Dessertarian

Pradep sehari-hari berprofesi sebagai "dokter lumpur" pada rig pengeboran ini termasuk pemangsa sayuran sedari kecil. Maklum didesa asalnya di Bombay mereka dilarang menyantap daging mahluk hidup. Namun susu dan telur diijinkan sebagai pengganti pasokan protein. Yang tidak nahanin, kadang dia kecomelan, "protein bisa diperoleh tanpa daging" - yang biasanya saya jawab enteng kalau makan protein dari tumbuhan saya cepat lapar. sementara susu kurang hopeng dengan perut saya.

Tanpa disangka di bawah tenda pada ketinggian 2600 meter di hutan liwang-liwung, Papua Niugini, dengan angin dan halimun dingin mengiris tulang, saya malahan di bombardir debat beliung soal pro dan kontra vegetarian.

Kecomelan yang lain dia heran melihat saya sehari-hari memakan talas, seperti cara makan sebagian orang Papua Niugini. "Heran kamu tidak makan nasi atau roti kalau sarapan." Komentarnya.

Teman dari India memang sangat taat kalau sudah bicara mengenai makanan. Morali, misalnya, dengan lawe (benang) putih menyilang dari pundak kanan ke pinggang kiri. Setiap jam makan, dia hanya muncul sejenak di kantin. Wajahnya kusut seperti drill kurang dibesut. Kalau sudah begitu ia menuju tempat penyimpanan es krim sebab jenis itulah yang disantapnya sehari-hari dengan kacang-kacangan.

Sekali tempo saya tanya bukankan tersedia banyak sayuran yang bisa dimakan tanpa takut ada berbau daging. Alasan Morali sederhana. Ia kurang suka sayuran Australia alasannya tidak se nikmat sayur dari Bombay. Mungkin ia kangen negerinya atau sekedar menunjukkan kepatriotannya.

Akhirnya pemuda santun ini saya panggil "Icecreamtarian" pasalnya menjelang tidur, ia menggembol eskrim dalam gelas styrofom.

Ada lagi, Sandip. Dengan garpunya, ia cungkili setiap satu mili persegi piring mencari daging tersembunyi diantara sayuran.

Maka setiap makan selalu ada sisa cungkilan daging atau sayur yang tertuduh sebagai daging, berserakan dipiringnya. Kalau saja di sekitarnya tersedia suryokonto (kaca pembesar), dia tak akan segan mencari biang kerok bernama daging.

Namun dengan garam dapur, dia malahan terlalu intim. Bayangkan teh hangat, alih-alih diberi gula, ia malahan menuangkan garam. Tidak terkecuali makan daun salada, tomat, kubis, wortel. Sarapan paginya, yoghurt masam juga tak luput dari kecrotan garam. Maka Sandip saya panggil Saltarian.

Rupanya dia menunggu saat untuk membalas. Saat makan malam saya hanya mengambil Kue Pie, langsung dia menyerbu "dessertarian.." - padahal rencanaku setelah melahap kue lezat ini baru menyendok nasi dan daging.

1 comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe