Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

October 06, 2006

812- Ayam Kampung

"Kalau aku berteriak, seluruh isi hutan akan ikutan bergetar...," kata seekor beruang menyombongkan diri.
"Kalau aku yang melakukannya, selain hutan bergetar, penghuninya akan ketakutan," sahut seekor harimau
"Saya baru bersin saja, seluruh penduduk bumi ketakutan setengah mati," ujar seekor ayam kecil.

Berapa sih luasnya selembar kertas fotocopy A4. Lalu bayangkan kalau ukuran tersebut dipangkas sampai 70%. Kemudian dirikan dinding kawat melingkupi kertas mini A4 tadi. Beri penerangan seadanya. Maka itulah nasib seekor ayam petelor yang dipelihara dalam kandang tertutup. Seperti belum cukup penderitaan mereka, genap usia sehari, paruhnya sudah ditetak agar tidak melukai temannya. Selama setahun penuh ayam mata terlepas badan terkurung ini dipaksa memproduksi telur terus menerus. Usai masa produktivitasnya, ia akan dipensiunkan dengan cara dibunuh untuk persembahan binatang peliharaan lain. Tapi dengan cara sepintas kejam ini, industri telur bisa berkembang. Di Australia, industri ayam petelur kandangan "yang dibaterai" berupa angka dollar gede, tak kurang 300 triliun dollar.

Maka bagaimana mereka tidak berang ketika himpunan para penyayang binatang sudah memulai kampanye anti makan telur yang berasal dari "derita ayam kandang." Lalu akan diapakan nasib konsumen telur kandangan padahal sementara konsumen terlanjur kesemsem dengan ukurannya yang besar dan seragam serta harganya yang lebih miring. Selusin telur kandangan (egg cages) di Perth berharga $3.29 sementara ayam kampung (free range) $4.90, ini beda yang njeglek ketara banget.

Maka orang kini mulai bisa menyaksikan poster di Supermarket, seorang wanita sedang meraih kotak berisi telur ayam, padahal dirinya sendiri sudah terperangkap dalam kotak A4. Bangkotan penyayang binatang Bidda Jones mengatakan, peternak memang keterlaluan, ayam yang memberinya penghidupan cuma dijatah kamar 450 centimeter persegi yang berarti 70% lebih kecil dari sebuah kotak berisikan tumpukan 5 rim kertas polio tapi A4 ini. Bandingkan dengan mereka memperlakukan hewan lain seperti anjing, misalnya.

Tak heran untuk mengangkat tubuhnyapun ayam malang ini tak mampu. Lebih lanjut Doktor Jones mengatakan bahwa telur yang dihasilkan dari ayam yang lemah fisik tadi, bisa jadi rentan pembawa penyakit terhadap pelahapnya. Tak heran "dari sononya" sendiri penyandang "Osteoporosis." alias lembek tulang.

Solusinya, biarkan ayam bebas berkeliaran agar sayapnya bisa berkepak, kakinya bisa kuat dengan berlari, agar bisa menggerakkan kepala menengok kekiri dan kekanan seperti layaknya ayam kampung kita. Perbedaan $1.50 sampai $2 bagi sementara orang adalah soal hidup mati kocek.

Reaksi keras datang rapi pasukan pembela ayam kandang. Katanya membuat kandang untuk ayam liar bukan perkara mudah. Lagian ceker ayam yang kerap bersentuhan dengan tanah, bakalan mudah cacingan atau minimal parasit. Mereka menambahkan sementara orang jijik melihat telur ayam bergeletakan ditanah bersama kotorannya.

Namun reaksi lain datang dari juru bicara Coles sebuah usaha multi bilion Supermarket, selama lima tahun terakhir penjualan ayam kampung makin "bagus" - apalagi kalau kotaknya diberi label "free range organic" - soal konsumen mau pilih telur yang mana semua terserah mereka.

Barangkali ada yang berniat expor telur ayam kampung dengan embel-embel menambah greng dan perkasa.

Seperti kata lagu Titik Puspa, "ayam binatang paling hebat. Telurnya bisa jadi mata sapi, tetapi telur sapi tidak bisa dijadikan mata ayam.."

Mimbar Bambang Saputro

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com