News

Loading...

Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

April 03, 2006

Legalisasi Passport... ndak ada itu!

Tiba-tiba saya mendapat email dari Jim McLeod (PNG Coordinator) yang mengatakan saya untuk sementara pindah ke PNG. Lalu dia mengatakan bahwa segera urus Visa di Kedubes PNG Jakarta. Orang ini yang delapan bulan lalu mengatakan tidak usah urus Visa ke PNG sebab saya tetap di Australia.
Terang saja kedubes PNG di Sudirman No 1 Jakarta, rada berang sebab ijin kerja sudah diberikan kok tidak diambil. Singkat kata, Visa PNG berhasil diambil tanpa mengeluarkan satu Kina- pun, tapi dalam emailnya Jim mengatakan urusan Visa ke Australia adalah priority. Saat itu urusan saya tinggal melegalisir basah copy Passport ke Imigrasi lalu semua dokumen dikirim ke Agen Imigrasi di Perth..
Tetapi Kamis 30 Maret 2006 adalah perayaan Omed-Omedan . Lalu saya datang pada keesokan harinya Jumat 31 Maret, dan ternyata liburan di Imigrasi juga diperpanjang seperti layaknya lembaga di Indonesia.
Tanggal 3 April 2006 saya datang pagi-pagi dari Bekasi ke Imigrasi di PostWeg (jalan Pos), Jakarta Pusat, jam 9.00 ternyata aparat yang berwewenang belum datang. Belum lagi mendengaran ocehan petugas Imigrasi yang mengatakan bahwa sejatinya elegalisir Passport tidak ada dalam Uraian Kerja mereka. Singkatnya mereka tidak melayani urusan legalisir.
Stress nggak sih kalau sudah begini....

Tetapi ada lubangnya. Ini perkara khusus sebab diperlukan kepala bagian yang ternyata sampai hari Senin 3 April jam 14:30 belum datang. Saya terlanjur bilang kepada Jim bahwa jam 14 Passport selesai. Padahal dalam hari kita tahu berurusan dengan Pegawai Negeri, waktu sehari atau dua bukan merupakan persoalan besar di Instansi.

Reportnya Jim menyikapi time frame alias obrolan saya dengan serius. Dia bilang tanggal 3 Aprl jam 17:30 WIB ada SQ ke Singapore. Lha ini piye. Passport belum ditangan, sudah suruh berangkat. Kalaupun jam 14:30 sang BigBoss Imigrasi besar datang, belum tentu dia langsung duduk sepesial cuma ngecapin passport saya. Lalu saya harus balik ke Bekasi yang dalam hari senin ini bisa 3 jam perjalanan, lalu ke Airport membutuhkan waktu 3 jam berarti saya perlu 6 jam paling sedikit. Berarti hampir mustahil tiba di Airport sesuai jadwal.

Apalagi yang Jim tidak tahu, sepatu dan coverall saya tertinggal di Ocean Bounty di Locker no 8. Pikir mau balik lagi ke sana. Sebuah spekulasi yang gagal. Berarti saya harus buang waktu cari Coverall dan Sepatu dan Helmet.
Daripada saya miss-flight lantas mereka menyalahkan saya ya saya bilang kepada Jim "Sorry I cannot make it." - sedikit kurang profesional, namun itulah usaha maksimum yang saya bisa lakukan.
Mohon maaf saya sudah dua bulan tidak bekerja, namun saya juga tidak bisa memaksa boss imigrasi datang ke kantornya seperti yang saya inginkan.

Kacau nggak siyh kalau sudah begini. Pingin jeriiit rasanya.

April 01, 2006

Trio Kwek Kwek van Rawabogo


Azan subuh sebentar lagi berkumandang berkumandang. Namun suara katak, jangkrik dan serangga penghuni rawa dingin yang saling bersahutan mengisi pagi. Kabutpun masih menyelimuti puncak pepohonan pisang dan singkong penduduk. Hujan semalaman membuat tanah merah nampak lembek dan rawa mulai tergenang sehingga bibir air menyapu bangunan sangat sederhana dipinggiran rawa yang dijadikan rumah kontrakan.

Pura-puranya kamera bergerak mendekati mendekati sebuah rumah berpenghuni tiga anak. Ada kabut lain, tipis mengepul dari halaman depan. Perempuan berambut panjang sesekali menyibakkan rambut ekor kudanya yang menjuntai menutupi wajahnya. Ia sedang mengaduk adonan tepung beras, mempersiapkan penganan berupa kue cucur dan serabi untuk dijual ke warung-warung sekitarnya. Sepotong kue dilepas 1200 rupiah sementara pihak warung menjualnya 1500 rupiah. Mahalnya minyak tanah menyebabkan mereka beralih ke ranting dan kayu bakar untuk memasak. Yang menguntungkan, bahan bakar tersebut tersedia cukup melimpah di kawasan tempat tinggal kami.

Rumah sempit ini hanya sewaan dengan dua bilik tidur kecil, sebuah ruang tamu dan berbagi kamar mandi dengan tetangga sebelahnya. Paidi harus menyetor 250.000 per bulan kepada pemilik rumah Arya, seorang Bali, Pensiunan Angkatan Udara. Ketika azan mulai terdengar, suara rantai sepeda berkerot pertanda kue sedang dalam perjalanan menuju pelanggan. Paidi, memang menggantungkan nasibnya dari karya sang istri, sementara di sore hari giliran istri menagih transaksi kue yang terjual dan membawa balik kue yang tersisa, serta membeli tepung beras dan bahan lainnya untuk keesokan harinya. Sehari mereka membawa untung 20.000, sehingga untuk membayar sewa rumah. Paling tidak 13 hari harus disisihkan.

Tiga anaknya agak memprihatinkan dalam kecerdasan. Sebut saja ibul, 7 tahun, murid kelas satu. Hanya mampu berkata 5 patah kata sehari, selebihnya diam, apalagi kalau sudah didepan TV tua hitam putih menyaksikan filem Kartun. Selain senyum, tangisnya lebih banyak ketimbang pecakapannya. Atau adiknya Imal, yang lebih cerdas, wajahnya tampan, senyumnya simpatik, namun anak usia 5 tahun ini belum mengenal sekolah, sementara bungsu Nila, 3 tahun, tak mudah diajak bicara kecuali kalau urusan memperbesar rongga paru-paru dengan tangisannya yang terkadang menyebalkan lantaran menjadi senjata utamanya bila meminta sesuatu.

Bagi Paidi dan istri, pantang baginya membentak anak apalagi sampai mencubit. Mereka sadar senjata ampuh sang anak berupa "menangis gulung koming". Kalau tingkah anak sudah tak terkendali, mereka hanya membiarkan anak bergulungan di tanah sampai keletihan dan ini bisa berlangsung satu sampai dua jam diselingi jedda beberapa saat.

Karena kebiasaan mereka bertiga "mewek-bareng-bareng" - kami menggelarinya sebagai "Trio Kwek-kwek." Apalagi didepan rumah ada 30 ekor itik mentok (Manila) peliharaan mereka. Klop sudah. Soal flu burung, bukan isu bagi keluarga ini.

Bila badai tangis mereda bungsu Nia saya wawancarai "tadi siapa yang nangis?"

"Nila" katanya sambil memperlihatkan 4 deretan gigi ompong yang menunggu giliran tumbuh.

"Kenapa nangis," desak saya

"Kue..." - maksudnya minta beli makanan, dengan cara demokrasi yaitu menangis...

Tapi bagi kami, anak-anak ini adalah teman. Kadang mereka sudah "on air" jam 5 pagi. Dengan catatan mereka melewati sarapan menangisnya. Kalau saya cuci mobil atau aktivitas lain di luar rumah, mereka bertiga sibuk membantu diselingi saling berebut selang air untuk main semprotan, dan saya yang basah kuyup akibat kelakuan mereka. Dikantongku sering ada permen, kadang biskuit untuk mereka. Setiap saya memarkirka kendaraan, mereka melihat dengan mata penuh pesona. Akhirnya suatu malam saya mengajak mereka masuk mobil untuk sekedar berjalan jalan. Maksud semula ingin mengajak mereka makan malan di restoran sederhana. Si Bungsu mula-mula bernyanyi dan ceriwis, lalu mulai mengeluh pusing sampai akhirnya muntah karena mabuk kendaraan. Terpaksa semua rencana ke Mal menjadi berantakan diisi dengan acara mencuci jok yang terkena muntahan.


Keponakan saya kalau mengunjungi kami selalu membawakan makanan untuk mereka bertiga. Mereka sebut acara "kebersamaan." Sekaligus pendidikan untuk menumbuhkan empati kepada pihak lain yang lebih memerlukan. Sebagai imbalannya personil Trio Kwek Kwek menemani bermain "bakar sampah atau kayu kering.." yang tidak akan dijumpai di rumah mereka di Jakarta.

Disamping kesabaran mendidik anak, keluarga ini ringan tangan membantu tetangga yang mengalami kesukaran, dan tutur bahasa yang santun, ada keunikan yang ingin saya exploitasi dari eluarga ini. Maaf saya berbicara "sudzon". Jadi anak polisi di tangsi lagi, sukar bagi saya melepaskan diri dari usil dan sok penyidik.

*****
Kami amati sekitar jam 8 pagi, selalu ada sekelompok orang berkumpul di rumah pengap ini. Mereka yang kadang jumlahnya sampai 5 lelaki, berkumpul dan mendiskusikan sesuatu. Karena dilakukan dengan teratur, maka mampirlah "owl messenger" membawa pesan "something going on."

Rapat ditempat super ketat pengap, hampir dilakukan tiap hari ? diperlukan niat, dedikasi dan visi yang membara untuk mampu melakukannya. Bayangkan kita yang sudah kumpul di ruang ber-AC, diberi minuman ringan, kopi, snack yang berlebihan. Rasanya rapat tidak putus-putus. Bosan. Namun mereka rajin sekali melakukannya.

Pertanyaannya, apa visi mereka? padahal kalau dilihat penampilannya mereka adalah orang masih bergulat dengan kesulitan ekonomi yang mendasar. Perkenankan saya menggunakan ungkapan ala mudlogger "yang pakai motor saja bisa dihitung" -

Imal pernah saya wawancarai. Dengan bujukan sebatang coklat nonton kartun.

"Bapak bajar," maksudnya bapak belajar. Catatan kita bicara dimana saya telah mengeja 100 kalimat dengan kecepatan bak caterpillar di dahan.Menggunakan teknik semi hipnotis.

Setelah setengah batang coklat sudah masuk mulutnya. Ia menjawab "Pake Tipex," ini kalimat kedua setelah 100 kalimat saya pelotot perlahan-lahan. Maksudnya belajar pakai triplex sebagai papan tulisnya.

"Tamu" - maksudnya yang mengajar adalah tamu. Kami memang melihat seseorang bercelana hitam, tinggi sedang dan berbadan subur yang selalu datang terlambat sambil membawa buku tebal.

"Tauk, ditutup," ini juga sandi yang dipecahkan sebagai "Saya tidak tahu apa yang terjadi, sebab pintu kamar belajar ditutup.."

Capek nggak sih berdialog cara begini.

Pernah juga dia bilang "ibu pijit...." kata salah satu personel trio Kwek Kwek yang termuda.
"Siapa yang pijit..." - tanya saya ndedes
"Bapak...," katanya polos

Wah, dalam hati saya, jam 13.00 bolong begini pijetan, bakal dari trio menjadi kwartet kwek-kwek.

Jam 10 kadang jam 11:00 para tamu undangan mulai keluar, ada yang mengangkat tinggi-tinggi pantalonnya lantaran sepatu sandalnya kejeblok tanah liat lembek. Ada yang nyengklak sepeda ojek. Wajah mereka seperti baru mendapatkan pencerahan. Dan tetangga masih diselimuti teka-teki. Ada apa dibelakang tembok putih selama ini.

Sekali tempo saya sempat bermain ke rumahnya. Dengan alasan menyumbang botol minum dan tas sekolah buat Ibul. Saya boleh kecele, lantaran tak satupun simbul menempel didinding, atau kitab-kitab aneh misalnya.

Tadi pagi sepulang dari jalan ala "Perjaka Senja" - ditengah kebun singkong ketemu seorang bercaping, memanggul pacul, arit, sapulidi. Saya hanya mengangguk, mahluk bercaping sudah nyerocos. "Pak Ongkot kena beling sekarang dioperasi, kena tetanus pak!" - seperti memahami kebingungan saya dia meneruskan "pak Ongkot itu penggarap kebun singkong ini...".

