Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

August 10, 2006

782-Ketika tangan kiri mengintip perbuatan kanan


Semenjak tinggal di kawasan Pondok Gede - Bekasi, kami harus bersyukur melihat betapa warga sekitar kita sebetulnya masih tertatih memenuhi hajat hidupnya. Ada anak yang menangis dipulangkan dari sekolah gara-gara tak mampu beli seragam sehingga guru kuatir dia akan berfikiran bidah tak sesuai norma.

Karena kalau saya sebut namanya dia akan malu, maka keluarga Kwek Kwek saya ambil contoh pertama. Ayah dengan tiga anak ini sehari hari berjualan penganan murah meriah yang diantar setiap dinihari dengan sepeda. Maka bisa dibayangkan bagaimana ia menghidupi keluarganya. Memasakpun mereka masih mencari ranting kayu yang saya yakin lama kelamaan akan semangkin langka.

Atau ibu Bejo yang istri seorang (kapiten betulan) yang sudah pensiunan mencoba menambal kebutuhan rumah tangga dengan kadang memasakkan untuk para kuli bangunan demi mempertebal kebutuhan asap dapur. Dari beberapa episode diatas, maka kitchen cabinet rasan-rasan kepingin menularkan kepandaian memasak minimal membuat penganan, seperti kue kering. Tempatnya dipilih tempat kami yang paceklik anak sehingga tidak di(ge)recoki suara mewek anak bertengkar.

Bicara keahlian memasak ini keponakan saya kalau malam minggu ada saja yang datang, dan dengan pesan SMS "kami datang, kami belum makan".

Bahkan keponakan yang pada baru menikah berkunjung sambil belajar bagaimana memasak dengan cepat. Hal yang sedikit keluar dari kebiasaan memasak tradisional "santan musti kenthal, daging harus tebal,"

Kedua kami memang sudah terbiasa menjadi katering, membuka warung makan. Bahkan beberapa keluarga mempercayakan kami sebagai wedding organizer.

Poblema muncul. Bagaimana kalau para target kami tersinggung dianggap ekonomi rendah, atau merasa direndahkan kemampuan memasaknya. Soal tersinggung, kalau bangsa ini bisa mengexportnya, maka Indo akan menjadi negara terkaya didunia. Ada kartun tersinggung marah, ada egol-egolan diusir. Ada yang berdoa dengan jalur lain, dirobohkan. Singkatnya untuk urusan yang satu ini hari extra hati-hati.

Lantas akal pertama adalah kami menurunkan pancing. Capcai pada minggu pertama, bakwan jagung, gudeg kumplit pakai presto agar bisa dipersingkat 4 jam dari 12 jam memasak pada minggu berikutnya, Nasi goreng, lalu kue-kue, peyek dan entah jenis penganan apa lagi. Banyak yang berterimakasih. Namun ada malah salah tingkah sehingga mengucapkan terimakasihpun tak sudi, bahkan ketika rantang diangsong didepan pagar, satu keluarga harus estapet melemparkan tugas menyambut rantang. Suami memanggil istri, istri memanggil anak, anak menyuruh adik. Akhirnya supply makanan berbuah serapah "brengsek luh disuruh kakak kagak mau, atau matik aja elu ogut sumpahin"

Atau yang ini juga kekayaan bangsa yaitu keahlian menyitir kata orang suci, "kalau saya diajarkan untuk memberi tetangga hanya yang terbaik saja..." dan kalau kata terimakasih saja pelit bener keluarnya entah apa yang akan mereka berikan. Saya hanya bilang wallahualam.

Feedback datang juga dari keluarga antik ini adalah ketika sikecil bertanya kepada ibunya "kok bude sebelah lama tidak pernah kirim makanan lagi ya..." Rupanya mereka bosan ketemu indo mie campur nasi, atau habis gajian sedikit bakso. Mbak Irah asisten Kitchen Cabinet dibisiki oleh para tetangga, "mbokyao kalau kapan-kapan masak kue, entah peyek, entah pisang goreng, entah apa saja, saya diajak meyaksikan, boleh nggak..."

Ibarat bola sudah didirible mendekati gawang lawan sementara kiper sedang kepleset. Maka jadilah demo memasak yang alatnya dari kami, bahannya dari kami, pengajarnya dari kami. Pokoknya mereka datang, duduk, membantu, hasil dibawa pulang. Memasak kue kering sudah berulang dilakukan. Ibarat praktikum harus ada responsi, seminggu dua minggu ditunggu "lho kok dingin" - alias dirumah mereka tidak mempraktekkan sendiri. Padahal tadinya seru banget ingin memjual kue dalam toples saat puasa menjelang lebaran nanti.

Ternyata ada kesalahan di luar skenario, di rumah mau mixer tinggal "zwiiing" - mau pakai oven tinggal "zeklek" - dirumahnya? dengan penerangan 450 watt, tentunya sulitan hasil praktikum tadi diteruskan.

Pasal lain bagaimana kalau bikin kue tanpa mixer, bikin kue kering tanpa "romboter" - pendek kata bagaimana bikin kue kampung, tapi enak. Ibarat bola lagi, sekarang pihak lawan melakukan serangan balik dengan gocekan one to one. Kami sempat kebingungan, mbak Irah diajak belanja ke PK (Pasar Kecapi), Dan mereka berdua (Irah dan Bude) meracik kue kampung. Pak Supir merangkap penyandang dana cuma celingukan memotreti Pasar Kecapi dengan harapan, apa yang akan terjadi 100 atau dua ratus tahun lagi dengan foto saya ini.

Sementara saya yang didapuk bagian icip-icip. Maka jadilah kue kering dengan rasa mengingatkan saya masa kecil. Agak keras, maklum semi bantet, namun kalau dijual mampu menjangkau kantong pembeli. Sekarang bagaimana dengan kemasannya. Kalau ibu-ibu punya duit lebih, daripada pulang kampung, belikan toples dan oven. Belinya sekarang sebab kalau mendekati puasa, harganya melangit.

Dan Bank Syariah bayangan divonis di rumah kami. Saya kebagian antar beli Oven dan Toples.

Dan tentunya kekurangannya sedikit-sedikit kami tomboki. Kami berdua menamakan ini dengan LSM lintas agama, lintas suku dan tanpa membawahi suatu organisasi tertentu. Bahkan anak-anakpun ketika mengetahui pekerjaan ini, mereka menyisihkan sebagian penghasilannya lalu diteruskan kepada beberapa keluarga yang kami kirim untuk sekolah.

Rasanya hati ini mongkok benar ketika melihat tiga bocah berbusana muslim (ini memang sekolah terdekat dan termurah), melewati rumah kami diantar ibunya sambil bilang "salam dulu dengan pakde dan bude"

Lalu mereka mencium punggung tangan saya.

Lalu saya tanya, disekolah belajar apa?

Buku! - jawabnya

Maksudmu menulis di buku? - tegas saya memancing

Iyaaah, buku...- katanya merenges memperlihatkan deretan gigi depannya yang tanggal untuk berganti gigi baru.

Wheelhadalah ora nyambung toh.

Tambahan:

Hari ini karikatur di harian Australia, bertuliskan Kalimantan 2006. Seorang juru photo lama (pakai kerudung hitam diperalatan fotonya) nampak memotret ala wisuda para taruna militer. "Smile," kata jurupotret. Obyeknya, anak-anak muda berkerudung mirip Klu Klux Klan.

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com