Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

June 08, 2007

Kembali ke lubang lama


Hari ini suasana kapal lain dari biasanya. Pintu kamar, lemari, laci seperti ada kekuatan gaib yang membuka menutup sendiri, air dalam kloset yang biasanya bisu kecuali dipergunakan, tiba-tiba mengeluarkan suara seperti letupan kecil. Lalu tempat tidur mulai digoyang kesana kemari. Dari luar, suara gemuruh teriakan rantai kapal beradu dengan roda pemutar semakin gaduh dan menggoncangkan kapal.

Inilah saat penting ketika ponton mulai dinaikkan dari semula tidur 10 meter dibawah permukaan laut, mereka sekarang boleh menghirup udara bebas. Namun saya kehilangan sensasi bau anyir kerang laut yang menempel di dasar kaki rig. Pasalnya udara musim dingin kota Karratha dan angin laut yang keras membuat sang bau yang dinantikan tidakkunjung datang. Artinya satu ritual terlewati.

Tatkala jangkar perlahan seperti malas untuk beringsut dari tidur lamanya kedalaman 300 meter, maka saat itulah kami bersiap-siap untuk pindah ke lokasi lain. Dua buah kapal tunda diperlukan untuk menarik "perahu" kami. Berjalan dengan kecepatan 5 knot.
Uniknya lokasi ini sebetulnya lokasi lama. Kami meninggalkannya setahun lalu dengan memberi tanda tutup dop setinggi 75cm dicat putih. Mungkin sekarang sudah dipenuhi binatang karang atau malahan sudah mulai dimakan karat. Anda bayangkan mencari sebuah potongan pipa pendek ditengah samudra dalam yang tidak ada tanda-tanda dipermukaan air, mungkin terkubur dalam gundukan lumpur.

Namun dengan bantuan teknologi GPS maka hal yang nampaknya mustahil dilakukan, seperti semudah mencari obat generik di pasar Jatinegara. Peristiwa lain yang menarik adalah saat kapal yang raksasa mendekati lokasi, lalu mulai mengulurkan pipa untuk memasuki lubang bor yang berdiameter tak lebih dari setengah meter.

Kalau anda pernah ikut perlombaan memasukkan pinsil kedalam mulut botol, dan merasakan bagaimana frustrasinya, maka bayangkan tali sepanjang 300 meter diganduli pensil, lalu anda mengarahkan pensil ke lubang sebesar 50cm didasar samudra. Ada faktor arus laut, parameter lain seperti gelombang yang mengalun dan yang jelas tidak ada penerangan disana. Semua pekerja pakai Handi Talki, sebentara-sebentar ada teriakan "geser kekiri, geser kekanan" - tapi bayangkan yang digeser adalah kapal berukuran lapangan sepakbola Persija yang sudah dihancurkan pak Sutiyoso. Dan yang menggeser adalah permainan jangkar. Fantastis. Dalam hal ini kapten kapal Mark yang patut diacungi jempol.

Sementara saya karena diluar "loop" hanya menyiapkan tagihan proyek baru.










Mimbar Bambang Saputro
mimbar [dot] saputro [at] gmail [dot]com
+62 811806549 - TEXT PLEASE

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com