Lalu ketika melihat satu persatu orang melewati menuju rumah "Trio" - dia komentar "Orang Sunda itu rapat melulu, begini pagi sudah rapat, sementara kita mah ngoret!"

Lho ternyata yang usil pingin tahu urusan orang bukan hanya saya. Plus Sara pisan!
--
Bekasi3/25/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Mimbarpedia
Sudzon: curiga, menaruh rasa tidak percaya.
Ngoret: membersihkan tanaman dari gulma
Nyengklak: Naik sesuatu (sepeda) sambil melompat
Pisan: bisa diterjemahkan lagih (pakai h) atau tauk (pakai k)

March 31, 2006

Segarnya Mantab... boleh... asal sudah sarapan

29 Maret 2006

Liburan weesak, Irah, deputy yang baru 2 bulan bekerja minta ijin pakansi "kecil" lantaran mendapat kabar bahwa orang-tuanya dari desa datang menengoknya. Biasanya kangen-kangenan diteruskan dengan evaluasi penghasilannya selama bekerja di Jakarta. Ada kemungkinan sang orang tua menganjurkannya pindah tauke bilamana hasilnya dinilai kurang memadai.
Masalahnya, Ira di Rawa Bogo sementara sang keluarga "ngepul" di bilangan Grogol. Lantaran Jendral dari Kitchen Kabinet -JKK- merasa tidak PeDe melepaskannya sendirian dibelantara Angkot, Minibus dan Calo-calo sehingga sang deputy diberikan akomodasi dengan supir dari Australia. Jam 04:30 dinihari kami meluncur ke Grogol. Jam 06:00 kami bayangkan Irah sedang ngomong "ngapak-ngapak" dengan sanak familinya. Duh bahagianya.

Saat jarum jam beranjak ke angka 14 belum ada tanda Ira akan melapor. Jam 15 masih idem-dito. JKK mulai gelisah. Pertama bisa jadi Irah memenuhi permintaan orang tuanya mencari penghasilan yang lebih layak, yang kedua - kekuatiran jangan-jangan anak ini sakit. Lalu telik sandi dikirim mencari sisik melik keberadaan Irah. Pelapor menyampaikan berita, Irah berada di Jalan Makaliwe Gang Lima tidak mau pulang lantaran ia muntah terus sejak pagi. Sekarang ia hanya penunggu kamar mandi dengan wajah pusat pasi..." - sementara Orangtua sudah kembali ke desa.

Usut-punya usut. Rupa-rupanya Irah berniat merayakan pakansinya dengan membeli minuman ringan. Begitu cairan dingin yang segarnya mantab itu mengalir melalui kerongkongannya. Ia meringis kesakitan. Alih-alih dunia meriah, perutnya terasa akan pecah. Cairan sodium bi carbonat melepaskan gas CO, menendang kekiri, kekanan, bergulung. Akibatnya Irah "gulung koming" dan harus dipapah berdiri oleh saudaranya. Iklan memang sering tidak mendidik dan kurang informatip. Minuman Segarnya Mantab boleh saja. Tapi perut harus sudah terisi. Apalagi yang cenderung menderita tukak lambung. Kawan-kawan di Outback glegak-glegek minum serupa baik sarapan pagi, siang maupun malam. Kendati ditengarai penyebab osteo, tapi diet mereka di pagi hari adalah full susu.

"Bagaimana kalau operasi SAR digelar". Usul saya dalam rapat darurat terbatas.

Setelah disepakati, tidak lama kemudian kendaraan SAR sudah berada di mulut gang. Untuk menjemputnya orang harus berjalan kaki sejauh 30 meter menuju rumah kontrakan. Kebetulan penghuni lainnya sedang bekerja mencari nafkah. Hanya Irah dan saudara perempuannya yang kami jumpai. Kondisinya lemah sampai untuk berjalan menuju kemobilpun ia harus dipapah sambil sesekali muntah "uger" lantaran tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.

Dalam keadaan lemah, Irah dibawa ke Dokter sementara arloji menunjukkan jam 16. Dokter keluarga kami, Kardi, yang memeriksanya seperti punya firasat agar Irah tidak dibawa ke Bekasi. Lebih baik melakukan operasi pemulihan kesehatan di Grogol. Jam 17:30 ternyata obat yang diberikan hanya menjadikan muntahnya makin menjadi. Akhirnya ia kami larikan ke rumah sakit. Tujuan pertama RS Tarakan, ternyata sampai ke lorong-lorongpun sudah terisi penderita demam berdarah. Coba tilpun RS lainnya, keadaan sama, tidak menerima pasien baru.

Kalau sudah kepentok begini saya pakai jurus KKN, adik kandung, saya tilpun. Pertama minta saran, kedua minta tulung, ketiga saya setengah memaksa. Adik dan temannya sebenarnya sudah masuk Tol menuju Jagorawi dan terpaksa mutar balik ke rumahnya di bilangan Cipinang Jaya 2EE Perumahan Depkes. Saementara menunggu perjalanan kami ke Cipinang Jaya, saya minta adik untuk membelikan cairan infus dan segala ubo-rampe sehingga saat kami tiba disana Irah bisa langsung diterapi.

Teman rombongan adik sampe heran rencana sudah diatur seminggu sebelumnya, tiba-tiba dibatalkan hanya lantaran saya tilpun. "Elu tau, kakak gue ini cuma ngebelain pembokat sakit. Tapi yang gue tau, kalau sampe dia minta tolong, artinya sudah kepentok usahanya kesana kemari.."

Obat-obat kami peroleh di apotik RS Mitra International Jatinegara, yang diperkirakan beberapa tahun lagi akan dibeli oleh perusahaan berlogo Ramsey. Selang dua jam diinfus, keadaan pasien nampak tenang. Tuan rumah menyediakan nasi goreng ayam dan kopi Aceh yang segera kami embat tandas. Baru terasa lapar abizz setelah jam-jam menekan. Setelah botol infus berwarna merah jambu habis, kami minta diri berhubung sudah jam 12:00 malam. Baru nyadar bahwa BBM sudah mendekati nadir. Mobil saya belokkan ke sebuah stasiun yang berlogo tiga warna Merah, Hijau, Biru. Antrean panjang namun hanya seorang petugas yang melayani pom.

Ketika giliran saya tiba, baru satu liter diisi, pompa sudah menyentak berhenti, liter kedua pompa menyentak sama. Sang juru isi bergumam "tangkinya kosong ya pak!".

"Lha sejak kapan tangki dalam keadaan full baru diisi bensin?" tanya saya.

"Kalau tangkinya kosong, anginnya mengganggu pompa kami...."

Seumur-umur mengisi bensin ya baru hari ini saya dikomplin penjual lantaran menyisakan bensin 10 liter dalam tangki. Dan Logo warna merah, biru, hijau tervisualisasikan menjadi Merah, Biru Hijau dan buram, manakala saya lihat stasiun berlogo kerang berdiri tegak tak jauh dari situ.

Tidak perut tidak mobil, kalau sedang kosong lalu diisi mendadak. Bisa timbul masalah baru.

Mimbar Saputro

http://mimbar2006.blogspot.com/2006/03/burung-hantu-dan-irah.html

March 28, 2006

Satpam dan Instalasi yang dijaganya

Hari Senin 27 Maret 2006 saya mengurus Visa ke Kedubes PNG. Bukan lantaran ngipasi Demo di Papua Barat, begitu dikejar aparat langsung nggeber masuk perseneling loncat minta suaka ke negeri lain dan yang lebih penting adalah akal-akalan yang cespleng mencari kerja di negeri orang. Ini memang drama tersendiri. Sebelumnya saya berkonsultasi dengan kantor lokal untuk mengurus Visa Residen di Australia, kantor di CCE bilang gampang!, saya bilang persyaratannya rada mbribet. Foto saja harus dilegalisir Notaris. Eh malahan semua berkas surat saya dikembalikan, hanya Passport dibawa bagian Formality untuk di Cap langsung. Ampuh betul, saya pikir dan cemas. Betul saja setelah 2 minggu menunggu, enteng saja bagian Formalities bilang, "Pak Mimbar kami tidak bisa, urus saja sendiri" - apa nggak mau menjerit rasanya. Akhirnya ketimbang menunggu kelamaan saya di switch ke Papua NewGuinea. Sumringah saya bukan buatan (aseli maksudnya). Pemandangan baru lagi...

Aku agak paman-kikuk lantaran bulan Juni 2005 Visa tersebut diurus dari Australia dan sudah di ACC namun belum ditindak lanjuti untuk dicap di Jakarta. Setelah hampir 8 bulan berlalu saya berdoa mudah-mudahan belum hangus. Kedua, saya belum pernah ke kedubes PNG sehingga perlu bantuan Gunther sang pembuat peta Jakarta untuk mencari posisinya yang ternyata di komplek Panin, jalan Sudirman No 1.

Tetapi hari Senin adalah saat bermacet dan ber-three in one sehingga ketika saya putar-putar cari akses masuk, mendaratlah saya dengan sukses di komplek Ratu Plaza. Dari sana saya mulai bertanya kepada pak Security dimana lokasi kedutaan besar PNG atau Papua New Guinea. Saya bisa maklum ketika Sekurity Ratu Plaza mengangkat bahu, megosongkan pandangan, menoleh kepala ke kiri dan kekanan, balik kedepan lalu gela-gelo, tanda tidak tahu yang saya tanyakan.

Masuklah saya ke Komplek Panin Bank yang lokasinya disebelah Ratu Plaza. Saya lihat ada Drive-in ATM. Lagi-lagi Satpam "ta tanyak-i" ini gaya bahasa Jawa Cina Semarangan artinya "bertanya". Responnya error 404 (kalau di Internet mau ketik yahoo.com jatuhnya kepencet yahoo.coy.

"Apa itu PNG"
"Singkatan dari Papua NuwGini mbak/pak" - kata saya. Mbak dan Pak maksudnya saya sudah bertanya dua jender berlainan.
"Apa itu?"
"Dulu itu Irian Timur mbak/pak" - kata saya

Percumah (pakai h), mereka sedang kerasukan setan tulalit. Setelah berjalan 25 meter dari Gardu error 404 saya melihat sedan putih bernomor CD dan jelas saja Satpam yang "ta tanyak-i" tegas: "Langsung ke lantai 6 pak" - Saya langsung mengeritik cara kerja pengamanan yang masih dalam satu komplek, radius 25 meterpun mereka tidak memahami teritorialnya. Apa ya perlu diberi tuntunan untuk mengencingi setiap pohon, kotak sampah, tiang bendera agar lebih waspada. Pak Satpam jaga hanya menjawab "mungkin Satpamnya baru pak!"

Skenario keamanan begini kalau ada bom meletus, jangan-jangan satpamnya gantian bertanya "bom itu yang bagaimana siyh"

Di Lantai 6, saya hanya melihat dua orang petugas kedutaan. Waktu memang menunjukkan jam delapan lebih seperampat. Duduklah saya di ruang tunggu melihat hasil kerajinan PNG berupa tas anyaman dari sejenis bambu yang kalau orang Tasik, membuatnya akan lebih menarik. Lalu saya lihat produk negeri ini berupa contoh Sardencis. Diluar itu hanya foto Perdana Menterinya dan Ratu Inggris. Lalu saya tarik sebuah koran berbahasa Indonesia. Tahun 2005, jadi isinya masih seputar heboh Busway.

Jam 9:15 mbak Dina masuk menemui saya, pertama saya ditegur tidak mengambil Visa yang sudah dipersiapkan. Kemudan Passport saya ditahan untuk dibuatkan Visa masuk tetapi syaratnya saya harus medical cekap keseluruhan, kelakuan baik, dan mengisi beberapa formulir. Visa di janjikan hari Rabu, tapi kelakuan baik saya sudah expire. Terpaksa harus urus ulang lagi. Huh.

Barangkali kalau Mohtar Lubis masih "gesang" dia akan menambahkan di bukunya. Kondite orang Indonesia dinilai oleh lembaga yang isinya adalah orang yang berkelakuan tidak lebih baik daripada kita. Huh, lagi.

