Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

November 27, 2002

Ex me ipsa renata sum

Setelah beberapa waktu diakali akhirnya tubuh tua (1600-an) itu mulai terangkat sekalipun masih menimbulkan kesulitan dengan bobotnya yang terbilang tambun. Maklum, dengan panjang 3,85 meter dan laras 25 cm benda perunggu ini berbobot 3,5 ton. Umumnya meriam jenis "bumbung" di buat dari besi dan miskin hiasan. Kecuai yang satu ini.

Tiba-tiba Jagur demikian nama meriam ini berulah. Roda forklift nampak terangkat!
Setelah disisir, ternyata ada selisih berat antara forklift dengan meriam. Pantes.

Sepuluh orang harus naik ke forklift bukan untuk dikorbankan melainkan untuk menambah berat agar terjadi "balance". Setelah berkutat selama 2 jam, "Kiyai Jagur" bisa dipindahkan ke tempatnya yang baru yaitu dalam komplek musium Fatahilah sekitar 50 meter dari tempat semula. Suguhan Kembang tujuh rupa, kopi pait, kopi panas dan Astaga... Martini.... sudah tersedia ditempat barunya. "Cuma tradisi," kata seorang pekerja yang menolak disebut namanya. Tapi kok nggak nanggap Keroncong?

Meriam perunggu ini punya ciri unik karena selain bertuliskan "EX ME IPSA RENATA SUM" atau DARI DIRIKU SENDIRI AKU DILAHIRKAN LAGI, dipangkalnya terdapat pahatan tangan menggenggam, anehnya karena jempol nongol dijepit jari tengah dan telunjuk maka dari ajakan berjotos berubah menjadi kode tandem yuuk mang" - sehingga kesohorlah Miriam ini sebagai benda keramat lambang kesuburan.

Dulu masih sering terlihat orang dengan "caos dahar" sesaji berdoa untuk sarana minta anak bagi yang belum beruntung mendapatkannya. Ada yang bilang kekeramatan si Jagur lantaran arwah seorang jagoan Betawi Kapitan Jonker alias Tete, tinggal didalam meriam ini. Tewas deh acara KISMIS.

Sekarang orang berkerumun disekitarnya menawarkan obeng, sabuk, sandal plastik. Maklum berada ditengah pasar pakaian dan kelontong.

Ki Jagur dibawa dari Melaka ke Batavia pada 1641 menyususl kekalahan Portugis lawan Belanda (tapi skornya, juga menit ke berapa tidak dijelaskan .)

Nama si Jagurpun entah darimana asalnya. Bahkan berapa kali Meriam ini diajak perang, juga masih gelap...

Paling tidak meriam ini kini tidak lagi dikelilingi pedagang di halaman Kantor Pos Kota. ia bisa mejeng sekarang....

Di dalam Museum Fatahillah nantinya, Si Jagur akan menempati area seluas 32 meter persegi. Pemindahan meriam seberat 3,5 ton ini memakan biaya sekitar Rp 50 juta. (*)

Jagur sebelum dipindahkan. Kayu penopang berwarna merah juga ikut dipindahkan.

1 comment:

Anonymous said...

kapitan jonker bukan jagoan betawi...kapitan jongker adalah kapitan dari ambon maluku......klo dari betawi ...yah..cukup si pitung aja.....

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com