Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

June 29, 2007

Rabat

Adik-adik perempuan saya memang pemburu pameran dan diskon, telinga, mata dan tentu saja kaki mereka seperti melayang apabila mendengar kata mujarab "potongan harga," "kesempatan terbatas," - menghemat uang tak seberapa, menggenjot waktu berjam-jam bagi mereka adalah hiburan tersendiri. Kadang kami diuntungkan dengan para FBI perdiskonan ini.

Berbeda dengan saya, justru sama sekali kehilangan gairah untuk mendatangi keramaian semacam itu sebab kata-kata keramat "diskon, korting, rabat" yang dimuat dalam koran, atau media elektronik lainnya kenyataannya sering berlawanan saat transaksi benar-benar akan dilakukan.

Masih segar dalam ingatan saat badan masih membujur tidur, saya sudah dikejutkan ledakan suara, ada TV 20 inci dijual cuma 250ribu rupiah. Mumpung hari pertama, mumpung persediaan masih cukup. Pendeknya segala aji mumpung dilantunkan disini.

Akhirnya dengan perasaan malas namun tetap ada setitik harapan, kami menuju Senayan, untuk dikecewakan bahwa lagi-lagi barang tersebut sudah "habis-stok-terbatas."

Sebagai pengobat rasa kecewa gagal mendapatkan TV 20 inci kami mencoba mengangkut TV yang lebih besar lagi karena cuma itu yang tersisa.

Kali ini saya harus kecewa lagi sebab Kartu Kredit, Kartu Belanja yang saya miliki tidak berlaku. Semua transaksi harus kontan.

Sejak itu, saya deklarasikan "putus-tus" terhadap iming-iming diskonto, rabat, korting, potongan harga. Lebih baik beli sedikit mahal tetapi tidak perlu merasa diakali dengan dalih "barang habis, atau kartu belanja tidak laku."

Lho kok beberapa hari ini saya diganggu lagi oleh rengekan manja adik minta saya menemaninya "lihat-lihat" pameran Komputer, barangkali ada laptop murah.
Untuk tidak mengecewakannya saya hanya memberikan tips supaya jangan nampak arogan menyebut pengarahan. Laptop yang "normal" harganya paling tidak jumlah kedua jari tangan dan kedua jari kaki. Kalau ada harga laptop hanya satu jari lengan kanan, yang perlu disiapkan secara mental, barang tersebut kemungkinan sudah kurang laku atau ketinggalan model.

Berita baiknya, kata Bertha KDI, kalau laptop hanya difungsikan sebagai alat untuk membaca excel dan word serta internet, batasan tersebut sudah lebih dari cukup.

Arahan lainnya, kalau mau beli komputer secara kreditan, jangan pernah melirik harga kontanan, jelas beda. Tips berikut, tidak ada laptop yang tak retak, selalu saja ada kelemahannya. Dan rasa ini muncul setelah 3 bulan dimiliki, laptop seperti kurang ini dan kurang itu.

Beberapa jam kemudian, tilpun berdering lagi, dia sudah berada di stand penjual laptop lalu menyebut spesifikasi komputer yang bagi saya mulai terasa asing kecuali pengertiannya satu menembak lalat dengan rudal. Lha beli laptop hebat, ujungnya hanya sekedar bermain solitair dan membaca email, tidak perlu software dahsyat dan prosesor sakti.

Rupanya yang membuat harga setengah miring, komputer yang akan dibeli ini hanya diformat pakai DOS sehingga belum bisa difungsikan window dan applikasi Microsoftnya.

Untuk keperluannya, saya berjanji memasangkan Windows aseli yang memang saya punya satu cadangan dan untuk aplikasinya bisa saya ganti dengan OfficeOrg pengganti Microsfoft Office.
Sorenya, suara ibu dua anak berubah lemas. Dari semula setajam pembawa acara "Silet" yang bibirnya didandani menjontor dan sexy, pindah perseneling rendah dengan suara mirip kuis "bisik-bisik," minus kesan merayu dan membetulkan poni rambut.

"Sial, ternyata komputernya sudah kehabisan stock!" - padahal dia sudah menarik suaminya agar membolos beberapa jam sebelum pukul lima thenk!

Lha rak tenan... Apa ku bilang...

"Tapi mereka Janji besok akan dikirim stok baru kok Mas," suaranya sedikit bersinar optimis.
Sehari kemudian dia menilpun lagi.

Konon stok harus diambil di satu tempat yang nun jauh beberapa kilometer dari lokasi pameran.

"Sialan nggak tuh!-rasanya pengin ngegamparin SPG nya."

Lagi-lagi saya mendinginkan hatinya dengan sekali lagi kembali ke aturan main pertama. Mau beli diskon, harus bersedia mengorbankan potongan harga diri kita.

Dan sore harinya, penilpun yang sama berdering menghubungi saya. Rupanya ia sudah sampai di rumah dengan menenteng laptop..

"Menenteng apaan? tepatnya mengusung Laptop?" sergahnya penuh kejengkelan.

"Tas laptop baru ada stok minggu depan.."

Tapi namanya hobbi, saya yakin dalam beberapa hari kedepan dia akan mewartakan kabar diskon gembira yang lainnya.

Mimbar Saputro mimbar dot saputro at gmail dot com

3 comments:

Decima said...

Huahahahaha... perempuan sekali.... :-D
Mas, tolong sampaikan ke adik adiknya mas Mimbar, kalau mereka penggemar jam tangan merek GUESS, hari ini thok ada diskon khusus sampai dengan 70% di Gedung Artha Graha Lantai 23.
Bahkan ada item item yang special price.
Buruan cuma sampai jam 17:00

psst.. jam tangan cowo juga ada lho Mas...
*kompor*

Salam,
Deci.

Ummu Arwa said...

Assalamualaikum wr.wb.

Ups ... daku juga termasuk "adik perempuan" yang hobby buru discount loh... tapi kalo sale yang disini sih ngga pake tipu daya mas.

Apalagi kalo namanya Black Friday (sehari setelah tanksgiving) waduh ... kali mas Miem rela deh ngantri di depan Best Buy atau Circuit City atau Office Depot untuk dapet laptop harga $500 plus hadiah printer, scanner, dan tas laptop.

Sementara Adi berburu alat electronic, adikmu ini masuk ke butik-butik hehehe, baju puluhan sampai ratusan dollar bisa dibawa pulang dengan harga $5 sudah termasuk tax.

Yup,
rejeki isteri student ... make baju bagus kalo lagi sale hehehe (padahal sale disini hampir tiap bulan) Makanya Adi sedang menggalakkan program "Tidak Ke Mall" menjelang bulan haji tahun ini.

Btw, jadi mantuan nggga akhir tahun ini, siapa tau kami bisa hadir ...

Wassalam,
Ummu Arwa

Lany said...

Jumat, 29-06-2007 18:15:17 oleh: lany
huahahaa... menohok!!
saya juga suka tuh kalo liat diskon-diskonan, sampai sekarang.. tapi udah sangat mendingan dari dahulu kala. yah, gimana yah.. dompet cekak tapi kepingin macem-macem. jadilah diskon sangat mempesonakan. tapi saya mulai bisa mengerem, dengan melihat dan berpikir, lalu memutuskan saya ga perlu-perlu amat barang yang didiskon itu. dan, kalo mau sesuatu dan belum mampu, ya nabung aja, ato nebeng...

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com