Tuesday, March 28, 2006

March 27, 2006

KTP DKI baru

Jumat 24 Maret 2006

Ambil KTP baru berlaku sampai Maret 2011 (5 tahun) segera di laminasi sampai lupa belum ditandatangani. Akhirnya dengan menggunakan pena spidol untuk overhead projector yang dibeli di AbangAdek Grogol, masalah bisa diatasi. Caranya dengan tandatangan diatas laminasi lalu di laminasi ulang. Petugas WIDJI laminating rada enggan melaminasi over laminasi. Kita bilang its okay. Go head dan kerusakan kami tanggung.

Sabtu 25 Maret 2006

main dengan Tri Kwek-kwek. Duilah batuk mereka. Seperti batuk rejan.

Minggu 26 maret 2006

Satrio Wicaksono (anak) minta dibelikan Kempo-Gi (baju untuk latihan Kempo) di Sinar Sport Semarang. Penjualnya pak Djaswadi masih gaptek. Dikirm hasil scan BCA-internetbanking masih minta dikirim pakai Fax. Masih harus di SLJJ sampai dua kali untuk menanyakan apakah fax sudah diterima dengan baik.

Tanggal 30 Maret 2006 Satrio diingatkan agar ikut pelatihan Jurnalistik.

Kedubes Papua NewGuinea


Senin 27 Maret 2006

Ke Kedubes PNG (Panin Centre) lantai 6 untuk mengurus Visa atas aplikasi Work Permit Number 07050548 yang sudah disetujui. Pasalnya 2 Juni 2005, Visa ini sudah bisa diambil. Satpam mengecewakan ditanya di mana letak Kedubes, tidak tahu malahan gantian bertanya PNG itu apa? - bagaimana akan mengamankan instalasi kalau letak yang diamankan pun mereka tidak tahu. Lapor masalah ini ke kedubes dan satpam lainnya.

Mbak Dina dari kedubes bilang hari Rabu bisa selesai tetapi aku harus urus Kelakuan Baik terlebih dahulu.

Minta tolong Bang Rizal seorang reserse soal kelakuan baik ini.

****
Hi Mimbar,

I am surprised to hear from you, as we organised your work permit and visa last year in June. At that time, approval for your visa was transmitted to the PNG Embassy in Jakarta on 2nd June 2005. You should check with the Embassy if they still have your approval on file. You will also have to submit your passport, a completed application for entry permit form, medicals (inc. HIV test result) and your police clearance. I have attached our standard list of forms and requirements for you to refer to.

The address of the embassy is as follows:

Papua New Guinea Embassy
Panin Bank Centre (6th Floor)
Jalan Jendral Sudirman 1
JAKARTA 10270

Tel: 7251 225 / 218 / 742
Fax: 7201 012

Please let me know as soon as possible if there are any problems. We may need to organise for retransmission of your visa as it has been 9 months since it was originally approved.

Kind regards,
Claire

Euis diraosan heula

Banyak buku membahas teknik menulis di pasaran. Ada yang sederhana, banyak pula yang njelimet. Apalagi yang pelit akan contoh sehingga penuturan terkesan menggantung. Bani Quraisy, ini penerbit asal Bandung, menerbitkan buku yang menuturkan cara sederhana mengelus tulisan dari aneka posisi.

Ketika membicarakan Feature Humor tentang dukun mencabuli pasiennya. Pasien serba salah, mengaku pintar namun berhasil diobok-obok oleh dukun yang SD pun tak tamat. Jika lapor polisi, kawatir pula aib bakalan terpercik. Septiawan, sang penulis buku dengan enteng ia mengambil tulisan di Galamedia (Jabar) yang berjudul "Dukun Eng Ing Eng" yang sering gebubul dan gede wadul karena otaknya amburadul. Seperti pengakuan seorang Euis Bandung, Rosa (24) nama samaran pasien yang sempat di raosan heula (coba dulu) oleh dukun cabul. Sebuah parodi lirik lagu Euis "Euis Kaantosan Heula" menjadi Euis diraosan heula."

Tengok pula feature yang menyentuh rasa kemanusiaan. Seperti Pembebasan Ferry Santoro yang disandera GAM. Penulis berita "langsung" lebih banyak melaporkan para sandera yang kurus, hampir hilang ingatan.

Namun dengan penulisan feature, pembaca diajak menyelami perasaan Teuku Ishak sang "master mind" GAM yang harus mahir bersilat lidah dengan anggota Palang Merah Internasional sebagai mediator pembebasan sandra. Bila ia melepaskan sandera, bisa berarti nyawa mereka terancam lantaran TNI bakal segera merangsek maju dengan persenjataan dan jumlah yang lebih besar. Padahal saat itu para sandera dalam keadaan terpencar dan mustahil menyatukannya tanpa terjadi kontak senjata.

Dalam genggaman pena wartawan, pembaca seakan mendampingi Ishak, melihat pemimpin GAM seperti kita menilai polisi atau tentara sehari-hari. Kata-kata pemimpin di media nampak manis humanis, namun kenyataan lapangan sering berbicara lain. Bahkan tatkala perundingan gagal Teuku Ishak nampak tertekan namun berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya. Ia lalu bernyanyi sebait lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Kotek Anak Ayam.

Dengan aksen Aceh menyebut "t" menjadi "th" seperti. " Lagu gembira konotasi lucu ditelinga bukan Aceh bisa berubah lagu kematian manakala seorang anak ayam (sandera) tewas yang ironisnya ketika akan dibebaskan, bukan oleh penyandera. Para sandra tahu bahwa peluru pembebasan bisa tak bermata. Nyawa setiap saat bisa terangkat dari jasad. Maka tak heran ada wartawan "sandra" yang menangis mendengar lagu tersebut.

Kalaupun anda masih setia dengan rumus mengarang yang diajarkan guru kita semasa SD yaitu 4W+1H. Septian memberi contoh secara aktual. Uniknya ia mampu melihat bahwa cukup dengan satu unsur, misalnya "Who" sudah bisa menulis satu artikel "mayan" menggigit.

Atau anda tertarik gaya penulisan dengan lead menggoda... "Ada tidak sih harga yang tidak naik di Indonesia. Ternyata masih ada. Harga nyawa manusia. Dibumi Osing harganya malahan anjlok. Sampai Oktober (1998) sudah lebih 100 orang terbunuh. Para korban terbunuh karena dituduh sebagai dukun santet..."

****
Gaya menulis feature adalah gaya "terlambat" dalam artian positip - sebagai penyeimbang gaya penulisan berita yang serba hangat dan cepat. Ketika jumlah koran begitu beragam, lalu muncul media TV, radio, dan Internet, semua kejadian dimuka bumi dalam sesaat sudah menyebar. Tiada berita yang terlewatkan. Majalah yang terbit mingguan atau bulanan harus tampil beda, lebih mendalam, lebih menyentuh perasaan jika tidak ingin tertinggal. Konsepnya bagaimana membuat tulisan yang "laat" seminggu namun disajikan menjadi lebih lezat, bak lodeh tempe "wayu" yang makin dihangatkan makin meresap bumbunya. Lalu muncul teknik "feature" alias karangan khas.

Kalau anda sering ngeces membaca kemahiran penulis Gatra, Tempo, Kompas dalam menggumuli aksara sehari-hari. Septiawan Santana, membantu anda menguak misteri penulisannya. Enteng dan tidak terkesan menggurui.

Judul Buku
Menulis Feature
Penulis Septiawan Santana
Pustaka Bani Quraisy Bandung
Tebal 328 halaman
Opat Puluh Opat Rebuk

Mimbarpedia:
mayan : dari kata lumayan
diraosan heula : sunda dicoba dulu
wayu: lewat masa berlaku, tidak segar.
Osing: Banyuwangi

March 26, 2006

SH Mintardja Telah Tiada

http://www.indomedia.com/bernas/9901/21/UTAMA/21uta4.htm

SH Mintardja Telah Tiada
Yogya, Bernas
Penulis cerita bersambung Singgih Hadi Mintardja atau lebih dikenal dengan nama SH Mintardja, Senin (18/1/1999) lalu, meninggal dunia. Almarhum menghembuskan nafas terakhir di hadapan anggota keluarganya, Senin, pukul 11.39 WIB di Rumah Sakit Bethesda, Yogya, dalam usia 66 tahun. Jenazah SH Mintardja dimakamkan Selasa (20/1) pukul 15.00 WIB di pemakaman Kristen Arimatea, Mergangsan, Yogyakarta.
Almarhum dirawat di RS Bethesda sejak Sabtu 26 Desember 1998, karena menderita sakit jantung.

Semasa hidupnya, almarhum lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita bersambung serial silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Kedaulatan Rakyat.

Episode terakhir yang hadir di hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.

Setamat SMA, SH Mintardja yang lahir di Yogya 26 Januari 1933, bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan (1958), terakhir bekerja di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud DIY (pensiun 1989).

Beberapa cerita roman silat yang digali dari sejarah di kerajaan Jawa telah ditulis SH Mintardja -- yang oleh kerabatnya akrab dipanggil dengan nama Pak Singgih -- sejak tahun 1964.

Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah mendalami kitab Babat Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahirlah cerita Nagasasra Sabuk Inten. Kisah berlatar belakang kerajaan Demak itu melahirkan tokoh Mahesa Jenar. Karena cerita Nagasasra sebanyak 28 jilid begitu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca, banyak orang yang terkecoh dengan cerita roman sejarah itu. Banyak yang mengira Mahesa Jenar benar-benar ada dalam sejarah Demak. Akibatnya, tim sepakbola asal Semarang pun dinamakan Tim Mahesa Jenar. Mungkin dengan nama itu Wong Semarang berkeinginan kiprah tim sepakbola sehebat Mahesa Jenar dengan pukulan "Sasra Birawa"-nya yang menggeledek.

"Padahal saya memperoleh nama itu begitu saja. Rasanya kalau diucapkan sangat indah dan kalau didengar kok enak," ujar Mintardja dalam pengakuannya di buku Apa dan Siapa Orang Yogyakarta, edisi 1995.

Buku Nagasasra belum surut dari pasaran, SH Mintardja membuat kisah Pelangi di Langit Singasari (dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an) kemudian dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan.

Agaknya suami Suhartini yang tinggal di Kampung Daengan, Gedongkiwo, Yogya ini tidak pernah mengenal lelah. Pada tahun 1967 menggelindingkan Api di Bukit Menoreh mengambil kisah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Di sana ada tokoh Agung Sedayu, Swandaru, Kyai Gringsing, Sutawijaya, dan paling terakhir adalah Glagah Putih dan Rara Wulan -- saudara sepupu sekaligus murid Agung Sedayu.

Ada sementara penggemar cerita SH Mintardja yang bilang, bila dijajarkan, maka cerita Api di Bukit Menoreh panjangnya melebihi jarak Anyer - Panarukan. Asal tahu saja, kisah itu memang lebih dari 300 jilid (buku) dan hingga akhir hayatnya kisah itu belum selesai. Dan masih ada puluhan serial cerita kecil lainnya yang dibuatnya.

Di sisi lain, Mintardja pun berusaha menulis kisah petualangan pendekar pembela kebenaran yang lebih pop. Kisah itu tidak terlalu keraton sentris, namun berusaha digali dari kisah kehidupan sehari-hari dengan setting masa lalu, ya apalagi kalau tidak jauh dari kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Kisah seperti Bunga di Atas Batu Karang yang mengisahkan masuknya pengaruh Kumpeni Belanda ke Bumi Mataram; kemudian serial Mas Demang yang "hanya" mengisahkan anak seorang demang. Dan terakhir adalah tokoh Witaraga dalam kisah Mendung di Atas Cakrawala, mantan prajurit Jipang yang kalah perang yang berusaha menemukan jatidirinya kembali dengan mengabdi pada kebenaran dan welas asih.

Perkenalkan budaya
Ada yang khas dari seluruh kisah yang ditampilkan SH Mintardja. Ia berusaha menyelipkan pesan-pesan moral di dalamnya. Bahkan di dalamnya juga diperkenalkan beberapa kebudayaan Jawa yang mungkin saat ini mulai punah. Sebagai contoh adalah ungkapan rasa syukur menjelang panen padi di desa-desa. Upacara "wiwit" yang berarti "mulai" (panen), berupa pesta kecil di tengah sawah, beberapa kali dengan jelas ditampilkan dalam beberapa ceritanya.

Adat kebiasaan "mitoni" atau "sepasaran" dalam menyambut kelahiran bayi di masyarakat Jawa pun dengan pas digambarkannya.

Banjir darah tidak selalu dijadikan penyelesaian akhir untuk menentukan bahwa yang benarlah yang menang. Ada penyelesaian akhir yang lebih pas. Bertobat, tanpa harus ada yang terbunuh.

