarik beberapa juta tabungannya. Segera ia meluncur ke Bandara Cengkareng, tujuannya satu Banda Aceh yang digulung Tsunami. Ia sampai lupa mengabarkan kepergiannya kepada orang tuanya.

Semua serba tergesa, dan impulsif.

Sayang, penerbangan ke Banda Aceh tak bisa didapat. Dasar nekad, ia naik pesawat ke Batam dan berharap masuk Aceh melalui Polonia-Medan. Di Batam ia beli 100 kantong plastik besar yang ia perkirakan muat untuk jenazah. Mohon dicatat, yang ia beli adalah "trash bag" - bukan "body bag"

Selasa siang 28 Desember 2004, pemuda ini sampai di Bandara Iskandar Muda. Sendirian tanpa kerabat, dan yang jelas belum tahu "medan" - toh ia menyusuri kota Banda Aceh yang menjadi kota mati tanpa listrik, air bersih, dan yang penting makanan amat terbatas. Mencoba mencari alamat kerabat yang tinggal di Universitas Syiah Kuala. Ternyata bukan pekerjaan mudah, lantaran setiap jengkal tanah sudah disesaki mayat.

Lalu yang hidup nampak linglung.

Ketika Agil meminta bantuan kerumunan orang untuk mengubur mayat, "mereka enggan takut ketularan penyakit.." - Namun Agil yang mahasiswa kedokteran menjelaskan bahwa kalau mayat ini tidak segera dikebumikan, bahaya penyakit lebih besar akan datang.

Agil menjelaskan bahwa meminta partisipasi warga Aceh, pada saat seperti itu adalah perkara pelik. Tapi Agil-pun tahu bahwa mereka dalam keadaan emosi dan fisik yang tak pasti. Apalagi, berpuluh tahun inisiatip rakyat Aceh dibekap penguasa. Menolong sesama, silaturahmi,
ikatan persaudaraan semua sudah kedodoran.

Lima hari di Aceh, Agil merasa tenang. Arus bantuan dalam dan luar negeri berdatangan. Sang "pionir" - buyat (pemburu mayat) pulang kembali ke kampus, secara diam-diam.

Satu-satunya penghargaan yang ia rasakan sebagai prestasi adalah ketika ia berhasil mengajak warga lokal telibat dalam proses evakuasi dan penguburan mayat. Mengingat saat itu DPR sedang meributkan mengapa wakil presiden melangkah terlalu jauh melebihi presidennya, sementara LSM, relawan juga belum banyak yang bisa menjejakkan kakinya di Aceh.

Indonesia masih perlu banyak lagi pemuda macam Agil Daeng.

9/16/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg:+62811806549

3 comments:

agil daeng said...

Assalamualaikum Mas mimbar saputro..

Permisi.., saya Agil daeng, kebetulan hari ini saya sedang googling, kemaren adik saya nanya, ada berapa banyak Jumlah nama saya di google,

dan ternyata setelah saya "search" di google, saya melihat salah satu resultnya adalah link ini..

Saya merasa tulisan ini agak "berlebihan" karena masih banyak stock pemuda pemuda yang berbuat lebih banyak daripada apa yang saya lakukan di aceh sana.

Tapi yang membuat saya heran, mas mimbar bisa tau kisah perjalanan saya ke aceh, dari siapa ?

waktu ke aceh sana, saya memang bertemu dengan beberapa, dokter wartawan, pengungsi, warga aceh, kita sempet ngobrol dan minum kopi bareng bareng, nyari obat buat pengungsi, dan nyari kompor.., tapi seingat saya, mereka semua usianya antara 20-38-an tahun..

sedangkan Mas mimbar ini , setelah saya lihat profilnya, udah berumur 53 taun.

Apakah kita pernah jumpa ?
Saya ingin sekali kembali bertemu dengan kawan kawan yang pernah saya jumpai di Aceh, di mana saya jumpai banyak kenangan kenangan Yang mengesankan, mengenai persaudaraan, keikhlasan, dan hal hal menarik lainnya..

sebelumnya.., terima kasih ya mas mimbar..

Mimbar Bambang SAPUTRO said...

Mas Agil Daeng, pemuda yang belum pernah saya kenal, namun sangat berkesan. Anda tidak berlebihan, saya dapat cerita dari beberapa laporan LSM seperti AirPutih dsb. Itu sangatlah luar biasa, orang lain biasanya dengan misi tertentu. Dan orang yang melihat anda mereka bilang itulah yang diceritakan orang Aceh mengenai anda.
Maaf kalau membuat anda menjadi tidak enak hati. Kami masih butuh banyak orang seperti anda.

Anonymous said...

daku terharu! ndut daeng!

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com