Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 13, 2006

804-Menghidupkan kembali beras Dwiwarna

Bisa jadi asal muasal nenek moyang kita memilih bendera warna merah putih, berasal dari padi purba yang sekali waktu pernah menjadi produk unggulan bangsa ini. Ini beras ajaib, beras biasa umumnya hanya putih, namun beras yang bibitnya ditemukan direruntuhan candi Sleman ini bisa menghasilkan beras separuh merah, separuh putih persis dengan bendera kita.

Pada Ahad 13 Agustus 2006 lalu, di alun-alun utara, Yogya, Aji penemu padi purba itu membagikan bibit padi dwiwarna kepada 12 petani, mewakili 12 wilayah Indonesia. Tidak banyak, setiap orang mendapat tujuh bulir.

Kisah penemuan padi RI-1 demikian mereka menamakannya, bermula ketika penduduk menemukan bulir gabah purba. Padi yang berjumlah 160 bulir ini diberikan kepada Ajikusumo, sarjana Filsafat UGM. Lalu Aji mengajak temannya bersama temannya Hartanto ahli budidaya pangan Universitas Muhamadiyah, menyortir bulir tersebut. Bagaimana tidak deg-degan, usia padi ini sudah sangat tua, konon berasal dari abad ke 7.

Alhamdulilah 120 butir nampaknya bisa dihidupkan kembali. Satu kelompok disemaikan di atas kapas yang diberi hormon perumbuhan, sedangkan kelompok kedua di dibungkus gabah padi Rojolele.

Debaran keduanya makin keras ketika 88 butir berkecambah. Namun kegembiraan hampir pupus lantaran satu persatu kecambah tadi mati. Untung tujuh bibit berhasil bertahan sampai panen. Tiga bibit dari semaian sekam, empat yang dibiarkan bugil diatas kapas.

Sementara seperti biasanya para ahli berdebat asal padi, sebab biasanya mereka menemukan kacang hijau, gabah dan jagung yang sudah kisut. Sementara padi dwiwarna masih gabah masih segar padahal terkubur berabad-abad. Jelas dengan daya tahan yang "die hard" - ini beras yang ampuh kualitetnya. Apalagi gempa Eyang Merapi pernah mengamuk sejadi-jadinya di kerajaan Mataram, termasuk mengubur candi dengan cairan silika amat panas. Kok nggak ngaruh?.

Aji hanya enteng berteori. Bisa jadi wadah batu yang dibuat bersekat tersebut kedap udara. Jadi padi bak terawetkan secara alam.

Mengenai lempengan emas bermantra? jangan kaget, pasti sudah dijarah para penemunya.

Tapi yang baku, Padi RI-1 mestinya pernah berjaya di Yogya, terbukti digunakan untuk ubo rampe sesembahan. Rujukan umur juga sederhana. Candi di Sleman yang tertua dibangun pada abad ke 7, sementara Prambanan abad ke 9. Jadi beras dwiwarna berasal dari 12-14 abad lalu ketika Kerajaan Mataram sedang mencorong.

Lantas bagaimana padi Yogya ini bisa ditemukan di bawah Candi?

Sebelum candi didirikan, warga diminta mengumpulkan ubo-rampe berupa pipilan jagung dan sorgum, biji kopi, kacang hijau. Dan dari sawah dipilihkan padi kelas satu yaitu beras MerahPutih. Selain itu tentunya logam lempeng emas yang nantinya akan ditulisi mantra-mantra, sementara tulang belulang ternak dibakar. Ubo rampe ini disebut pripih.

Pripih pertama dimasukkan kotak batu bersekat untuk ditanam dibawah bangunan utama. Pripih kedua terbuat dari gerabah seperti untuk mengubur ari-ari. Gerabah ini akan ditanam di sudut utara, selatan, barat dan timur. Pendeta biasanya meramal mantera ditengah lokasi yang akan dibuat candi lalu menanamkan batu pertama yang berisi pripih. Untuk menentukan arah barat dan timur, maka sebuah tonggak ditancapkan ditengah arena, dan arah barat serta timur ditentukan dari bayang-bayang tonggak saat matahari terbit dan tenggelam. Dari keempat mata angin ini ditarik segi empat, dan batu penanda ditanam. Lalu pembangunan Candi dimulai.

Jadi kalau anda membangun rumah lantas pak tukang minta ijin membuat sesajen, jangan buru-buru dilaknat, siapa tahu padi yang anda bungkus dikemudian hari menjadi temuan anak cucu kelak. Kadang nenek moyang kita melakukan sesuatu "ritual" atau kebiasaan yang belum kita mengerti maksudnya.

--
9/13/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Sementara pemerintah sibuk merancang untuk mengimpor beras, lalu disambar oleh politikus lain yang lebih pintar-pintar berdebat. Sambil menunggu Batari Sri membangunkan anak buahnya bernama padi YOGYA Kembali alias padi Dwiwarna alias RI-1 bisa dijual dipasaran maka negeri nun jauh disana, kondang dengan satu milyar penduduk, di wilayah India Selatan, Banglore, sudah beribu tahun orang mengembangkan beras khusus penderita diabetes dan bagus untuk anti keropos tulang.


  • BERAS PONNI. Orang menamakannya beras Herbal Ponni dari veritas mani chamba yang dikenal memiliki karbohidrat 70% lebih rendah dari beras normal, dimasak lebih irit karena satu takar beras harus ditanak dengan 3 takar air lantaran daya memuainya tinggi. Pangkajian lain mengatakan bahwa lantaran beras ini cuma hidup ditanah berkapur, maka tidak heran kadar kalsiumnya lebih tinggi sehingga memperkaya kadar kalsium tulang dan mengulur waktu keropos tulang. Orang memang agak melupakan beras Mani Chamba ini karena dianggap kurang praktis. Pertama adalah umur siap panen cukup mulur yaitu sekitar 7 bulan, sudah itu masih harus disimpan di lumbung selama 2 tahun agar khasiatnya lebih joss. Mungkin ini yang membuat orang beralih ke beras yang lebih singkat usia, pulen. Namun bagi penderita kencing-madu tapi masih "baru kenyang kalau makan nasi" dan yang kuatir akan keropos tulang, biar tetap bisa main badminton bersama Imelda, maka pilihan beras Mani Chamba boleh dicoba. Indonesia menurunkan beras sama dengan kelas Taj Mahal dan mahal itu dengan kode IR-36, memiliki indek glikemik (glukosa) rendah, cuma mental ini harus diatur bahwa bagaimanapun beras ini beras "herbal" sehingga soal rasa harus di nomor duakan.
  • BERAS EMAS. Kaya akan Vitamin A. Sejatinya tidak ada dibuku manapun nasi mengandung Vit A sehingga ini merupakan rekayasa genetika.
  • BERAS WANGI. Orang berlomba-lomba meningkatkan kadar aromatiknya sehingga merangsang selera makan.
  • BERAS "MEDAN" kata orang pasar. Beras ini paling gres diperkenalkan di Indonesia, sangat kaya akan vitamin B. Bisa jadi lama-lama namanya Beras Medan, karena ada nilai jualnya ketimbang menyebut dari Aek Sibundong di Zumatera Utara Zuga.
  • BERAS BESI - Yang ini kadar besinya nggegirisi, seang disempurnakan di Subang hasil kerjasama dengan Universitas Tokyo
  • BERAS ANTI HEPATITIS B, juga hasil rekayasa Universitas Tokyo, menghasilkan antibodi mencegah hepatitis B

1 comment:

farahPutri said...

Fotonya ada gak ya? *penasaran*

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com