Bahkan ayah 8 anak, empat putra dan empat putri serta kakek 12 cucu ini, sejalan dengan usia dan perkembangan zaman, kematangan menulisnya pun semakin tercermin di dalam kisahnya.

Jika pada kisah Nagasasara Sabuk Inten dan Pelangi di Langit Singsari masih menggunakan bahasa "tuan" untuk menyebut anda ataupun engkau, maka pada Api di Bukit Menoreh dan kisah lainnya, kata "tuan" itu sudah raib dari kamus kosa katanya.

Entah terpengaruh oleh film atau karena melihat anaknya berlatih silat, untuk menggambarkan serunya sebuah pertarungan tidak lagi digambarkan dengan angin yang menderu-deru dan desingan senjata; namun lebih masuk akal. Gambaran teknik bela diri murni digunakan di karya-karyanya yang terkhir. Bila akhir dari sebuah pertempuran memang harus dengan tenaga dalam, ya itu tadi, pembaca lagi-lagi dibawa berkhayal melihat benturan ilmu maha dahyat yang bobotnya melebihi granat. Ya, namanya saja cerita.

Ternyata, selain mengarang cerita silat atas kehendaknya sendiri, SH Mintardja juga tidak menolak cerita pesanan, misalnya, untuk pementasan ketoprak. Beberapa cerita sempalan seperti Kasaput ing Pedhut, Ampak-ampak Kaligawe, Gebranang ing Gegayuhan merupakan cerita serial ketoprak sayembara yang disiarkan TVRI Yogyakarta.

Kini SH Mintardja telah tiada. Mungkin banyak penggemar karya-karyanya yang ikut sedih dan kecewa karena kisah-kisahnya masih menggantung di tengah jalan. "Tapi semua memang kehendak Yang Maha Agung. Kita tidak dapat menolaknya," begitu sepenggal pesan moral SH Mintardja yang sering dia tulis dalam berbagai karyanya.

Selamat jalan Pak Singgih. (ee/djo)

March 25, 2006

Buku Keladi Tikus yang gagal terbit

Saat saya berada di tanah air pada pertengahan Desember 2005, saya dihubungi oleh seorang redaksi penerbit buku Agro (Pertanian) yang tulisan-tulisannya selalu laris manis dipasaran. Ia bermaksud menjadikan saya sebagai narasumbernya dalam proyek penulisan buku mengenai Keladi Tikus (KT). Judulnya waktu itu Menggerus Kanker Dengan Keladi Tikus.

Para penulis buku memang jago dalam mencari judul. Mereka menggelitik sifat ingin serba instant kita dengan judul yang menohok. Sebaliknya bagi saya membuat buku adalah pertanggungan jawab kepada masyarakat luas. Saya tidak berani menjanjikan hal diluar sepengetahuan saya. Lalu aku jelaskan bahwa aku cuma penyalur, ilmunya dari Prof Theo di Penang, yang bikin orang lain, apoteker yang meracik obat orang lain sayangnya si peracik "sering sakit gigi" - ketus, dan paternalis. Lebih eksentrik lagi, memilih-milih pasien.

Namun Tanggo, sebut saja demikian, nama redaksi tersebut tetap mendesak saya. Bermula dari nara sumber dalam sebulan saya naik pangkat penulis II. Kalau terbit judulnya mirip acara TV sepertiMr A, Feat(uring) Mimbar Saputro. Naskah saya edit disela-sela kesibukan saya memonitoring sumur di Australia.

Ketika naskah sudah selesai Tanggo menghilang. Tidak pernah menghubungi saya. Saya pikir ia sudah melupakan naskah tersebut. Namun Februari 2006, penggantinya sebut saja Tatik memperkenalkan diri, suaranya di ujung tilpun terkesan lembut, merak hati nampaknya. Hanya kesan tersebut berubah begitu ia memberi perintah. Sepak terjangnya seakan menganulir komitmet semula antara saya dengan Mr. Tanggo.

Pendek kata naskah hampir berubah dirombak olehnya.

Salah satu permintaannya Pemotretan harus di studio mereka, termasuk tanaman keladi basah, keringan keladi, bubuk keladi tikus harus lengkap. Lalu datang lagi instruksi kedua, artikel harus menyertakan paling tidak 10 Jurnal Kedokteran yang mendukung Keladi Tikus. Kalau ada pasien sembuh harus ada buktinya secara kedokteran. Misalnya hasil rontgen sebelum dan sesudah, lalu hasil PA sebelum dan sesudah treatment.

Menyusul pertanyaan menusuk rusuk pertahanan misalnya bagaimana kita yakin KT adalah sang penyembuh. Bisa jadi pasien mengonsumsi obat lain selain Keladi Tikus? Sakit kepala saja minum Aspirin, nyeduh Jahe anget, Kerokan, Pijat, nyeruput supayam hangat. Orang terkena kanker tidak mungkin hanya percaya satu obat, mereka akan melakukan kombinasi. Demikian jawab saya.

Permintaan lain "bapak harus menulis mengapa bisa timbul kanker, mengapa sel bisa tumbuh tak terkendali, mengapa ada radikal bebas, mengapa ada kanker usus, kanker prostat."

Lini pertahanan saya kedodoran. Dari dulu saya bilang :"Jujur dan Tulus." Aku adalah manusia biasa, Bukan Cinderela yang kalau jam 12 malam, bisa berputar 180 derajat mengubah tak mungkin menjadi kenyataan. Kalau saya PeDe menulis seperti yang diinginkan, maka kekuatiran saya adalah Naskah KT menjadi KTT alias Karangan Tak Tahu Malu.

Sepanjang pengetahuan saya kesembuhan berasal dari testimonial pasien. Kadang datang pembeli (bukan pasien) lantaran dalam salah satu kesaksian kesembuhan, mereka mengaku minum KT. Kadang dengan cara getok tular.

Kanker itu seperti diabetes, hari ini lolos, kalau "ndak jaga badan" maka gerilyawannya nggruduk penderita. Atau beberapa rumah sakit Kanker Swasta mengirimkan pasiennya untuk mengonsumsi KT disamping tindakan kemoterapi dan obatan modern lainnya. Tentu saja kami tidak berhak memberi tahu nama-nama dokter tersebut.

Lagipula Keladi Tikus hanya untuk kanker, saya rabun kalau dibilang bisa sembuhkan roepa-roepa penyakit sebagaimana Darah Tinggi, Darah Kotor, Diabetes, Impotensi, bahkan kalau dikonsumsi perempuan hamdan alamat "kluron" atau gugur bunga. Tidak ada obat dewa mampu meluluh lantakkan 1001 macam penyakit.

Soal penelitian kedokteran, saya bilang anda pasti banyak membaca buku asing. Kalau bicara kambing, jangan harapkan auman harimau yang keluar. Kalau alternatip dicoba ke pendekatan tabib modern (dokter),ibarat Mak Erot bicara soal memperpanjang pernis dengan bantuan urut dan jampi dengan dokter Boyke yang bertolak dari prinsip bahwa penis tidak dapat diperbesar. Mak Erot lantaran tak pandai berdebat seperti seperti kalah dan salah dan pembohong. Namun kalah bicara tak berarti mengurangi jumlah pelanggan dan umumnya malu mengakui keampuhannya.

Jaya Suprana dari jamu Jago mengeluarkan produk "Upik Buyung" yang disohorkan menyerdaskan otak anak-anak kita. Para apotekernya sendiri pesismis jamu "aeng-aeng" begini akan diterima masyarakat sehingga diproduksi dalam jumlah sedikit. Ternyata produk ini kelak menyelamatkan Jago dari merumahkan karyawannya karena omzet penjualnya ruar biasa..

Redaksi tidak setuju... "Ada keraguan dalam tulisan bapak".- Saya meneng (diam) dan mathuk (setuju). Bukankah sejak semula saya hanya koeli minyak. Lalu baris email selanjutnya: "Kami tunda rencana penulisan."

*****
Belajar falsafah dari Jendral Muhdi bekas Kopasus yang geram betul lantaran dia ditekan utuk mengaku membunuhi lawan-lawan Suharto. Orang Jawa, menurut Muhdi kalau ditekan akan menjalankan 3 M. Meneng, Mandeg kalau dua langkah masih belum selesai M ke tiga adalah Mengamuk...

Lalu saya bilang, selama ini saya jadi pihak menerima terima perintah, manis-manis, inggih-inggih. Kalau buku terbit saya dapat apa sih? lah wong kontrak saja tidak ada...

"Tapi bapak dapat populer, promosi keladi tikus..." katanya di ujung tilpun.

Ini dia, saya penikmat Anti Marketing. KT tidak perlu promosi, jangan terlalu banyak berkoar. Malahan mengundang para "imitator" baru.

Rupanya bu Tatik tidak berkenan dengan jawaban saya. Akhirnya jatuhlah talak. Mereka bilang melihat respons saya terhadap mereka, penulisan akan diserahkan kepada pihak lain. Cerdiknya setelah semua bahan terkumpul siap saji.

*****
Keladi Tikus sudah dipromosikan lama tiga-empat tahun lalu. Saya pun tahunya dari milis. Sementara terjadi pro kontra di sebuah milis. Saya menyambar kesempatan tersebut.

Pertama pohon saya bagikan gratis, tapi lama-lama kami kewalahan dengan peminat gratisan. Lalu saya kasih beban ongkos kirim, peminat mulai berkurang.

Lantaran pohon dan umbinya kurang praktis dikirim secara AKAP -antar kota antar propinsi , disamping keluhan gatal sekitar mulut saat mengonsumsi. Tanaman ini diganti dengan bubukannya agar lebih praktis.

Harga KT relatif stabil dari 2000-2006 masih segitu-gitu saja yaitu dua ribu rupiah per kapsul, satu botol terdiri 50 butir. Produsennya sendiri sudah menaikkan ongkos kirim, harga jamu, tetapi kami usahakan tidak terpengaruh BBM. Lucunya setelah jamu beberapa lama di tangan pasien, kadang kami menerima tilpun bahwa penyakitnya sudah sembuh, mereka ingin sisa obat yang belum dikonsumsi dikembalikan?

Belakangan kami agak sedikit ragu untuk meneruskan bisnis ini melihat banyaknya kejadian seperti rumah sakit merawat pasien tak mampu, diberi keringanan, giliran terjadi kematian, keluarga langsung menuntut miliardan rupiah.

Jamu adalah obat alternatif. Prosesnya teradap tubuh membutuhkan waktu lama. Perlu ketekunan. Dan sayangnya soal yang satu ini kita memiliki kesabaran yang tipis.

Keladi Tikus (Rodent Tuber)

    • Ass, selamat pagi Bapak Bambang Seputro. Perkenalkan saya YA mahasiswa Kimia FMIPA. Belum lama ini, saya baru saja menyelesaikan penelitian daya hambat KT terhadap enzim tirosin kinase. Setahu saya, enzim tersebut mengatur pertumbuhan sel2 tubuh.jika enzim itu berlebih, maka akan menyebabkan kanker. Saat ini saya sedang menyusun skripsi. Saya ingin bertanya tentang penelitian KT. Barangkali Bapak mengetahui hasil penelitian KT, atau mungkin Bapak sendiri telah menelitinya, mohon saya diberitahu hasilnya melalui email ini karena saya membutuhkannya sebagai sumber literatur. Saya pernah berkali-kali menelpon Gajahsora, tetapi nada sambungnya "tulalit" terus. Saya mohon pada bapak untuk membalas email saya ini. Terimakasih atas perhatian dan bantuannya.
    • Yth Ibu Erni: Kami ingin mendapat informasi lebih lanjut mengenaiJamu Keladi Tikus, khususnya mengenai harga jamu tsb.berikut info agen yg menjual Jamu Keladi Tikus di Palembangberikut alamatnya. Saya sangat membutuhkannya utk mengobati orang tuakami yang terkena kanker tenggorokan. Terima kasih atas informasi dan bantuannya.--SS.
    • Bapak/Ibu, Ibu kami usia 60 tahun hari rabu kemaren Maret 2006 baru saja dioperasi di RS Padang, Sumbar, utk pengangkatan payudara sebelah kanan karena terkena kanker payudara. Tindakan operasi diambil setelah usaha pengobatan tradisional melalui pengurutan, termasuk minum ramuan buah merah dan virgin coconut oil tidak membuahkan hasil yg memadai.Kami baru saja dapat informasi dari teman bahwa keladi tikus dapat menjadi obat utk penyakit kanker payudara. Untuk itu, mohon kiranya petunjuk pengobatan dan tata cara pemesanan serta biayanya.Atas perhatian dan bantuannya, kami haturkan terima kasih. Wassalam, FH.
    • Iboe Ernie,Saya tertarik dengan tanaman keladi tikus.Apakah saya dapat memperoleh tanaman tersebut?Jika mungkin bagaimana caranya?Hal ini ehubungan dengan ibu saya yang divonis kanker paru2.Mohon bantuannya terima kasih,-ph-
    • Dear mas Mimbar.. Semoga sehat selalu.. Mas, apakah masih berurusan dengan perkeladi tikusan? Ada temen yang membutuhkan bantuan untuk ibunya yang kena breast cancer..es

March 23, 2006

Burung Hantu dan Irah

Depan rumahku ada sebuah lampu hasil swadaya warga dengan cara menggantol listrik secara bebas, langsung dan sedikit rahasia. Penerangan jalan dimaksud agar "iseng." istilah lain untuk hal yang bersifat senyap dan membuat bulu roma berdiri. Tetapi sejak saya di Bekasi, penerangan tersebut saya biarkan sampai lampunya "dut".

