Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

January 06, 2001

Memancing Ide Menulis

Date: Thu Dec 6, 2001 10:11 am

Dalam buku "Menulis dengan Emosi", saya baca kata pengantarnya justru lebih menarik daripada isinya yang menarik. Disitu dikatakan bahwa EMHA dulu memulai menulis diatas lembaran kertas HVS yang warna warni [mungkin dibeli di Toko Siswa jalan Sala, atau Hin Ho Sing - Malioboro]. Emha baru sreg setelah melihat kertas dengan warna norak, hijau, kuning, kuning tua dsb.

Pelukis Affandi, dikatakan sering trance ketika sedang melukis. Bahkan tidak jarang ia harus membugil saliro (distudionya) kalau perlu. Ketika "jam berahi" nya tiba, padahal "nggak mamphuu", ia pergi ke sebuah peternakan untuk memperhatikan babi kawin lalu dipindahkan ke atas kanvas.

Si Boy, bagian kreatif usaha iklan [bukan kantor yang menerima order iklan baris jual sepeda lho], malahan setiap kali akan bekerja harus mengepulkan asap rokok terus menerus, kaki dinaikkan ke meja, minum kopi sambil tumpahannya berceceran diatas meja.

Sekali waktu sang boss mendisiplinkannya, dengan memberinya tempat ber AC [tak merokok], meja bersih. Dan pekerjaan boy jadi tambah satu yaitu bengong, tidak tahu apa yang akan dikerjakannya.

Penyair terkemuka Jerman, Schiler, harus melihat apel busuk. Psikolog Freud harus ngemut cerutu, dan banyak lagi contoh "sedikit nyentrik asoi".

Di kantor saya malahan ada karyawan yang sregep kerjanya. Kalau dia tidak ada kerjaan, malah berkelahi dengan teman-temannya.

Menurut para ahli, mahasiswa yang pernah kos ditempat kumuh, lantas jadi penulis, pelukis dsb. Cenderung membawa habitat perkumuh bin kucel ke kantornya agar bisa merangsang sensoris aktivitasnya.

Tentunya logika ini akan bersilangan dengan sang bos yang menyukai ruang kantor bersih, agar muncul kesan coorporate image.

Sekarang, punyakah kita anak yang selalu menggoda adiknya sebelum berangkat belajar ? kemungkinan ia sedang mengaktipkan sensor kreativitasnya. Atau ketika ruang kerja kita dibereskan pembantu, kita malahan bingung, mau ngerjain apa ya hari ini kok semua rapih. Bengong luh.

Jakarta 6.12.201
Mimbar

No comments:

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com