Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

August 11, 2003

Sutradara

Pulang dari kantor, Erni pasangan Monogami saya berceloteh macam-macam. Salah satunya kasus penculikan bocah bernama Heikel Muttahari. Rupanya sejak Sinetron Bocah Cilik Dulce Maria, rampung ditayangkan ia sudah kehilangan selera menonton Sinetron. Sebagai gantinya acara "Derap Hukum", dsb menjadi santapannya sebagaimana layaknya seorang "coach potatoes."
Saya hanya mendengarkan ocehannya sambil leyeh-leyeh tiduran. Soalnya dari "respons" yang dia berikan [Mandra kalau muncul di TV selalu mengatakan istilah input sebagai respons], kadang merupakan bahan mentah untuk menulis di milis ini. Pernah sekali dia cerita sehubungan dengan Keladi Tikus ada seseorang mencari alamat kami GajahSora. Orang tersebut mengaku telah berjam-jam mereka berputar sekitar jalan HayamWuruk Jakarta Pusat tetapi alamat kami tidak juga ditemukan. Usut-punya usut ternyata ada interpretasi miring yang disampaikan oleh asisten penilpun tersebut. Gara-gara nama GajahSora sudah mengalami distorsikan menjadi GajahMada, dan parahnya karena masih kerabat kerajaan Majapahit,maka alamat GajahSora pasti di jalan HayamWuruk. Jadi sang asisten memberikan alamat Toko GajahSora terletak di jalan HayamWuruk...

Akibatnya bisa diduga... nyasar....

Baru saja tas diletakkan dan dua ikan Lou Han belum diberi empan dia sudah berceloteh. "Gila nggak pak, mamanya Heikel waktu ketemu anaknya yang diculik tidak menangis. Alasannya air mata mereka sudah kering untuk menangis beberapa waktu lalu. Eh "sialnya"nya wartawan TV malahan bilang "Bu... nangis bu, ayo dong nangis bu...emangnya sinetron.."

Saya percaya ucapannya tetapi cuma saya rekam saja. Tadi pagi saya baca Koran Tempo-nya mbak Maya Pratiwi, ada surat pembaca kalau tak silap dr. Tilda dari RSU Ciawi Bogor yang keberatan dengan cara wartawan mencoba mendramatisir pertemuan antara orang tua Heikel dengan anaknya. "Ini wartawan atau sutradara" demikian keluhnya.

"Apa karena berlomba menampilkan berita seeklusif mungkin maka wartawan sudah kehilangan empati dan nurani sehingga menghalalkan segala cara?" tanya dr. Tilda. Dan berita di TV kadang sudah kehilangan originalitasnya. Terkadang berbau rekayasa.

Date: Tue Aug 12, 2003 1:35 pm

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com