Alasan lain, aku kurang sreg dengan penerangan liar ini sebab kalau ditelusuri ada sebuah kabel rahasia yang tersambung ke rumah warga yang memasang lampu tersebut. Rupanya ia tergoda untuk mendapatkan tambahan listrik gratis ke rumahnya.

Lalu aku menggantikannya lampu dari rumah yang dipasang sedikit menjorok keluar sehingga sinarnya mampu menerobos keluar pagar dan memberikan sedikit penerangan, sementara bekas penerangan kubiarkan terlantar.

Belakangan ini warga gempar, seekor burung hantu kerap bertengger di cagak bekas lampu.
Apa yang salah dengan seekor burung hantu mencari makan, atau ular yang kesasar kerumah saya. Ini desa "Rawa Bogo" ada pohon "Pasar Kecapi" ada hutan "Jati Makmur" - masih banyak pohon besar yang semoga tetap disana untuk memberikan perlindungan bagi habitat burung langsa ini. Apalagi mahluk berjambul halus yang besarnya "adeb-adebi" ini sering berteriak "kreaaak" memecah kesunyian saat berhasil memperoleh salah satu rantai makanan berupa katak, tikus, ular atau serangga malam, sambil menyeruak diantara gerumbulan semak menuju pepohonan besar.

Tetapi bagi bagi warga apalagi Irah, 16, asisten Kitchen Cabinet. Kicau merdu mahluk tersebut sangat nggegirisi sebab jauh dari lagu "uhu-uhu suaranya merdu". Merdu apaan, katanya tubuh mungil berkulit hitam ini sambil menahan gemetar mendekati histeris. Sudah itu munculnya setelah magrib terbenam lagi.Sepertinya Irah tetap percaya ucapan turun temurun di kampung bahwa burung hantu "owl messenger" dari dunia demit ora ketok. Seperti "pre-alert" akan datangnya berita kedatangan batara Yamadipati. Pokoknya burung Hantu adalah "ora ilok" begitu di benak gadis berambut sebahu ini, ia adalah jelmaan Nenek Sihir menyedot darah bayi-bayi yang terbuai dalam tidurnya.

Celakanya lagi dia baru saja bekerja untuk 3 minggu bersama kami sudah ringkes-ringkes minta pamit mundur. Maka repotlah kami membujukinya agar niatnya dibatalkan.

Keputusan Irah untuk "cabut" bukannya tanpa resiko. Maklum ia sudah bekerja saat usianya baru "retes" remaja pada 12 tahun. "Baru kelas lima, bapak menyuruh saya bekerja".

Singkatnya ia diminta ambil alih tanggung jawab orang tuanya yang sehat bugar. Semua bukan untuk dirinya. Ayahnya terbiasa pasang tarif 400.000 rupiah yang diambilnya tiap bulan melalui BCA. Bila jumlahnya kurang atau uang sudah habis sang "pemerah anak" ini naik darah.

Pernah Irah berbohong bahwa gajinya kurang dari 400.000 lantaran sebagai perempuan ia ingin bersolek, bercelana legging, syukur punya handphone. Order dari kampung langsung menyengat. Keluar segera dari "bendaramu" dan cari pekerjaan yang bergaji tinggi. Ini urusan UMR. Di Jakarta peluang bekerja sangat banyak... Entah setelah memutuskan hubungan SLJJ sang ayah juga cari kerja sesuai perkataannya? Irah hanya mengangkat bahu, namun artinya tegas "nganggur!.

Debut karirnya ia menjadi babby sitter. Mengantarkan anak taukenya ke sekolah. Betapa gembira sang anak kalau sudah pulang sekolah, lepas tekanan yang melelahkan, apalagi boleh jajan. Sementara sang pemomong, bibir senyum namun hati teriris, ia hanya bisa membawa buku sekolah orang lain. "Alangkah bahagianya bisa bersekolah. Duh Gusti..." Sebuah cita-cita yang dinafikan oleh umumnya para pekerja kasar.

Di panggil pulang kampung

Lalu ada tilpun dari familinya, bahwa Irah harus pulang lantaran neneknya sakit, padahal sejatinya sudah meninggal. Nenek yang disayangi dan selalu membelanya dari tekanan ayahnya. Tapi biaya penguburan dan "selamatan" ia harus menanggungnya. Sehingga berita kematian diplintir menjadi "nenek sakit keras."Ira pulang lantas menunggu upacara tujuh hari seperti layaknya tradisi di desanya. Ia kembali ke Jakarta tatkala sang "pemerah anak" sudah mulai sering marah-marah. Sialnya, setiba di rumah tuannya posisi pemomong anak sudah diambil orang lain. Bahkan beberapa potong baju masih tertinggal disana. Ia jadi pengangguran, tinggal pada kontrakan sempit kerabatnya.

Itulah awal anak cerdas dan sigap gawe ini bekerja pada kami Maret 2006 ini.

****

Kalau saja Irah tidak rabun-komputer saya akan bilang, selain ada MSN Messenger ada Yahoo Messenger, ada OwlMessenger misalnya dalam cerita Harry Potter yang selalu mendapat surat, koran, bahkan titipan paket yang dibawa oleh Harriet sang Burung Hantu Putih.Kalau saja Irah sekolah, mungkin dia tahu bahwa sebagai binatang nocturnal (kelayapan diwaktu malam) sehingga bergelar sang elang malam ini didapuk sebagai simbol pengetahuan lantaran kemampuan matanya yang nyaris sempurna menembus belukar malam.

Andai saja Irah pernah baca sejarah mengenai Dewi Yunani yang selalu membawa Celepuk sebagai simbol Dewi Kebijaksanaan. Burung Hantu yang terbang didepan pasukan Yunani selalu diterjemahkan sebagai "Victory."Irah belum tahu bahwa dalam shamanisme, burung hantu dikaitkan dengan keadaan yang "waskita". Kemampuan melihat sebelum terjadi, mendengar sebelum diucapkan.

*****
Di layar TV saat Basuki dengan cerdas mengiklankan SUKRO kami terpengaruh, dan meminta Irah beli di warung, melewati jalan tanah merah yang selalu ditimpa hujan setiap sore sehingga perlu pakai sepatu boot. Tapi yang paling menakutkannya disisi jalan ada kuburan keluarga, mana gelap lagi. Belum lagi cerita "sirik" bahwa salah satu tetangga kami memelihara jin untuk ambil alih tugas Satpam. Dan poskonya adalah kebun singkong di "belor" rumah. Belor adalah seBElah Lor. Tapi wetan tidak disingkat Setan.

Melihat wajahnya ragu-ragu saya melihat kesempatan membesarkan hatinya. Sekalian cari Majalah. Melihat saya besiap pergi, gantian, perempuan pecandu sinetron Cincin dan Leontin ini yang kuatir: "sudah malam pak!, nggak takut?"

"Entar kalau pulangnya badanku ada yang kurang aku kasih tahu kamu ya...." kata saya. Saya kadang harus sok-sok berani, sok pamer "bisa berdialog dengan dunia lelembut" - pasalnya persepsi masyarakat kadang mengacaukan sehingga mudah diterror dengan isu yang ditiupkan.

Dulu kantor saya dibilang ada penampakan. Sebulan kemudian, 10 set komputer diangkut maling.Lalu saya bilang, nanti kalau ketemu muka dengan si Celepuk ini akan saya tanya dia bawa surat panggilan atau sapu terbang. Atau ingin menyampaikan bahwa Visa Australia saya yang rendet jalannya bisa di proses.

Irah senyum ketika dia melihat saya pulang utuh.Irah adalah satu dari jutaan pembantu mencari peruntungan di kota besar. Mereka bekerja 30 hari sebulan, sementara ia sendiri mengambil 50.000 per bulan pun berbonus ketakutan. Mudah-mudahan Ira kerasan bekerja dengan keluarga Mimbar yang cuma 3 orang dan seekor Celepuk Jawa yang bebas.

Kreaaaaak.... (2 kali)
--
Bekasi
3/24/2006
Mimbar Bb. SAPUTRO
Text Msg: +62811806549

Dialek Citayam

Sampai sekarang saya masih harus keteter (ketinggalan) ketika memberi instruksi kepada pegawai yang asalnya dari Citayam, Depok, pasalnya mereka memiliki perbendaharaan Betawi yang tidak saya bisa ikuti seluruhnya sehingga muncul gagasan untuk menuliskannya

adaan "the have". misalnya orang Jakarta biasanyaorang "adaan" (orang yang berkantung tebal)
ampar-amparan bertebaran misalnya telur ikan sudah ampar-amparan di permukaan kolam
anco menangkap ikan pakai jaring persegi
babeh bapa
bader bandel
bagen biar saja (I dont care)
balarak model ikat kepala
bandotan jantan untuk kambing, ayam ataupun ikan
bangun sering diartikan dengan terlepas, copot
belor sebelah "lor" atau utara.
beronjong keranjang anyaman untuk angkut buah-buahan pakai sepeda
bengis rakus
bringsang terasa panas waktu mendung
bokek sedang tidak punya uang
bonggan salah sendiri
bonto busuk, lapuk
cabrok lantera minyak
cak dipikir, direnungkan misalnya udah di"cak" belum omongan kita kemarin?
capyo topi laken ala eropa
cemein diseringai di cuwekin
cipruk basah kuyup
danta jelas persoalannya
demek setengah basah
dibalesi diulangi, ngecatnya dibalesi sampai rata
eja membuat/mengerjakan misalnya kami sedang "mengeja" rumah
empan pakan untuk binatang pelkiharaan sepertikambing, ikan, ayam
empo kaka perempuan
ence bibi, tante
engkong kakek, mbah kakung
entong anak lelaki
enyak nenek, wanita lanjut usia
gedeng ikatan padi
gebuh menggemburkan tanah disekitar tanaman
gempor lumpuh
gemuk sekam bercampur pupuk kandang yang biasa dipakai untuk memupuk tanaman
getap giat bekerja
gelodogan pipa pralon untuk pemasukan air kedalam kolam dan pengurasan kolam
impas lunas
keder tak tahu arah
kobakan lunbang kecil dipinggiran atau tengah kolam untuk mengumpulkan ikan didalam kolam komprang celana pangsi lebar
koya lubang penampungan kotoran biasanya dimasuki oleh ikan pemakan kotoran untuk melakukan daur ulang
keriaan keramaian ada pesta pernikahan, sunatan biasanya disertai pertunjukan layar tancep dan dangdut
lisik mulus tiada cacat misalnya waduh ikan lelenya pada lisik
mamang paman
manjat naik ketempat lebih tinggi termasuk dari kolam naik ke permukaan, kadang ungkapan untuk tanda selesai pekerjaan. Kadang disebun nanjat dengan "n"
meron menjual barang hasil bumi ke peron (stasiun kereta api) sebagai tempat pengepul
milir: berjualan keluar masuk kampung sama dengan ngampung.
muji singkatan dari mujair
moncer terkenal
nabun membakar sampah
ngalong mengangkat pedagang sayur ke pasar pada saat sangat dinihari, dilakukan sekitar jam 2 subuh
ngampung berjualan eceran dagangan ke luar masuk kampung
papagan berpapasan
pisan sekali misalnya resep pisan artinya suka sekali
pucuk dedaunan muda seperti pucuk daun singkong, pucuk pepaya
puun pohon
resep senang, dibaca reuseup
sambat gotong royong
satroni menjadi sasaran penjahat
serok mengambil ikan pakai tanggok
sius ikan patin
sosog alat menangkap ikan mirip kurungan ayam
tapi begitu, terlalu misalnya "ikannya nggak tapi demen pelet" - maksudnya ikan tidak begitu suka pelet
wak ini sering berarti nenek

Foto di Quick Channel


Saat berbincang mengenai gurami bersama QuickChannel yang dipandu oleh Christiantoko dari Tabloid KONTAN. Pembicaraan ini sebagai penyeimbang lajunya informasi bahwa dengan menaruh uang sebesar 1 juta lebih maka dalam beberapa bulan (3 bulan) akan dapat penghasilan tambahan. Jelas penipuan sehingga masyarakat diminta waspada. Pulang kantor masih keringetan saya melaju dari TB Simatupang Kav 51A ke Wisma IndoVision di Kebun Jeruk.

