Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

February 25, 2006

Ozzie Driller in Naam - skipping rope

Pernah diceritakan bagaimana Texan John di rampok disiang plong di Ho Chi Minh City. Dulu nama kota ini adalah Prey-Nokor (Kambodia), terletak di Delta sungai Mekong. Menjadi pusat pelabuhan kerajaan Kamboja. Baru pada abad 16, di renggut oleh Vietnam dan di ubah namanya menjadi Saigon.

Ho Chi Minh City menjadi kota pelabuhan strategis di Vietnam Selatan lantaran jaraknya sekitar 60 km dari laut Cina Selatan.

Akhirnya saya (Paulie Carter) meninggalkan John di kedubes Amerika di Ho Chi Minh City. Setelah memberi tahu perwakilan kami bahwa John kehilangan Passport. Hari itu saya menuju Bien Hoa, dulunya adalah pangkalan Amerika terbesar di Vietnam Selatan yang kini diubah menjadi pusat industri. Dari Bien Hoa saya menuju Vung Tau, yaitu sebuah kota pelabuhan yang ramai dengan kapal-kapal suport Rig Pengeboran.

Aku melihat nama crew tertulis Erwin dan Ambu, keduanya anak Kalimantan. Kutinggalkan pesan di meja resepsionis untuk bertemu di kafe. Kelihatannya ada 3 hari rig delay sebelum menuju lokasi sehingga kami cuma makan tidur selama 3 hari.

Hari pertama memang kami gunakan untuk orientasi dan istirahat namun hari kedua kebosanan mulai menyerang. Damin datang ke kafe dengan wajah murung. Ia membawa semacam tas belanja yang ternyata isinya adalah skipping-rope. Untuk memperkuat lengannya, pegangan skipping rope diberi pemberat . "Aku bosan skiping di Helipad, mau coba disini..."

Helipad yang kami sebut disini terletak disebuah air-strip tak terawat, rumput liar menutupi sebagian landasan pacu. Lubang bekas peluru dan bom yang dijatuhkan Amerika, masih nampak jelas kendati usianya sekitar 30 tahunan. Disana sini terhampar pecahan besi kuning selongsong peluru maupun bom. Dari udara baru nampak jelas bagaimana gambaran bom dijatuhkan dari udara. Biasanya bekas bom napalm atau sejenisnya dibiarkan perlahan tertutup oleh semak.

***

Jelas saya (PC)bilang "Leon Spinx kamu tak bisa skipping di Kafe.." - ini tahun 200-an saat nama petinju Leon Spinx masih tersohor.
Herannya Erwin dan Ambu malahan mengedipkan mata pertanda "biarkan saja apa maunya si Damin.." Betul saja begitu dia mulai mengayunkan skippingnya - tiba-tiba tali sudah membelit kipas di langit-langit kafe. Lalu ujung besi pegangan mulai menghancurkan kaca jendela.

Kipas mulai terhenti sebentar saat menyimpan tenaga untuk adu kuat dengan tali plastik. Mulai terdengar suara "kretek" - dan potongan kipas serupa baling-helikopter mulai berpusing tanpa arah. Tawa pengunjung langsung berhenti dan masing-masing mencari perlindungan diri dari amukan baling-baling kipas. "Helikopter" ternyata mencari tuannya, yaitu Damien.

Tidak ada korban. Namun ada beberapa hari Damien tidak menyapa kami.



Nukilan buku:
Dont Tell Mum I work on the Rig
Pengarang: Paul Carter.

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com