Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

September 22, 2007

Brondong Jagung

Ada yang berubah sebuah pemandangan di kantin rig kami. Bukan lantaran bulan Puasa. Tumpukan popcorn berlabel "rasa butter" buatan "Paman Toby" sudah lenyap di meja. Padahal biasanya setumpuk besar tersedia di sana. Satu bungkus isinya 100 gram.

Malam-malam habis kerja sambil menonton TV lalu menggembol sebungkus popcorn yang sudah membengkak sepuluh kali lipat, apalagi ditemani es krim atau menyeruput Coca Cola dingin, weleh syahdotnya. Bahkan biji jagung yang bantet-pun tetap saya kunyah rasanya lebih melawan sekalian uji gigi.

Ternyata brondong rasa mentega (butter), sudah mulai ditarik dari peredaran, lantaran beberapa orang melaporkan bahwa bahan buatan diacetyl yang mampu menerbitkan aroma butter, ditengarai penyebab gangguan pernafasan. Daripada urusan dengan pengadilan, maka pihak catering buru-buru menarik produknya. Saya sudah mendekati Ross, sang kapitan katering.

Untuk saya saja deh, saya makan sendiri, koleksi pribadi, resiko pribadi.

Dia keukeuh bilang "no way" sudah dibuang. Duh Gusti.

Oven Microwave oven rig kami ini mestinya sudah dipilih bukan abal-abal.

Tetapi tak urung bolak balik diganti lantaran para pemakai Microwave seperti di rumahnya sendiri. Akibatnya banyak popcorn yang hangus dan akhirnya merusak peralatan. Kalau tak salah selama tiga tahun berada di rig sana, saya melihat ada empat kali mereka gonta ganti microwave.

Akibatnya sekarang ditulis besar-besar - setel mesin hanya di nomor delapan maksudnya dua menit saja, buka plastik pembungkus popcorn, lalu bentangkan popcorn. Jangan meninggalkan oven saat membakar popcorn.

Lalu ada petunjuk, kalau suara rentetan sudah melemah berarti brondong sudah selesai dimasak. Jangan buru-buru dibuka sebab masih ada uap panas dikandung dalam bungkusan tersebut. Bahkan bungkusnyapun ada 3 hari di tempat sampah diruang baca masih menerbitkan aroma segar, manis.

Sejak itu, kasus brondong gosong menjadi berkurang. Cuma saya kehilangan "rasa butter."

Jaman saya ileran (ingusan), penjual brondong menggunakan kompor minyak tekan, lalu brondong yang meledak berjumpalitan dikurung pakai sangkar kawat kasa. Pemandangan dari biji jagung kecil menjadi mekar dengan aroma sangit yang khas, sudah merupakan hiburan tersendiri sampai ngeces.

Pletak pletak..

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

1 comment:

The Haryanto's said...

dongeng yang menarik, saya baca dongeng2 yang lainnya juga lho bukan yang di topik ini saja.
Selamat bekerja bung, semoga terus sukses.

salam
Eko Haryanto - Perth

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com