Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

January 19, 2007

857 Spliteran Radio

Cita-cita saya untuk mendapatkan saluran tilpun dari Telkom nampaknya harus dipendam dalam-dalam lantaran penyedia tilpun saluran tembaga (tradisionil) memang sudah tidak sreg menyediakan sambungan baru bagi daerah sekitar Pondok Gede. Jadi kecewa ketika melihat mereka malahan menyabuti tiang tilpun disekitar daerah kami. Apa mau dikata, untuk keperluan sehari-hari kami bergantung pada CDMA .Hasil beberapa percobaan terhadap beberapa CDMA, sang penyedia yangmengaku Jagoan memang masih menunjukkan kelebihan. Sekalipun sifatnya handphone tapi tarip tradisional. Saya keburu kesemsem dengan Jagoan sebab kalau berada di Australia saya menghubungi rumah selalu terkena tarif tilpun murah sedangkan kalau ke HPGSM, mahalnya Ya-Ampun.

Saya memang mengesampingkan Flexi sebab pernah sekali telat mengisi pulsa jangan kaget kalau anda mencoba menilpun nomor anda sendiri sudah ada orang lain yang berhalo.

Soal internet. Sambungan internet dengan sang Jagoan, mula-mula berjalan "mayan" dengan biaya 200 ribu perbulan sebesar 1 Gigabyte. Sekarang malah dilorotkan menjadi 150 ribu. Akibatnya akses internet mulai padat merayap bak keong.

ADA IMING-IMING WIRELESS

Lalu bagaimana saya tidak ngeces ketika di jalan Jatibening Bekasi muncul spanduk iming-iming pelayanan internet wireless 200 ribu tanpa batas dengan kecepatan 512kb. Sudah itu janjinya tidak perlu beli alat sama sekali. Pokoknya daftar langsung connect. Jadi kepikiran saat menyoba Wireless-nya StarHub di Singapore, 24MB data saya pulung dalam hitungan detik.

Kebetulan cabang mereka ada di jalan Jatibening alias jalan Ratna. Mungkin masih terlalu pagi 08:00 karena hanya ada seorang resepsionis yang menjawab pertanyaan saya sambil matanya tak lepas melotot layar komputer seserius petaruh melihat kuda pacuan favoritnya mendekati garis finish. Ketika sebentar-sebentar sang PC mengeluarkan suara "cring" - artinya ia sedang ber MSN-ria sambil multi tasking menghadapi pelanggan.

Setelah didedes (digali lebih dalam), Wo alah, cara berbahasa yang dianjurkan oleh kalangan Pendidikan yaitu baik dan benar, sud ah dipraktekkan disini. Pasalnya memang betul tidak perlu beli alat, tapi ada sedikit biaya pemasangan Antene sebesar 1 juta rupiah. Setali tiga wang dengan ungkapan tidak ada uang Masuk tetapi ada uang sumbangan pendidikan.

SIGNAL TV KABEL KENA SPLITERAN

Kadung datang, apalagi anak bungsu bernafsu sekali sampai rela merogoh pundinya untuk "ongkos pasang" - maka saya mendaftarkan diri dan Senin Pagi 15 Januari dua teknisi perusahaan yang kantornya terbilang di Mega Kuningan, sudah berada diatas wuwungan rumah. Saya lihat mereka tembak sana-tembak sini mengarahkan antene untuk mencari signal.

Saat mereka bekerja, lho kok layar Indovision (disini antene terestrial parah abiz), mulai berulah bak VCD bajakan yang kegaret (gores) paku. Suara cempreng terputus-putus dengan gambar terpatah patah mulai muncul. Rupanya gelombang radio wireless memecah signal Indovision.

Kalau sampai gara-gara Internet, siaran Cincin, Wulan dan sinetron bajakan-bajakan terganggu. Saya bakalan runyam dengan para Kitchen Kabinet. Dulu pakai antene biasa. Gambarnya pating simpang siur tetap saja dipelototi. Sekarang maunya yang pakai parabola.

Kembali ke Laptop para teknisi.

Setelah berkutat selama dua jam. Mereka turun dengan wajah merah padam, terkena sengatan matahari. "Gagal Pak, tidak dapat Signal. Banyak gangguan pohon.."

Padahal jarak stasiun pemancar mereka ke TKP jalan Pendidikan73 cuma 1,8 kilometer. Masih masuk jarak jangkau mereka yang 3,5 kilometer. .

Akhirnya mereka pulang. Sementara saya merenung entah berapa genteng pecah diinjak mereka. Tapi senang, siaran TV tidak terganggu.

***

Lalu ingat kepada sebuah buletin di Offshore. Sebuah heli Super Puma beberapa saat akan mendarat ketika tiba-tiba empat layar monitor yang disebut Integrated Flying Display mendadak "blank" - jelas masalah serius dalam penerbangan sehingga harus dicari tahu penyebabnya. Hasil investigasi menemukan fakta bahwa seorang penumpang heli saat itu sudah menghidupkan Handphonenya bersamaan dengan landingnya Heli. Rupanya signal HP mengganggu sistem penerbangan Super Puma.

Lain Puma lain Sikorsky. Mereka mendapati adanya peringatan kebakaran dalam pesawat heli yang ternyata disebabkan sebuah handphone dalam bagasi "lupa" dimatikan dan mencoba mencari stasiun.

Sejak itu, penerbangan offshore ultra-melarang penumpang mengantongi hp kedalam pesawat. HP ultra-mutlak harus dimatikan, disaksikan oleh para security, disimpan dalam kantong tersendiri. Dan dikirimkan secara terpisah.

Mumpung masih hangat peristiwa Adam Air. Mungkin kita sering menyaksikan betapa penumpang pesawat kita kalau disuruh mematikan HP dalam pesawat malahan balik melotot. Atau sudah saatnya para pabrik handphone memberikan peringatan : Jangan menilpun saat berkendaraan, jangan menghidupkan HP saat berada dalam pesawat.

Pakar telematika Roy Suryo mengaku punya potret pramugari menilpun saat pesawat lepas landas. Tapi kita mungkin pernah lihat ada pesawat lepas landas, lalu didarat seorang pengantar ayu melambaikan tangannya sambil berbicara di HP dengan (mungkin) kekasihnya yang didalam pesawat. Memang tidak terjadi drama, mungkin itulah alasan kita "ngeles" dengan berdalih "orang itu ber SMS dalam pesawat kok aman-aman saja...

Dengan nyawa kok coba-coba...


--
1/17/2007
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com