Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 13, 2007

Hanya gara-gara sekedar bertanya

Dia mirip tokoh iklan rokok yang berotot liat, namun lebih gemar mengadu napas dengan harimau dan mengelus bulu elang.

Bedanya, Santanu adalah Raja yang memiliki tanah Kuru. Kaya raya, cuma masih jomblo sampai sampai para peserta senam sekaligus arisan di RT wayang bergosip, "jangan-jangan ada kabel massa aki yang nempel di tempat lain.."

Begitu jumat sore menunjukkan pukul lima "theng" - prabu Santanu sign out dari laptopnya dan langsung membawa peralatan berburunya, sebuah olahraga yang dia teramat mahir memainkannya.

Cuma herannya, hutan seperti kawasan remang-remang mendapat bocoran ada "garukan", semua penghuni bisa sepi "nyenyet" sehingga Santanu bertanya kepada asprinya, apakah pembalakan liar juga sampai dinegaranya sampai binatang pada habis.

Belum sempat menjawab pertanyaan sang raja, seketika hutan diliputi angin puting beliung dan halimun bergulung. Bukan itu saja, rajapun terpisah dari rombongannya. Para pengawal pribadi yang disumpah akan menelan anak panah yang dilepaskan kearah Rajanya terancam bahaya, malahan sudah lama tiarap ketakutan.

Ketika badai reda, celakanya ia seperti berada ditempat yang asing, dan herannya ada seorang wanita cantik berdiri didekatnya. Berkemben mirip tanktop generasi awal. Maka mulailah Santanu menebar siasat. Dari mulai menanyakan arah ke kerajaan, sampai akhirnya tukar menukar informasi pribadi. Akhirnya kesempatan menembak datang juga "Dik, maukah engkau menjadi ibu dari anak-anakku..."

Kok ya "motherboard" sang perempuan hutan ini tersedia „slot“ yang tidak bakalan konflik dengan "device" yang lainnya. Cuma syaratnya aneh. "Jangan tanyakan asal beta, sekalipun kepada rumput yang bergoyang, kedua, kalau memiliki putra atau putri, mau dijadikan hijau atau hitam adalah urusan ibu yang melahirkan dan hal ini pantang untuk ditanyakan....“

Anda sudah bisa menebak, cerita kalau pakai „jangan makan ini jangan minum itu,“ buntutnya pasti akan dilanggar.

Kembali ke Tanktop.

Kelihatannya Santanu sudah mabuk kepayang melihat "batuk kelimis" sang putri, permintaan berbulu „ngayawara“ alias aneh-aneh ini langsung di setujui. Padahal banyak perempuan dengan casing GSM, tetapi dalamnya CDMA. Boros baterei, feature terbatas. Putripun dibawa ke Istana untuk menikah.

Singkat cerita kehidupan asmara kedua pasangan memang luar biasa. Saat malam pertama, kemampuan lajang Sentanu yang kalau diibaratkan komputer mula-mula terbatuk-batuk pada kecepatan transfer sembilan koma enam ka be pe es (KBPS), tetapi setelah diberi akselerator oleh sang Dewi, makin lama kemampuan olah asmaranya meningkat menjadi 56 KBPS dan dalam seminggu menembus kecepatan broadband dan tidak pernah DC (ngedrop). Juga Sentanu yang mabuk kepayang, masih belum sadar bahwa sang Dewi ini sepertinya memiliki Operating Sistem berbeda platform.

Lantaran sering terjadi “hubungan pendek" tapi mesra, sang istripun mulai menunjukkan gejala hamil.

Saat anak pertama dilahirkan, baru saja Sentanu membuka manual DigiCam yang dibelinya tadi siang untuk mengabadikan jabang bayi, jebul pada malam hari sang istri mengendap-endap jalan belakang istana sambil membopong bayinya. Perbuatan ini diikuti oleh Sentanu yang memang piawai mengendap mangsa lalu hampir ia menjerit saat melihat bayi dimasukkan kedalam sungai, tanpa kotak seperti dalam cerita kuno.

Kelahiran kedua, ketiga sampai ke tujuh istri yang luar biasa subur ini selalu melakukan ritual yang sama. Bayi yang dilahirkannya selalu di larung ke sungai Gangga.

Akhirnya pada suatu malam, Sentanu kawatir, kalau begini terus kapan ia memiliki keturunan sementara usia makin merambat naik. Surga saja katanya sampai lapis ke tujuh, bagaimana dengan anak ke delapan, apa mau dimusnahkan juga. Belum pertanyaan para tetangga mengapa tidak pernah ada acara ulang tahun di kerajaan?. Tim paduan suara kerajaan sudah latihan lagu "Panjang Umurnya dan Potong Kuenya," namun belum kebagian order.

Lalu ia beranikan diri bertanya dengan didahului “maap ya dik, bukan tidak percaya, tetapi maap ya..” persis Sinetron Bajuri..

“Kanda lupa janji kita," antara sedih dan gembira. Gembira karena berkumpul dengan darah murni, sedih karena harus meninggalkan keluarga Muggle.

“Kanda mengerti tetapi kalau mengorbankan nyawa anak sampai tujuh orang darah dagingmu sendiri, bisa-bisa saya dianggap mengawini KM Senapati,” kata suami mencoba membela diri.

“Ketahuilah, alam saya memang sepintas kejam, membuat lindu, membakar hutan, membalikkan bumi, tetapi inilah rahasianya...”

“Hamba adalah Dewi Gangga, satu saat aku bertemu sekelompok para penghuni kayangan sedang bermesu diri melakukan meditasi. Demikian hebatnya meditasi mereka untuk mencapai kehidupan kekal, sampai menimbulkan pusaran angin. Dan celakanya angin pusaran ini sempat menyibakkan pakaian sehingga mempertontonkan betis hamba.

Nampaknya ada seorang kesatria yang terganggu dan tak berkedip memandang tubuhku sampai meditasinya terganggu karena ia mencapai klimak hanya dengan melihat saya dari kejauhan.”

Saya lalu diusir dari kayangan menjalani hukuman akibat perbuatanku. Kelak kalau sampai dinikahi seorang, lalu sampai satu saat orang tersebut bertanya asal muasal hamba, maka saat itulah saya bisa kembali ke kayangan. Tapi tugas lain yang harus kujalani adalah membantu orang dalam kesusahan.

Di dunia hamba bertemu delapan wasu (setengah dewa setengah manusia) yang juga menjadi narapidana dengan di buang kedunia lantaran mereka berani mencuri lembu keramat milik seorang petapa sakti. Lembu memang dikembalikan karena hanya ingin diperah susunya, namun petapa sakti Wasistha yang pemberang sudah keburu marah dan mengusir mereka ke dunia. Syarat kembali ke kayangan kalau mereka roh mereka menitis ke tubuh bayi yang dilahirkan oleh seorang dewi. Caranya dengan mempersatukan mereka di aliran sungai Gangga.

Kenapa air yang dipilih sebab Dewi Gangga adalah peri air.

Ketujuh wastu sudah berada dikayangan masing-masing, melalui rahim hamba, namun yang kedelapan, adalah sang pemimpinnya yang paling cerdas dan sakti, dan paling lama dihukum tanpa PK apalagi remisi. Pasalnya sebab dialah yang memprovokasi teman-temannya agar mencuri. Namun, gara-gara pertanyaan suamiku, ia urung kembali ke kayangan.

Pelan wadag Dewi Gangga mulai menipis, dan disertai angin putting beliung ia melesat keangkasa sambil membawa tangis. Namun sebelum berpamitan ia meminta agar anaknya kelak diberi nama GanggaData atau Bhisma.

Catatan...
Dalam cerita pewayangan versi Indonesia, GanggaData kelak bernama “Bhisma” seorang selebat, manusia setengah dewa yang tidak bisa mati oleh senjata apapun, kecuali…. (bersambung)


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com