783 - Kepikiran Lebanon

Ini perang baru, ini baru perang. Seperti slogan minuman memabukkan. Dunia memang mabuk perang. Mewujudkan kecintaan kepada Tuhan (dan agamanya), dengan pergi perang, melukai, membunuh, kalau perlu bersama dirinya. Korbannya adalah para pendamba damai. Dulu perang adalah seperti dunia anak-anak adu gambar "Amerika lawan Jerman, menang mana?" -

Gambar yang dibuat dari karton tebal ditumpuk lalu disebarkan melayang, yang tertelungkup dianggap kalah dan pemenang berhak mengambil sesuai dengan taruhan yang disetujui bersama. Yang berbakat licik melapisi belakang gambar dengan sabun sehingga gambar miliknya menang terus. Ada tank Jerman terjungkal lawan pistol Serdadu Amerika.

Musuhnya jelas, seragamnya kentara. Seperti juga permainan gambar wayang, antara pihak Astina dengan Pandawa karakternya jelas. Perang sekarang, memasuki era baru, polanya baru yang belum ada di buku sejarah. Pasalnya Hisbulah menyekap tentara Israel, sambil meroketi Israel, Israel terprovokasi lantaran beberapa pasukan cadangannya menjadi korban, sudah itu yang paling aneh menteri Pertaniannya yang berteriak paling keras, "mata ganti mata". Ujung-ujungnya balita di Libanon digasak rudal. Eh sudah itu Iran dan Siria dituding penyandang dana. Sementara pasukan Hisbulah sudah tentu tidak berada di permukiman ramai.

Bagaimana tidak kepikiran, guru sejarah SMP di Lampung kalau mendongeng keindahan jazirah Arab termasuk kota Beirut (Lebanon), beliau sampai bilang "jangan mati sebelum melihat Beirut..." - alasannya negeri ini sekular, kaya, demokrat dan Arab tapi barat. Ada Paris van Mediterania, ya itulah Lebanon. Sampai disini, biasanya para murid SMP (1965-an) pada senyum penuh arti, sebab konotasi Beirut di Lampung adalah komplek pelacuran kelas
kandang kambing daerah pantai Panjang. 24 September 1982, saat Beirut masih menjadi kota impian, seorang Kolonel Israel dan pasukannya berisitirahat melepas penat sebuah kafe bernama Wimpy Movenpick. Tiba-tiba Khalid Alwan, seorang anggota sayap kiri Lebanon, mendekatinya sambil memberondongkan senjata otomatisnya. Kolonel mati seketika dan dua lainnya terluka parah. Monumen peringatan serangan di kafe jelas ditulis "Monumen Khalid Alwan" dan yang bikin kening berkerut, emblemnya Partai Nasionalis Syria.

Dengan keadaan carut marut begini tak salah mencuat pemeo "Mau mati? datang saja ke Beirut"

Lalu 12 Juli 2006 mass media memberitakan penculikan pasukan Israel untuk ditukar dengan tawanan Lebanon. Barisan Hisbulah melepaskan rudal rata-rata 100 roket perhari, negara lain sudah pasti megap-megap membuangi peluru yang harganya entah berapa, yang pasti sangat mahal. Bayangkan Marinir yang notabene pasukan elit kita yang saat hari ABRI setiap 5 Juli melakukan defile dengan Tank, dijalan nampak sekali betapa rantai-rantai tank begitu renta.

Bahkan ada yang putus di jalan Mampang Prapatan. Sementara yang lain mogok karena kurang pemeliharaan. Ini kita bicara tentara reguler bung! - tidak cukup dengan menutupi kelemahan sambil mengatakan "orang lain sudah masuk museum, kita masih bisa menjalankannya" - terang tidak optimal.

Rudal seperti perlengkapan militer lainnya makin hari makin canggih, paradoxnya, makin "user friendly" sehingga siapapun bisa menggunakannya, asal punya uang. Namun lokasi asal rudal juga mudah dideteksi musuh. Dalam hal ini Israel, lalu gantian mereka menghantam posisi tempat rudal dilepaskan, sementara para Hisbulah tentu saja sudah "merat" dari situ meninggalkan wanita dan anak-anak yang sekalipun tahu ada perang tetapi mau lari lagi kemana?

Yang mengherankan, negara lain seperti Indonesia mengutuk keras dan sangat sekerasnya bahkan memobilisasi pasukan berani mati segala. Tetapi mengapa negara Arab lainnya yang lebih sodara beneran, istilah betawi, malahan seperti berbasa-basi kekiri tidak ke kanan bukan.

Diduga kelompok Suni Arab yang memang rada gerah kepada tindak tanduk Siah ala Iran sehingga mereka terkesan lipat tangan. Soal slogan satu dicubit yang lain sakit, sepertinya hanya berlaku untuk kelompoknya belaka.

