Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

January 22, 2007

859 - Kutu musim panas

Saya lihat para pesawat Garuda agak sepi terbukti didepan saya satu deretan kosong, padahal Garuda sudah mulai mengubah citra, ramah, dan menempa diri di teknologi informasi seperti bermain di Website, maksudnya anda bisa mengetahui status booking anda di website asal tahu Kode Booking anda. Lalu ingat beberapa tahun lalu di Pekanbaru saya pernah menanyakan soal tiket murah plus adegan dan pengalaman horror yang disuguhkan penerbangan lain. Pihak Garuda hanya menjawab "kita tidak bermain di keselamatan pak!" - waktu cepat sekali melintas. Sepertinya pihak Garuda baru bicara sepuluh hari lalu.

Beberapa saat menjelang mendarat ke Perth, Australia Barat. Pramugari Garuda yang bertugas sejak dari Jakarta, menerangkan melalui pengeras suara bahwa jam sekarang menunjukkan pukul kosong satu dinihari waktu Indonesia Barat, atau pukul kosong dua pagi waktu Perth. Baru saja melahap roti Srikaya, yang dihidangkan dengan senyuman manis pramugari disertai kata-kata "komplimen dari Garuda" saya dengar pengumuman yang sama kali ini disampaikan Pilot Garuda.

Penumpang Garuda yang sebagian bule Australia tidak protes padahal mereka mahfum tidak selamanya perbedaan waktu Australia Barat dengan Indonesia Barat selalu 1 jam. Pada saat tertentu seperti musim Panas perbedaan waktu molor dari satu jam menjadi dua jam terhadap Indonesia Barat sehingga seharusnya mereka mengatakan pukul kosong tiga dinihari di Perth.

Sejak 2 Desember 2006 sampai Awal Maret 2007, Australia mengenakan sistem DST dimana jarum jam dimajukan 60menit lebih awal. Kalau semula jam 6 pagi, diganti menjadi jam 7 pagi.

Tapi mau bagaimana lagi. Memang di Indonesia kita tidak mengenal istilah DST (Day Light Saving), kecuali menggerutu, sudah "azan me(pakai e) grib udah nyampe, matahari masih moncer, napa yah."

Lagian mengapa direpotkan urusan lansiran waktu, negara kita bukan, sistem kita juga jauh....

Saya sempat digigit kutu DST ini. Perjanjiannya jam 02 dinihari pada 2 Desember 2006, semua jam di Perth dan sekitarnya akan dimajukan. Tetapi yang terjadi baru jam 20.00 mereka sudah tidak sabaran memutar jarum jam ke jam 21:00, tidak sampai 5 detik, jam sudah ganti rupa.

Yang tidak dipikirkan adalah ketika saya bangun "normal" jam 11 malam untuk ikut rapat tengah malam (kurang sedikit) yaitu mulai pukul 11:30 malam thenk!, saat saya datang suasana ruang masih sepi-sepi. Celingukan sana sini seperti "kethek ketulup" - kera kena sumpit beracun ipoh orang Dayak Punan, lalu melihat jam dinding (yang tertawa) ternyata saya ketinggalan. Bahkan kantinpun sudah mulai kukut-kukut - tutup. Akhirnya malam menjelang pagi terpaksa puasa. Sial bener.

Itu baru soal rapat yang terlambat. Lalu bagaimana jam pada komputer kami yang sedang asyiknya melakukan tugasnya terus menerus membaca dan merekam data pengeboran lepas pantai secara realtime. Niat hati sih, mencari waktu yang pas untuk mengubah jam yang teronggok di sudut kanan bawah layar monitor. Tapi celakanya, data realtime yang kami kirim dari rig menuju Perth dan Sydney harus berselisihan dengan komputer di Perth yang sudah menggunakan jam yang baru. Sampai disini, kutu komputer mulai menunjukkan tanda keganasannya. Beberapa aliran data mulai stop, bahkan rekaman menunjukkan ada data hilang selama 1 jam. Celaka dua belas.

Terpaksa kami harus lembur semalaman menyoba mendapatkan kembali data yang sempat tidak terekam. Untung saja rekaman "backup" ada karena dibuat secara otomatis.

Bulan Maret 2007 mendatang, DST akan melakukan peyesuaian balik, yaitu waktu diundurkan satu jam lagi. Terus terang saya masih trauma dengan kutu DST. Paling cara mematahkan serangannya dengan membackup semua data menjelang pergantian waktu tersebut.

Kembali ke Laptop.

Saya pikir Pramugari dan Pilot Garuda yang menerbangkan saya dari Jakarta ke Perth pada 17 Januari 2007, belum pernah ketanggor-ketemu kutu DST (Day Light Saving Time), atau kejadian ini hanya rekaan saya saja yang terpengaruh dongeng kutu2000, lalu mengembangkan fantasi ke kutu DST. Tapi kalau anda hendak terbang di Perth, lalu menggunakan info yang diberikan mbak Pramugari GA730 tadi, bisa-bisa pesawat sudah lepas landas sejam lalu, kita baru bayar taxi di Airport Perth.

Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com