Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

February 19, 2006

Terasi dan Mak Irah


2/17/2006
Entah mengapa kantin di Australia kalau menanak nasi selalu terasa mentah sampai-sampai saya jarang sekali makan nasi disana. Akan berbeda misalnya ketika bakso dibalut nasi lalu digoreng, saya amat menyukainya. Jadi ketika di Bekasi saya dimasakkan tempe,sayur kacang panjang, goreng ikan asin, caisim, bayam, kangkung. Wah ini baru Nyam Nyam Bangget.
Namun keadaan suka menjadi drama ketika dari hari kehari masakannyakok ajek gitu, kata wong kito "jadi-maleg" - alias enek terenek. Harapvisualisasikan Fuadi yang ketua Artis sedang "ngejadul" pakai bahasawong kito..
Ada apa ini. Dimana keahlian para juru masakku?
Daripada "Ya-Ubeng" tidak ketemu jawabannya mending saya melakukaninvestigasi ringan di TKP.
Ternyata penyebab semua ini berpangkal pada pemasok Logistik hariankami. Levelnya belum sampai setingkat KSAN yang seloroh atasnyamembuat seorang anggota DPR menuai Ketupat Bengkulu racikan front"Panca Marga".
Namanya sebut saja "Mak Irah" kalau ditanya usia, dia jawab "kagaktahu, saya mah sehat bae..." - Ini bedanya kalau yang buta hurup orangCina, paling tidak mereka masih bisa menyebut tahun kuda, tahunkelinci sehingga paling tidak bisa diurut per dua belasan tahun.
Saya taksir belum 50-an namun porem wajahnya boros lantaran deraanhidup yang dilakoninya. Suaminya sudah berpulang beberapa tahunberselang. "Muntah darah diteluh sampai mati," katanya ketika ditanyamengapa dia berdagang.
Sekalipun jabatan tak resmi suaminya cuma kerja bantu-bantu tukang,ibarat kata, jabatan yang bukan dicecar oleh pesaingnya. Mak Irahkeukeuh lawan suaminya tidak "fair play". Namun itulah rakyatpedesaan. Sakit adalah teluh dengki, jadi tidak perlu diobati kedokter, cukup orang pintar, sisanya pasrah. Perkara siapa yangmeneluh, selalu misteri. Atau cukup disebut "ada ajah.." Biar YangKuasa akan membalaskannya.
Janda yang hanya melek hurup arab ini ikut anak lelakinya. Kok yamenantu sakit dan meninggal dunia, meninggalkan dua bocah. Akhirnyanenek inilah yang mengurus dua anak piatu.
Seperti belum usai cobaan, Anak yang kedua (lelaki) meninggal dunia,meninggalkan dua bocah yatim. Berarti total 4 mulut mungil harusdiurusinya. Pasalnya Nenek Irah tidak tega melihat menantuperempuannya menjadi tukang cuci sana sini dengan penghasilan tambalbutuh, sementara pekerjaan anak lelakinya tidak tetap.
"Kalau saya cerita panjang dik", katanya sambil matanya berlinang.Sementara kerutan diwajah tuanya bagaikan pahatan sungai-sungai miniakibat kulit terbakar matahari.
Tidak tega melihat kekurangan ekonomi keluarga, nenek Irah cancuttaliwanda. Ia minta mantunya belanja sayur di pasar Kecapi, dan nenekIrah yang membantu menjualnya keluar masuk kampung.
Dan tengoklah telapak kaki telanjangnya yang sampai melebar "njebeber"dan telapak kulit yang menebal lantaran beradu dengan aspal, batu,pasir jalanan yang terkadang panasnya menyengat.
Kalau sudah dibeli dan diberi lebihan sekedarnya (kembaliannya diambilaja), doanya seperti tidak putus-putusnya. Kadang disela doanya diaberguman, "jadi dah anak yatim dan piatu saya makan nasi sama terasigoreng."
"Terasi bakar..." rasanya keluarga saya akrab dengan kata-kata itu,lantaran saya pernah cerita, makanan paling lezat waktu kecil adalahkerak nasi masih panas diolesi terasi bangka yang sudah digoreng. Bauterasi terbakar itulah yang menerbitkan rasa lapar.
"Tong, kite adenye cuma terasi ama nasi, kalo elu ihlas makan jadienak," begitulah nenek Ira membesarkan hati ke empat cucunya yangkadang bertanya mengapa menunya harus terasi. Lantaran empati, kadangkami sumbangkan pula beberapa potong ikan asin buat cucunya.
Mak Irah, sering merasa alhamdulillah karena sering diberi tetanggabaju dan kain bekas sehingga ia tidak pernah beli baju muslim. Sebuahdesign yang melindunginya dari terpaan angin dan sengatan matahari.
Menghindari rasa bosan. Tempe digoreng, sayuran diolah, hasilnyadibagikan ke tetangga yang di Rawa Bogo masih bisa dihitung sebelahtangan.
Kadang peristiwa kecil begini sering menambah wawasan dan rasa syukurbahwa masih banyak orang yang lebih menderita di bawah kita.Sehari-hari bergelut urusan pincuk, dan boro-boro menuju puncak.

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com