Beirut dikenal negara kuat dan kaya, namun sekaligus lemah. Partai politik leluasa memiliki senjata dengan bantuan asing tentunya. Maka tidak heran ketika Hisbulah yang bersengketa, rakyat Lebanon terkena rudalnya. Bagaimana mungkin sebuah partai politik, mampu menyeret peperangan. Memang partai bentukan Iran pada 1984 ini kurang mendapat hati di negara lain. Namun di Libanon, bukan main. Mulai pengemudi Taxi, pelayan Hotel, Guide, jaringan radio, televisi "Al Manara", travel biro semua dikuasai partai Hisbulah.

Orang bilang, terantuk batu dijalan, bisa dipastikan, aset Hisbulah. Dengan demikian sekalipun hanya 14 kursi dalam parlemen dari 128 kursi tersedia, kekuatan mereka memang menakjubkan. Pemerintah Lebanon sendiri tidak mengautorisasi perang. Namun karena lemahnya, tidak bisa berbuat banyak paling menawarkan diri, kalau Hisbulah terdepak dari sarangnya mereka akan menggantikannya dengan pasukan reguler.

Indonesia, juga hampir-hampir serupa. Kalau pemerintah tidak bersikap keras sejak dini akan ada negara dalam negara. Tandanya ada kelompok milisi bersenjata pentungan, bambu runcing, golok, tombak meningkat senpi. Mula-mula memang masih dalam koridor pengawal moral, namun bukan tidak mungkin faksi-faksi demikian akan berkembang jauh dan menyeret negaranya kedalam peperangan dengan negara lain. Sekarang renungan ini mirip paranoia, namun bukan tidak menjadi kenyataan.

Perang Libanon adalah sebuah pembelajaran bagi kita.

**************

Hisbulah adalah contoh negara dalam negara. Semula ia didirikan olehIran pada 1984 hanya sebagai cabang sebuah kegiatan di 20 negara.Namun hanya cabang Lebanon yang menuai sukses dan lebih moncerdaripada negara Lebanon itu sendiri. Dana Iran pada mengucur padaorganisasi ini semula cuma 32 juta dollar, namun beberapa pihakmeperkirakan paling tidak 78 sampai 131 juta dollar mengucur mengurusi aset mereka di Lebanon. Apalagi dengan kegiatan tambahan berupa sarana pelatihan para milisia, paling tidak dalam dua dekade Iran sudah merogoh 3 triliun dollar. Semula organisasi ini bergerak dibidang bank, perusahaan asuransi,hotel, supermarket, taxi dan bus dengan pusat di Lebanon Selatan.Konon kalau anda berada Libanon, anda tidak mungkin tidak menginjak aset Hisbulah. Mulai hotel kita check in, restoran tempat kita makan,taxi yang membawa kita bepergian, guide yang menemani kita, tokocindera mata, semua dikelola oleh kelompok pebisnis handal dari Hisbulah.
Namun perkembangannya memang luar biasa. seperempat bagian dariLibanon berada dalam kendali mereka. Anggotanya ditaksir mencapai 400.000 warga Lebanon. Memungut pajak, menjalankan sekolah, klinik,rumah sakit. Akibatnya keberadaan pemimpin Hisbulah seakan duta besardari negeri lain yang "kebetulan" menetap di Lebanon. Hisbulah juga memiliki televisi digital "Al Manara" - empat stasiun radio, penerbitan koran. Mereka menjalankan sistem hukum Syariah,memiliki polisi sendiri, team sepak bola. Tidak heran 14 kursi parleman disikat habis dari 128 kursi yang tersedia. Negara dalam negara ini, bisa begitu hebat tentunya karena dukungan dari negeri lain. Para 8000 milisia dilatih dan dipersenjatai oleh Iran dan Siria. Dimana 2000 diantaranya memang sudah menjadi satuanelit. Sekalipun demikian diperkirakan mereka mencapai jumlah sekitar 30.000 anggota. Namun mengapa negara Arab lain kurang mendukung gerakan ini disebabkan, Hisbulah lebih banyak mewakili suara Iran, yang dalam hal ini kekuatan Siah, sementara Arab lebih condong ke aliran Suni sehingga kedua kelompok ini memang sudah saling "plerok en menjeb"sejak ratusan tahun lalu. Jadi kalau Amerika dan sekutunya sepertinya adem ayem melihat jabang bayi terkubur direruntuhan akibat serangan Israel. Mereka seakan melihat anak pemimpin Iran dan Siria disitu.

Perth 12-8-06
Mimbar Seputro

Renungan nekad, seorang mudlogger disela mengayak lumpur.

5 comments

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe