Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

June 10, 2007

Dokumen 141

Canberra geger!. Selama ini mereka menyangka setelah dibantu bebas dari Indonesia maka negara Timor Timur akan menjadi anak mami yang menurut nasehat pengasuhnya. Apalagi tak sedikit biaya dikeluarkan untuk keamanan negeri kecil ini. Dalam tahun pajak sekarang, tak kurang 750 juta dollar dikucurkan Australia untuk keamanan negeri yang setelah merdeka malahan carut marut dilanda perang suku. Kini gonjang-ganjing baru saat ditemukan dokumen yang bakalan tidak berkenan dihati Canberra.

Dokumen setebal 141 halaman menyebut bahwa uang hasil minyak bumi yang melimpah dibumi Timor Timur sebaiknya dibelikan senjata, dibelikan kapal laut yang dipersenjatai rudal agar dapat menghalau musuh yang mengganggu kedaulatan negara mencuri ikannya dan melakukan penyelundupan. Penyusunnya diduga penasehat dari Portugis dan Malaysia. Melihat rencana sepuluh tahun kedepan, maka dapat dimengerti bahwa Presiden Ramos Horta sudah membaca laporan tersebut.

Yang lebih mengagetkan lagi, penulis merekomendasikan agar kapal perang Australia tidak boleh berlayar di perairan Timor Timur. Tidak sedikitpun masukan Australia dan Amerika diindahkan dalam laporan Militer ditahun 2020 tersebut. Laporan ini menyiratkan bahwa jauh dilubuk hati sementara orang, mereka tidak percaya terhadap Australia.

Terang saja Canberra bagai kebakaran jenggot, Timor Timur adalah negeri termiskin didunia hampir sebab separuh penduduknya berada digaris kemiskinan, tiba-tiba ingin menaikkan jumlah angkatan perangnya dari 1500 menjadi dua kali lipat, ingin beli senapan sniper, anti tank, senjata berat, senapan serbu. Apalagi suasanya damai baru saja diciptakan. Belum lagi meratnya 600 tentara kecewa lataran setelah merdeka malahan mendapat diskriminasi kesejahteraan sosial yang berbeda dengan kelompok suku lainnya.

Mark Thompson seorang pengamat militer Australia berkomentar kalau niat ini dilakukan, maka awal kebangkrutan suatu negeri "pulau sebelah" sudah diambang mata. Bagi Australia, keamanan negeri cukup dengan pasukan infantery yang kecil, murah namun efektip ketimbang kepingin pindah perseneling jalur serba canggih. "Andai Timor Timur punya uangpun, apakah mereka memiliki kemampuan untuk mengelola persenjataan berat tersebut," demikian pertanyaannya.

Bila terjadi konflik antar militer yang memiliki persenjataan berat, sementara Timor Timur tidak bersikap netral, maka kedaulatan negara ditaruh diujung tanduk. Persoalan yang tidak diperhitungkan dalam laporan tersebut, minyak celah Timor tidaklah sebesar yang ditaksir selama ini.

Yang tidak mengenakkan, kalau sudah begini mereka mengaitkan dengan Indonesia. Katanya, dengan meningkatkan eskalasi militer di Timor Timur, jangan heran kalau pihak Indonesia bakalan mengasah taji karena merasa terancam kedaulatannya.

Maka karikatur harian The Australian yang mengaku membaca bocoran dokumen rahasia tersebut menggambarkan seseorang berpakaian tentara sedang menggendong rudal lalu sesumbar "Ada yang tahu dimana musuh yang akan kita perangi," - lalu seorang warga menjawab "kelaparan!," dan tangannya menunjuk seorang anak berambut keriting yang kurus kering.

Musuh kok dicari.


Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com