806 - Masih punya banyak stock-kah kita akan pemuda seperti ini

Pernahkah anda mendengar nama Agil? selain bekas Mentri Agama Republik Indonesia, belum?, baik, saya beri bantuan pengingat nama kedua-nya, Daeng. Masih belum "kring", saya tambahkan usianya sekitar 22 tahun, mahasiswa Kedokteran Swasta di Jakarta.

Ah ia memang bukan siapa-siapa. Tapi tengoklah prestasinya.

Agil sedang santai menonton acara TV ketika Tsunami Aceh diberitakan. Ia bukan anggota LSM, bukan anggota Partai, bukan Paguyuban atau apa saja. Yang jelas hatinya tercekat "Mayat-mayat bergelimpangan, hati saya tercekat. Sedih ngeliatnya.."

Tanpa koordinasi, ia menyambar tas, menuju ATM terdekat untuk menarik beberapa juta tabungannya. Segera ia meluncur ke Bandara Cengkareng, tujuannya satu Banda Aceh yang digulung Tsunami. Ia sampai lupa mengabarkan kepergiannya kepada orang tuanya.

Semua serba tergesa, dan impulsif.

Sayang, penerbangan ke Banda Aceh tak bisa didapat. Dasar nekad, ia naik pesawat ke Batam dan berharap masuk Aceh melalui Polonia-Medan. Di Batam ia beli 100 kantong plastik besar yang ia perkirakan muat untuk jenazah. Mohon dicatat, yang ia beli adalah "trash bag" - bukan "body bag"

Selasa siang 28 Desember 2004, pemuda ini sampai di Bandara Iskandar Muda. Sendirian tanpa kerabat, dan yang jelas belum tahu "medan" - toh ia menyusuri kota Banda Aceh yang menjadi kota mati tanpa listrik, air bersih, dan yang penting makanan amat terbatas. Mencoba mencari alamat kerabat yang tinggal di Universitas Syiah Kuala. Ternyata bukan pekerjaan mudah, lantaran setiap jengkal tanah sudah disesaki mayat.

Lalu yang hidup nampak linglung.

Ketika Agil meminta bantuan kerumunan orang untuk mengubur mayat, "mereka enggan takut ketularan penyakit.." - Namun Agil yang mahasiswa kedokteran menjelaskan bahwa kalau mayat ini tidak segera dikebumikan, bahaya penyakit lebih besar akan datang.

Agil menjelaskan bahwa meminta partisipasi warga Aceh, pada saat seperti itu adalah perkara pelik. Tapi Agil-pun tahu bahwa mereka dalam keadaan emosi dan fisik yang tak pasti. Apalagi, berpuluh tahun inisiatip rakyat Aceh dibekap penguasa. Menolong sesama, silaturahmi,
ikatan persaudaraan semua sudah kedodoran.

Lima hari di Aceh, Agil merasa tenang. Arus bantuan dalam dan luar negeri berdatangan. Sang "pionir" - buyat (pemburu mayat) pulang kembali ke kampus, secara diam-diam.

Satu-satunya penghargaan yang ia rasakan sebagai prestasi adalah ketika ia berhasil mengajak warga lokal telibat dalam proses evakuasi dan penguburan mayat. Mengingat saat itu DPR sedang meributkan mengapa wakil presiden melangkah terlalu jauh melebihi presidennya, sementara LSM, relawan juga belum banyak yang bisa menjejakkan kakinya di Aceh.

Indonesia masih perlu banyak lagi pemuda macam Agil Daeng.

9/16/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg:+62811806549

3 comments

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe