Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

April 03, 2006

Legalisasi Passport... ndak ada itu!

Tiba-tiba saya mendapat email dari Jim McLeod (PNG Coordinator) yang mengatakan saya untuk sementara pindah ke PNG. Lalu dia mengatakan bahwa segera urus Visa di Kedubes PNG Jakarta. Orang ini yang delapan bulan lalu mengatakan tidak usah urus Visa ke PNG sebab saya tetap di Australia.
Terang saja kedubes PNG di Sudirman No 1 Jakarta, rada berang sebab ijin kerja sudah diberikan kok tidak diambil. Singkat kata, Visa PNG berhasil diambil tanpa mengeluarkan satu Kina- pun, tapi dalam emailnya Jim mengatakan urusan Visa ke Australia adalah priority. Saat itu urusan saya tinggal melegalisir basah copy Passport ke Imigrasi lalu semua dokumen dikirim ke Agen Imigrasi di Perth..
Tetapi Kamis 30 Maret 2006 adalah perayaan Omed-Omedan . Lalu saya datang pada keesokan harinya Jumat 31 Maret, dan ternyata liburan di Imigrasi juga diperpanjang seperti layaknya lembaga di Indonesia.
Tanggal 3 April 2006 saya datang pagi-pagi dari Bekasi ke Imigrasi di PostWeg (jalan Pos), Jakarta Pusat, jam 9.00 ternyata aparat yang berwewenang belum datang. Belum lagi mendengaran ocehan petugas Imigrasi yang mengatakan bahwa sejatinya elegalisir Passport tidak ada dalam Uraian Kerja mereka. Singkatnya mereka tidak melayani urusan legalisir.
Stress nggak sih kalau sudah begini....

Tetapi ada lubangnya. Ini perkara khusus sebab diperlukan kepala bagian yang ternyata sampai hari Senin 3 April jam 14:30 belum datang. Saya terlanjur bilang kepada Jim bahwa jam 14 Passport selesai. Padahal dalam hari kita tahu berurusan dengan Pegawai Negeri, waktu sehari atau dua bukan merupakan persoalan besar di Instansi.

Reportnya Jim menyikapi time frame alias obrolan saya dengan serius. Dia bilang tanggal 3 Aprl jam 17:30 WIB ada SQ ke Singapore. Lha ini piye. Passport belum ditangan, sudah suruh berangkat. Kalaupun jam 14:30 sang BigBoss Imigrasi besar datang, belum tentu dia langsung duduk sepesial cuma ngecapin passport saya. Lalu saya harus balik ke Bekasi yang dalam hari senin ini bisa 3 jam perjalanan, lalu ke Airport membutuhkan waktu 3 jam berarti saya perlu 6 jam paling sedikit. Berarti hampir mustahil tiba di Airport sesuai jadwal.

Apalagi yang Jim tidak tahu, sepatu dan coverall saya tertinggal di Ocean Bounty di Locker no 8. Pikir mau balik lagi ke sana. Sebuah spekulasi yang gagal. Berarti saya harus buang waktu cari Coverall dan Sepatu dan Helmet.
Daripada saya miss-flight lantas mereka menyalahkan saya ya saya bilang kepada Jim "Sorry I cannot make it." - sedikit kurang profesional, namun itulah usaha maksimum yang saya bisa lakukan.
Mohon maaf saya sudah dua bulan tidak bekerja, namun saya juga tidak bisa memaksa boss imigrasi datang ke kantornya seperti yang saya inginkan.

Kacau nggak siyh kalau sudah begini. Pingin jeriiit rasanya.

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com