Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

August 11, 2007

Berkenalan dengan (Mungkin) Mahluk Negeri Asing.. Cacing Terbang

Berkenalan dengan (Mungkin) Mahluk Negeri Asing.. Cacing Terbang
Sabtu, 11-08-2007 08:48:42 oleh: Mimbar Saputro Kanal: Gaya Hidup

TKP - sebuah jalan di kota Serang Banten. Usia saya sekitar 4,5 tahun masih TK. Sepulang sekolah saya menyempatkan diri bermain di halaman depan rumah. Favorit bermain adalah dibawah beringin rindang sambil menikmati keteduhan dan berharap bisa menikmati mengalirnya angin. Maklum udara kemarau terasa menyengat.

Maka ketika tiba-tiba ada angin berputar bak mini puting beliung sambil mengangkat daun-daun kering beterbangan keatas bersama debu halaman, bagi anak kecil pemandangan tak sehat ini justru menimbulkan kegembiraan tersendiri.

Hanya ternyata saya tidak sendirian, sebab mendadak diantara daun tadi seekor cacing atau ular mirip cacing bergelung seperti tumpukan tali kapal dan "terbang" kesana kemari mengikuti kemana saya pergi.

Saya pikir cuma halusinasi sehingga malahan menambah keingin tahuan tujuan mahluk "terbang" ini. Ternyata dia terbang sejajar dengkul kanan. Tidak ada pagutan atau darah kecuali sentuhan terasa dingin.

Saya masih berharap diatas pohon beringin ada anak kecil nakal menarik cacing pakai tali lalu mengajak saya bermain. Sayangnya, diatas pohon yang tidak mungkin orang dewasa mampu memanjat saking besarnya batang, apalagi iseng main yoyo berbadan cacing.

Setelah yakin tidak ada yang "ngerjain" saya dekati cacing terbang ini, ternyata kalau ditangkap ia mampu menghindar dari tangkapan saya.

Bosan bermain dengan mahluk ini, lama-lama muncul rasa takut sebab ia kerap kali menghilang dan tahu-tahu muncul didepan.

Akhirnya saya berlarian pulang masuk rumah dan menceritakan apa yang terjadi. Reaksi ibu seperti yang saya duga "fantasi anak kecil, sekarang cuci kaki, tangan lalu tidur siang." - tentu dengan tambahan pelajaran ilmu hewan - ular tidak bisa terbang, apalagi cacing. Bagaimana sih rasanya kita ingin jujur bercerita, ujungnya dikira berhayal. Kepingin rasanya jadi penulis, kalau sudah begini.

Ibu dan bapak. Jika seandainya melihat putera-puteri bercakap dengan teman tak kelihatan, atau mengaku melihat seseorang, janganlah langsung divonis "fantasi." Dunia itu menurut saya memang ada, namun kemampuan menembus batas alam tersebut akan menghilang sejalan dengan waktu.

Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com