Disaksikan Istri dan Thomas Widyanto (Kontan)

March 22, 2006

Testimonial Nagasasra Sabukinten

Tahun 1967 di Bandar Lampung, tepatnya SMA II, Tanjung Karang, kelas saya kedatangan seorang siswa pindahan dari Sragen, tinggi, berkumis dan berambut kriwel-kriwel. Ayahnya, Sriyono seorang jaksa yang luar biasa militan religiusnya. Setamat SMA (1970) akumeneruskan sekolah ke Yogya dan Teman ini masuk AKABRI Kepolisian sampai ajal menjemputnya disana dalam satu latihan. Teman inilah yang memperkenalkan aku kepada cerita Nagasasra dan Sabukinten, tapi lantaran waktu itu sedang gandrungnya aku akan komik karangan Ganes TH, maka cerita yang katanya hebat tersebut aku lewatkan. Lho di Yogya "jalan Klitren Kidul no 7" temanku "Pepen" alias Efendi Masadi juga anak Lampung tiap pagi kerjanya membaca cerita semacam ini, dan dialah yang mempengaruhiku sampai akhirnya aku tertarik. Tatkala pada aku mendengar bahwa SH Mintardja meninggal dunia, kepikiran untuk menyimpan salah satu karangannya yang saat itu mulai ditayangkan di harian Kedaulatan Rakyat.

Sambutan dari teman meriah sekali, sampai aku kirimkan secara teratur ke milis upnvy@yahoogroups. Dan akhirnya saya buatkan sendiri Gajahsora.Com dan Gajahsora.net.
Kadang akau ditilpun oleh pembaca yang mengira aku menjual bukunya. Kadang ada yang berdiskusi bagaimana mempelajari ilmu lembu sekilan, ada yang mengira akumenguasai ilmu kanuragan tersebut.Seorang pembaca malahan menghabiskan uang dan waktu dengan menapak tilas tempat-tempat yang pernah dijalani oleh Mahesa Jenar.

Seorang ibu dengan suami dan anak-anaknya mudik dari Jakarta ke Yogya, perempuan batak ini mulai bercerita soal Mahesa Jenar yang dibaca di Websiteku, sepanjang perjalanan sampai mulutnya terasa kebas. Sulungnya sekarangmenjadi dalang cilik.

Apapun juga, pembaca itulah yang selalu memberiku semangat ketika aku memutuskan untuk menyetop cerita ini. Apalagi beberapa teman ikut melestarikan cerita di websitenya. Namun protes demi protes aku terima dan seperti anda lihat cerita ini tetap ada di dunia maya.

Sampai satu saat seorang ibu hitam manis dari Amerika marah-marah kepada saya, karena saya memberitakan sesuatu tidak adil. Ternyata gara-gara aku mengutip artikel di Detik.Com yang mengatakan bahwa ilustrator Nagasasra adalah Herry Wibowo, padahal menurut ibu Estu Brataningsih, pelukis pertama adalah Kentardjo, yang notabene sang ayah.

Itulah sekilas cerita Nagasasra Sabukinten yang konon menyebabkan kecanduan berat.

Date: 2004-07-27 05:22:31 H. Darwin: Gajah Sora yang lama juga tidak jelek, tetapi yang sekarang kelihatan lebih gagah. Kayak Pasingsingan kali, banyak topeng nya SELAMAT dan SUKSES

Date: 2004-07-28 08:08:02 Akhmad Herman Yuwono: Wah..syukur deh kalau ternyata website gajahsora ternyata masih ada, hanya tampil sedikit genit sekarang..he..he. Minggu lalu akses gagal terus, saya sangka sudah tewas..padahal kalau akhir minggu baca ulang Nagasasra-Sabuk Inten paling asyiiik..OK deh..All the Best untuk Mas Mimbar!

Date: 2004-10-16 09:03:22 Riswanto Agung Sedayu: saya sungguh merasa menemukan oase denga membaca kembali nogososro sabuk inten. itu bacaan saya waktu SD, kira-kira 25 tahu yang lalu. di batam tidak ada yang sama hobinya dengan saya. terima kasih banyak

Date: 2004-08-27 08:12:09 Herwindo : ternyata masih ada yang mau melestarikan cerita klasik seperti ini. Maju terus pak Mimbar

Date: 2005-01-06 14:15:55 Liliek Saputro : Finally, i found what im looking for! A Mahesa Jenar Story! My hero! Thanks a lot.


Date: 2004-12-11 15:00:30 F.A.Gunawan: Terima kasih banyak atas dimuatnya Nagasara dan Sabukinten di wesite ini, yang sudah lama saya cari. Maju terus dalam membudayakan karya anak bangsa. Salam hangat

Date: 2004-10-30 06:28:22 NB Santoso : I'm really surprise about this web since I've tried hard to find how can I read SH mintarja Books,I love his writes. It's just like a nostalgia for me. thanks and please include also the other titles, not just Nagasasra and tanah warisan.

Date: 2005-04-11 12:58:29 Chacham : Saya mulai mengenal karangan2 SH Mintarja sejak SMP tahun 70 an, yaitu Api di Bukit Menoreh. Mengetahui sedikit tentang Nagasasra Sabukinten dan baru membaca seluruhnya dari Internet. Wah seru banget.. Seperti yang lain, saya menunggu Api di Bukit Menorehnya. Saya suka dengan watak Agung Sedayu, serta Kyai Gringsing.

Date: 2005-01-30 12:12:10 Adi : wah bagus sueekaleee ada nagasasra sabukinten yg mengingatkan saya saat masih duduk dibangku smp awal tahun 1970-an begitu jilid selanjutnya terbit langsung aku pinjam dari persewaan komik dan kubaca dlm waktu 2 jam selesai hahaha...saya suka aryo saloko dg tombaknya dan sepasang uling dari rawapening...kadang suka menirukan mahesa jenar matak aji...juga suka dg ke kebo kanigoro kakaknya kebo kenanga yg punya keyakinan berbeda ... hahaha...ki ageng pengging rara wilis yg diedani joko soka...hahaha....ki dalang mantingan...waah...waah... aku juga baca tanah warisan juga api di bukit menoreh tapi bosen krn gak pernah tamat sampai aku kuliah...hahaha...

Date: 2005-01-29 14:18:09 Kwin Haryoko : Mas Bambang, maturnuwun atas di-upload-nya mahesa jenar, yg duluuu banget pernah didongengkan almarhum bapak saya. Seperti sahabat2 yg lain, saya pun akan sangat berterimakasih lagi bila API DI BUKIT MENOREH seri-1 bisa njenengan tampilkan. Suwun.

Date: 2005-07-28 23:38:20 Jaim : Mengucapkan terimakasih kepada pengelola web ini yg sudah memperbolehkan saya untuk menikmati dan membaca kembali cerita Nagasasra dan Sabuk Inten, terimakasih

Date: 2005-07-23 13:33:57 Ario Handoko : mmhhh... good tapi klo lebih membumi lg pst lbh asyik sir

Date: 2005-07-18 07:30:00 Wardi: web ini sangat bagus untuk mengingatkan kita pada sejarah tanah jawa.

Date: 2005-06-28 02:30:04 Endang : Saya suka sekali naga sasra sabuk inten sejak dulu tapi baru sekarang saya bisa baca secara lengkap menurut saya ini sangat bagus agar orang indonesia dapat membaca karya2 pengarang indonesia juga mau nanya kalau yang ada nama endang patibroto itu judulnya apa ya ? kok api dibukit menoreh gak ada ya ? terima kasih

Date: 2005-06-13 07:53:15 Triwidodo Arwiyanto: Saya penggemar karya SH Mintardja terutama nogososro dan api di bukit menoreh (APDM). Untuk APDM terutama yang awal-2 mulai jilid 1 sampai 30an. Terima kasih usaha anda, kami senang dan bangga.

Date: 2005-06-11 09:20:18 Pijarwidyanara: very exciting


Date: 2005-06-08 09:09:16 Shalsabila PD Aurelia Az-Zahra: wahh... nostalgi cerita lama.... mas di tambah dong ceritanya, baguss.. bagusss....


Date: 2005-05-16 08:23:15 Harry Kusna : Terimakasih, saya bisa menikmati kembali cerita Nagasasra Sabukinten yg dulu pernah saya baca. Saya mencari bukunya, tetapi ternyata sudah sulit ditemukan. Sekali lagi, terimakasih. Wass. - HK


Date: 2005-10-11 10:05:19 NN : Dari coba2 mau masuk ke gajahsora.net, eh keliru .com, eh jebul ada....surprise juga....Heibat deh. Tapi mana pojoknya mBak Endang ??? Aku gemes dengan tulisannya, tolong dong Pak bilangin ke beliaunya.

Date: 2005-09-27 14:42:28 Andi: akhirnya kelar juga baca cerita naga sasra sabuk inten, dulu bacanya keputus waktu ngikutin ceritanya di harian KR, maksih ya oom.

Date: 2005-09-23 04:06:16 Kiko: terimakasih atas dimuatnya cerita nagasasra sabuk inten... cerita suramnya bayang bayang kok tidak tamat? apa masih dalam proses? terimakasih...

Date: 2005-09-16 10:55:56 Brontho Dwiatmoko : Salam Kenal. Dulu saya pernah dl dari KR file NSSB tapi isinya belum sampai tamat. Kebetulan saya menemukan GS dari Google, jadi saya bisa dl lagi kelanjutan NSSB. Saya merencanakan mengeditnya lagi dan membuatnya menjadi PDF. Kalau Mas Bambang masih memiliki bukunya, seandainya bisa discan coverbook atau ilustrasinya bisa lebih yahud lagi, apalagi di versi awalnya ilustratornya masih Pak Kentardjo. Nanti kalau versi PDF sudah selesai Mas Bambang tak kirimi deh, syukur bisa dipajang di sini. Tapi sabar, maklum sambilan. Matur Nuwun

Date: 2005-09-15 17:43:05 Agung : Terima kasih mas, udah bisa baca NagaSasra SabukInten sampai tamat.......... Saya tunggu Api Di Bukit Manorehnya........ Semoga Sukses dan Api di Bukit Manorehnya cepat di upload.......amien

Date: 2005-09-06 02:02:10 Edi: Makasih bisa nuntasin nagasasra sabukinten, kalo ada rencana meg upload Api Di Bukit Menoreh. Tambah seneng kita

Date: 2005-08-25 06:35:43 Fikri: thanks bisa baca lagi "nagasasra dan sabuk inten", apa lagi kalo ada "api di bukit menoreh". Apa gajah sora dan temen laen bisa m'berikan bukunya. Ongkos pengganti, jangan khawatir ....

Date: 2005-08-10 04:55:54 Nurhayadi : Terima kasih. saya senang sekali dapat membaca kisah mahesa jenar. mungkinkah api di bukit menoreh bisa anda tampilkan pula ? lagi, terima kasih.

Date: 2005-12-20 17:28:27 Yuwono. K : Assww Mas Bambang, Jan nJawani tenan... Pokoke angkat jempol dobel paling dhuwur KangMas. Terutama Naga Sasra Sabuk Inten, pancen itu sing tak tunggu-tunggu. Matur Nuwun, Wassalam.

Date: 2005-12-14 04:43:35 Sinoeng: Mas bambang, trimakasih banyak atas dimuatnya serial nagasasra sabukinten sampai tamat. saya tunggu serial-serial yang lain. (serial suramnya bayang belom kelar ya?) sekali lagi, maturnuwun berat bosssss!!

Date: 2005-12-09 05:15:23 Bagus Susena : Viva Java Dwipa, Long live Javanesse Culture!!!! Dont change it to Arabic Culture. We are Javanese not Arabian. Wake up Javanese, make your own culture preserved. You left your culture far behind. Hope this story can make people aware of its vanish. Ki Semar Jowo

Date: 2005-12-09 04:04:31 Opik : Mantab pak...!

Date: 2005-12-06 09:50:44 Waluyo Winarjo: Cerita bgs, apik pokoke

Date: 2005-11-23 01:36:05 Misran Ernawan : Karena website, Gajahsora saya jadi tamat membaca cerita NGSSB kar SH Mintarja. Ceritanya asik dan menarik. Sukses untuk Bapak SH Mintarja dan Gajahsora.com

Date: 2005-11-16 07:15:54 Daru: Saya sangat senang dengan website Anda, bisa baca karangan SH Mintarja. Sukses selalu


Date: 2005-11-04 15:30:50 TSutarto : kok.....!nagasara sabuk intennya terhenti cuma di sini...30.htm


Date: 2005-10-28 09:06:51 David Limansah : Koleksi yang bagus dan susah dicari

Date: 2005-10-27 03:38:51 Sadarta : Pingin baca lagi Nagasasra sabuk inten. Dan mungkin info2 lain dari gajahsora.com. Peluang bisnis?



Date: 2006-03-15 12:56:20Bambang Bramono ( bbtribram@cbn.net.id / no homepage) wrote: Terima kasih telah memuaskan saya dengan membaca Nagasasra Sabuk Inten, paling tidak bisa memberi gambaran sifat kasatria dan perjuangannya.
71
Date: 2006-02-23 08:22:59Ryan Adikusumo ( gang_saig@yahoo.com / no homepage) wrote: Baca komik, cersil adalah hobby beratku saat masih tinggal di Jogja. SH Mintarja, Asmaraman S Koo Ping Hoo, menjadi bagian hari-hariku. Tolong Mas Mimbar Bambang Seputro, ceritanya jangan sampai putus. Naga Sasra terputus sampai episode 150. Tolong dilanjutin Pak, Thanks.....

Date: 2006-02-01 00:59:52 Anto Hartono : Wah semenjak menemukan web ini, aku jadi teringat masa kecil, doyan baca cersil nagasasra sabukinten, sampai2 saat menjelang kelahiran anakku, aku masih mengulang membaca cersil tsb dan akhirnya aku berinama anakku mahesa, salut bagi pak bambang, oh ya suramnya2 bayang2 kok tidak ada kelanjutannya?, Api dibukit menorehnya kapan nih? :)

Date: 2006-01-31 03:18:15 Njegir : Terima kasih kepada pak Mimbar, atas jerih payahnya meng-compile cerita2x ini.

Date: 2006-01-20 12:44:25 Ibu Nuk : Saya jadi mengikuti lagi bacaan saya waktu kecil 30 tahun yang lalu. Tapi kelanjutannya tidak ada. Mulai dari 013. Jadi saya tidak bisa baca lagi.

Date: 2006-01-06 12:07:48 Kartiko : Matur nuwun sekali Pak Mimbar, aku memang mencari cerita silat ini yang aku pernah baca pas masih kecil dulu sekali. Saya juga sedang mencari yang lain seperti Api di Bukit Menoreh. Nuwun.

Date: 2006-01-05 01:38:33 Asyhadi Munir: Suprprise, akhirnya saya ketemu lagi sama Nagasasra & Sabukinten (N&S) di situs ini, serasa kembali ke masa kanak2 beberpa puluh tahun ketika karya tsb saya kenal via dan membuat saya 'ketagihan' sandiwara radio (70-an.)Tur NUwun Mas Bambang, semoga saya diberi umur panjang untuk menuntaskan baca N&S. SAluuutttt & Tabiiiikkk Rek....

Date: 2005-12-30 12:47:33 Ali : nice, udah lama saya enggak baca cerita2 kayak gini... sma mungkin terakhir.

Herry Wibowo - Ilustrator Nagasasra dan Sabukinten

Ilustrator Cerita NAGASASRA DAN SABUKINTENKarya SH Mintardja
Kentardjo (informasi dari sang Puteri)
Herry Wibowo (lupa aku ambilnya file dari Detik.Com)

Herry Wibowo
Pameran Ilustrasi Herry Cerita Silat dengan Karakter PribumiLiputan: Bagus KurniawanRabu, 12/4/2000 Tak banyak ilustrator yang setia pada profesinya, terutama ilustrator komik yang nasibnya jauh dari penghasilan tinggi. Namun, Herry Wibowo, ilustrator untuk cerita silat bersambung "Api di Bukit Menoreh" di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, adalah sedikit cukup setia. Kini dia memamerkan karya ilutrasinya selama puluhan tahun itu.
Mungkin orang tak mengira ada seorang seniman gambar yang mampu membuat gambar ilustrasi dengan wajah dan karakter pribumi Indonesia. Bukan gambar-gambar berkarakter Amerika atau Jepang seperti komik-komik saku yang laris sekarang ini. Karya-karya itu adalah milik Herry Wibowo, seorang seniman gambar kelahiran Semarang, 8 Juni 1943. Herry saat ini masih aktif mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Modern School of Design, Yogyakarta. Karya-karya Herry sejak tahun 1960 sampai sekarang selalu menghiasi beberapa komik lama, cergam dan cerbung karangan pengarang silat ternama seperti SH Mintardja, Herman Pratikto, dan Asmaraman Kho Ping Ho.
Tokoh-tokoh yang ditampilkannya berkarakter pribumi, dengan muka oval, badan cenderung pendek, tetapi sehat dan kekar. Gambar-gambar itu hampir sebagian besar berbentuk epos kepahlawanan yang mampu memberikan semangat perjuangan waktu itu (tahun 1960 dan 1970-an). Goresan tangannya menghiasi ilustrasi cerita bersambung di Harian Kedaulatan Rakyat dan Bernas Yogyakarta tahun 1970-an seperti serial Api di Bukit Menoreh, Nagasasra Sabuk Inten, Naga Geni, Mahesa Wulung, Kisah Perjuangan Nyi Ageng Serang, Bendhe Mataram dan masih banyak lagi.
Saat ini Herry menggelar sekitar 75 karyanya dalam pameran yang bertajuk "Garis-Garis Liris Ilustrasi Karya Herry Wibowo" di Bentara Budaya, Jalan Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta, mulai hari ini hingga 18 April nanti.
"Saya mampu menggambar manusia dengan wajah dan karakter lokal, setelah belajar cukup lama," kata Herry mengawali cerita kepada detikcom, Selasa (12/4/2000) seusai acara pembukaan. Sebelumnya, Herry mengaku lebih dulu mempelajari ilmu dan cara-cara menggambar dari literatur-literatur Barat. Lama kelamaan dia mahir menggambar dengan karakternya sendiri.
Dia tidak terseret pada peniruan pola garis dalam literatur acuannya itu, sebaliknya malah meminjamnya untuk membangun guratan-guratan garis lokal. Garis yang ringkas, kadang terputus-putus, dan pola arsir yang sederhana telah menjadi cirinya, yang berbeda misalnya dengan komikus Teguh Santosa yang suka dengan garis yang tebal dan tegas atau tarikan liar seperti Ganes TH (Si Buta dari Goa Hantu) dan Djair (Serial Sjaka Sembung).
Untuk menciptakan karakter lokal yang realis, Herry memperhatikan detil dari anatomi tubuh tokohnya, seperti tinggi, berat badan, rambut, dan wajah. Karena sering membikin ilustrasi untuk cerita silat, seperti dalam Api di Bukit Menoreh, dia pun harus mempelajari gerakan-gerakan dasar ilmu silat.
"Khusus gambar gerakan silat saya harus mampu menggambar gerakan jurus silat dari isi cerita itu sendiri. Tetapi, intinya secara umum gerakan silat itu pasti melindungi bagian-bagian tubuh yang paling lemah," katanya.
Bagi Herry, dari ribuan karya gambar ilustrasi yang menghiasi majalah, surat kabar atau pun buku cerita, yang cukup membanggakan dan mengesankan selama hidupnya adalah karya ilustrasi dalam cerbung serial Api di Bukit Menoreh Karya SH Mintardja yang telah diterbitkan kembali dan dicetak ulang. Cerita bersambung itu mencapai 375 jilid dengan ilustrasi karya Herry mencapai ratusan jumlahnya. Belum lagi karya-karya lainnya yang juga mulai dicetak ulang seperti serial Bendhe Mataram karangan Herman Pratikto.
Namun sayangnya para penulis-penulis cerita itu seperti SH Mintardja, Herman Pratikto, dan Asmaraman Kho Ping Ho sudah tiada semua. Dulu semasa hidupnya, orang-orang itu adalah temannya berdiskusi dan bertanya, sebelum Herry mengubahnya menjadi sebuah gambar. Gambar-gambar itu rupanya juga mampu memberikan semangat yang menguatkan isi cerita. Namun, menurut dia, di masa depan ilustrasi akan menjadi sebuah karya yang mandiri, bukan hanya menempel dan menjadi sisipan dalam sebuah teks/naskah di koran atau majalah.
Suwarno Wisetrotomo, kurator pameran, mengemukakan bahwa Herry Wibowo adalah "salah satu pelaku yang tetap setia dan konsisten pada pekerjaan menggambar ilustrasi hingga sekarang". Karyanya dianggap memiliki ciri khas yang mampu menampilkan sosok dan wajah lokal Indonesia, khususnya Jawa. Dia juga termasuk salah seorang dari generasi senior yang banyak mengangkat cerita anak-anak mapun cerita kepahlawanan.
"Herry mampu menampilkan sebuah kesetian meniti jalan panjang di dunia gambar. Sehingga diharapkan dapat menyodorkan persoalan yang akan memicu sebuah diskusi tentang apa, siapa, mengapa, dan bagaimana gambar ilustrasi kita (Indonesia)," katanya.
Dalam cergam karya Herry Wibowo, Kisah Perjuangan Nyi Ageng Serang yang diterbitkan oleh Depdikbud tahun 1987/1988 misalnya, Herry mampu menampilkan gambar sebuah epos kepahlawan bangsa dengan tujuan menumbuhkan semangat juang bagi pelajar.
Karakter garis dan guratan wajah yang ditampilkan sudah khas milik Herry dengan wajah lokal Jawa. Pada gambar bagian pertama Herry sudah menggambarkan sebuah pertempuran antara orang Jawa dengan Belanda dengan kontras. Orang Jawa bertubuh pendek dengan muka oval sedangkan orang Belanda sedikit kurus dengan badan tinggi.
Selain gambar, Herry menampilkan pula kata-kata untuk menguatkan isi cerita. Misalnya, "Seluruh tanah Jawa seolah-olah ikut terguncang oleh meletusnya perang Mangkubumi yang dipimpin dua orang bangsawan. Mereka itu adalah Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Kedua tokoh ini saling membahu dalam perjuangan melawan Belanda Mereka mengangkat senjata karena Belanda telah mencengkeramkan kekuasaannya di tanah Jawa serta terlalu banyak mencampuri urusan raja-raja Jawa."
Namun sayangnya pameran yang ditampilkan oleh Herry Wibowo hanya berupa karya-karya yang digandakan dari foto kopi bukan gambar aslinya. Sehingga ada peserta pameran yang menuliskan kesan-kesannya bahwa "pameran itu hanyalah sebuah pameran karya foto kopi".
Sebenarnya, hal ini terjadi gara-gara kurang terdokumentasikannya karya asli Herry. Sejak tahun 1960-an hingga tahun 1970-an Herry selalu menyerahkan kepada penerbit atau surat kabar berupa karya aslinya, bukan salinan, sebab saat itu belum ada mesin foto kopi. Ironisnya, pihak percetakan/penerbitan setelah mencetak buku atau terbit dalam bentuk koran, karya aslinya itu ada yang hilang atau bahkan dibuang begitu saja di tempat sampah. Apa boleh buat, bagi penggemar gambar Herry di cerita-cerita silat, silahkan saja menikmati karya foto kopi ini.
Dalam pameran ini juga digelar sebuah diskusi terbuka bertajuk "Posisi Tawar Ilustrator" pada malam ini, Rabu (12/4/2000) pukul 19.30 WIB, di lokasi pameran. Pusat Kebudayaan Indonesia-Belanda Karta Pustaka dan Bentara Budaya Yogya sebagai penyelenggara akan menghadirkan ilustrator muda Samuel Indratma dan Kuss Indarto.

SH Mintardja



Kamis, 21 Januari 1999
SH Mintardja Telah Tiada
Yogyakarta, Kompas
Penulis cerita bersambung (cerber) roman sejarah dan naskah ketoprak kenamaan dari Yogyakarta, SH Mintardja (66), Senin (18/1/99) siang meninggal dunia di rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, setelah sebulan dirawat di rumah sakit itu karena menderita penyakit ginjal dan jantung. Pemakaman seniman yang amat produktif itu berlangsung Selasa (19/1) siang berangkat dari rumah duka Gedongkiwa, Yogyakarta, ke pemakaman Arimatea Jalan Tamansiswo, Yogyakarta.
Penulis dengan nama asli Singgih Hadi Mintardja ini dikenal luas oleh kalangan masyarakat terutama berkat roman sejarah berbahasa Indonesia berjudul Nagasasra dan Sabuk Inten dan dimuat serial di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta sejak 1968 hingga 1975.
Cerber yang melahirkan tokoh legendaris ''pendekar budiman '' Mahesa Jenar dan tokoh dunia hitam Singo Lodra yang amat digemari tua-muda itu, menurut seniman Heri_Wibowo merupakan gambaran situasi Indonesia pada masa pemberontakan G 30 S/PKI, tahun 1965. Cerber itu kemudian dibukukan sampai 29 jilid oleh penerbit yang sama. Romannya yang lain Api di Bukit Menoreh juga meledak, dibukukan, bahkan difilmkan dengan melahirkan tokoh baru pasangan pendekar Agung Sedayu dan Swandaru Geni, dan musuh bebuyutan mereka Sidanti.
Menurut putra tertuanya, Andang Suprihadi, SH Mintarja menderita sakit jantung koroner sejak tahun 1989. Kendati demikian almarhum tidak pernah berhenti berkarya. ''Bapak memang penuh semangat kalau sudah menulis. Kalau sudah khusuk menulis tidak ada berani yang mengganggu, '' tandasnya.
Almarhum yang meninggalkan delapan putra dan 12 cucu dari istrinya Suhartini, dikenal sebagai penulis ceritera yang berlatar belakang sejarah Nusantara khususnya Kerajaan Mataram dan Singasari. Di samping itu, almarhum juga dikenal sebagai penulis cerita ketoprak antara lain berjudul Ampak-Ampak Kaligawe, Kembang Kecubung Kembang Tumelung dan Prahara. Salah satu romannya Tanah Warisan bahkan telah difilmkan dengan judul Sisa-sisa Laskar Pajang.
"Nagasasra Sabuk Inten"
Namanya meroket sebagai penulis ceritera bersambung lewat karyanya Nagasasra dan Sabuk Inten yang paling digemari banyak orang dan merupakan master piece SH Mintardja
[MENYASTRAKAN NAGASASRA DAN SABUKINTEN]
Kelebihan dari cerita Nagasasra dan Sabukinten adalah kemampuan pengarang untuk menyastrakan adegan sehingga pembaca terhanyut kedalamnya.Salah satunya adalah ketika menceritakan pertemuan Mahesa dengan Wirasaba yang dikenal sebagai Seruling Gading

Seruling Gading

KOMPAS Minggu, 24 Januari 1999

KI Wirasaba adalah seorang pendekar di antara para gembala. Ia bersenjata kapak dan tenaganya amat kuat. Ada pun ciri gembala adalah kepandaiannya meniup seruling. Untuk ini Ki Wirasaba mendapat julukan Seruling Gading, karena-demikian dikatakan SH Mintardja lewat Mahesa Jenar:

Pantaslah kalau orang menyebutnya Seruling Gading. Kepandaiannya meniup seruling adalah hampir sampai pada tingkat sempurna. Ternyata apa yang diceritakan Ki Asem Gede adalah sama sekali tidak berlebih-lebihan.-

Masalahnya, bagaimana cara SH Mintardja menggambarkan kemampuan Seruling Gading itu?
Apakah cukup dengan mengatakan, ia memang jago main seruling? Tepatnya, bagaimana caranya SH Mintardja menyastrakan apa yang disebut musik? Musik untuk didengar. Sastra untuk dibaca. Hanya bila sastra tulis dilisankan, maka akan ada aspek musikal di dalamnya.
Namun bila ia tetap menjadi sastra tulis, maka akan cukup sulit mendengar musik di situ, kecuali pengarangnya menyelipkan partitur. Toh partitur hanyalah bentuk tertulis dari nada, bukan kata, meski tak ada larangan untuk itu.

Tapi kita masih menghadapi masalah yang sama, bagaimana cara SH Mintardja menyastrakan kemampuan Seruling Gading?

ALKISAH, Ki Wirasaba akhirnya mengetahui juga, bahwa Mahesa Jenar adalah yang membebaskan istrinya. Diburunya Mahesa Jenar setelah kakinya sembuh dari kelumpuhan, untuk menantangnya berperang tanding. Ketinggian hatinya tidak bisa menerima kebaikan hati orang lain.

Mahesa Jenar agak bingung, karena ia akan menang dengan sangat mudah. Padahal kalau Ki Wirasaba kalah, akibatnya juga akan fatal, karena orang seperti Ki Wirasaba tak akan mampu menerima kekalahannya. Mahesa Jenar berada dalam dilema, bagaimana caranya menang tanpa ngasorake, menang tanpa mengalahkan-sebuah ungkapan dalam etika Jawa.
Ki Wirasaba menemukan Mahesa Jenar ketika yang belakangan itu sedang dikeroyok anak buah Lawa Ijo. Ki Wirasaba membantu Mahesa Jenar hanya supaya bisa menantangnya berduel, bahkan memberi waktu istirahat sehari.

Pada saat istirahat itulah Wirasaba meniup seruling di bawah pohon. Kemampuan Ki Wirasaba bermain seruling ternyata menjadi jalan keluar persoalan Mahesa Jenar, dan dengan itu SH Mintardja sekaligus mendemonstrasikan kemampuannya menyastrakan musik.
Maka setelah mendapat pikiran yang demikian, agak legalah hatinya, sehingga pikirannya tidak lagi digelisahkan oleh kehadiran

Seruling Gading. Bahkan tiba-tiba kembali ia bisa menikmati suara seruling yang lincah membentur dinding-dinding goa, yang dalam tangkapan Mahesa Jenar, Seruling Gading itu ingin bercerita tentang derai air laut yang membelai pantai.

Suara gemericik berloncat-loncatan. Alangkah riangnya. Seriang anak domba yang dilepaskan di padang hijau, di bawah lindungan gembala yang pengasih. Namun tiba-tiba hampir mengejut nada itu melonjak berputaran melukiskan datangnya taufan yang dahsyat serta kemudian mengguruh menimbulkan badai. Ombak yang dahsyat datang bergulung-gulung menghantam keriangan wajah pantai. Tetapi yang mengagumkan Mahesa Jenar adalah, Seruling Gading dalam lagunya, yang gemuruh dahsyat itu, berhasil menyelipkan sebuah nada yang melukiskan seolah-olah sebuah perahu yang kecil, sedang berusaha mencapai pantai dengan melawan tantangan alam yang ganas itu. Tetapi lagu itu mendadak berhenti sampai sekian, sehingga Mahesa Jenar agak terkejut pula karenanya.

Rupa-rupanya Seruling Gading dengan demikian ingin mengatakan kepadanya bahwa ia sendiri, dalam perjalanan hidupnya, bagaikan sebuah perahu kecil yang diombang-ambingkan gelombang keadaan yang maha dahsyat. Namun demikian ia tetap berjuang untuk masa depannya. Untuk ketenteraman hidupnya. Sehingga mau tidak mau Mahesa Jenar memuji di dalam hatinya. Hanya saja, perwujudan depannya kadang-kadang dilahirkan dalam bentuk yang kurang tepat, sehingga sifatnya yang sudah tinggi hati itu, mencapai bentuk yang agak berlebih-lebihan.

Bukankah ini ajaib? Suara seruling itu bukan hanya bisa diterjemahkan menjadi kata, tetapi juga bisa menjadi pengertian, yang begitu gamblang, sehingga Mahesa Jenar bisa menganalisis karakter Ki Wirasaba. Keajaiban ini baru merupakan ancang-ancang menuju keajaiban berikutnya, ketika setelah meniup seruling itu Ki Wirasaba tertidur.

Baru ketika matahari hampir tenggelam, Seruling Gading terbangun oleh suara seruling.
Alangkah terkejutnya, ketika ia mendengar lagu yang berkumandang demikian merdunya. Ia sendiri demikian mahirnya meniup seruling sampai orang menyebutnya Seruling Gading.
Tetapi di sini, di padang rumput di sela-sela hutan rimba, ia mendengar dengan telinganya sendiri suara seruling yang sedemikian indahnya, sampai ia sendiri tak dapat menilainya. Siapakah yang lebih pandai, di antara ia sendiri yang mendapat julukan Seruling Gading, ataukah peniup seruling di tengah-tengah padang ilalang ini.

Lebih kagum lagi ketika ia mendengar, bagaimana orang yang meniup seruling itu berusaha untuk mengulang kembali ceriteranya yang telah diungkapkan lewat nada siang tadi. Ceritera tentang derai air laut yang membelai pantai, gemericik berloncat-loncatan. Bahkan ceritera itu kini dilengkapi dengan desir angin yang bermain bersama burung-burung camar yang bertebaran dengan lincahnya.

Tetapi yang dengan tiba-tiba pula, nada itu melonjak melingkar-lingkar bagaikan taufan yang dengan dahsyatnya menimbulkan putaran-putaran air serta gelombang yang bergolak mengerikan. Sedangkan di sela-sela riuhnya gelombang yang membentur pantai itu, terselip pula sebuah nada yang melukiskan seolah-olah sebuah perahu yang kecil sedang menyusup di antara gelegaknya ombak, berusaha mencapai pantai.

Sampai sekian perasaan Seruling Gading menjadi tegang. Ia tidak tahu, siapakah yang telah meniup seruling sedemikian pandainya sehingga hampir mencapai tingkat sempurna. Juga ia sama sekali tidak tahu maksud peniup seruling itu, kenapa ia berusaha melukiskan kembali ceriteranya, meskipun dalam ungkapan yang berbeda, tetapi mempunyai bentuk yang sama.
Tetapi tiba-tiba Seruling Gading terlonjak bangkit. Perahu kecil yang sedang berjuang mati-matian untuk mencapai pantai itu, tiba-tiba terseret oleh deru gelombang yang dahsyat, serta kemudian diputar oleh taufan yang ganas. Sehingga nada lagu itu menjadi menjerit sebagai tangis anak-anak yang kehilangan ibunya.

Mendengar akhir lagu itu, hati Seruling Gading tersinggung bukan main. Tahukah ia sekarang maksudnya, bahwa peniup seruling ingin menghinakannya sebagai seorang yang minta belas kasihan, serta sedang berteriak-teriak minta pertolongan. Sebagai seorang yang tinggi hati, Seruling Gading marah bukan buatan. Darahnya tiba-tiba menjadi bergelora. Timbullah keinginannya untuk menjawab hinaan itu, serta menghantam lewat nada pula.

Tetapi ketika ia ingin mengambil serulingnya dari dalam bajunya, kembali Seruling Gading terperanjat sekali, sampai menjerit nyaring karena marahnya. Serulingnya yang dibuat dari pring gading, serta tak pernah terpisah dari tubuhnya itu, ternyata sudah tidak ada lagi. Ketika sekali lagi ia memperhatikan warna suara yang masih saja melingkar-lingkar di telinganya, ternyata bahwa seruling itu pastilah miliknya.

SUARA seruling, sebagai sebuah lagu, dengan sendirinya mengandung dalam dirinya sebuah cerita. Namun cerita itu pasti non-verbal bukan? Artinya, imajinasi dua orang yang terbangkitkan oleh suara sebuah seruling pastilah tidak akan sama, karena sejarah pengalaman dalam rekaman budaya setiap orang berbeda-beda.

Namun dalam cerita ini, suara seruling itu bukan hanya menjadi sebuah cerita yang akurat dan deskriptif untuk dua orang berbeda, yakni tentang perahu yang berlayar di laut itu, melainkan juga bahwa ketika lagu itu diulang oleh peniup seruling lain, terjamin betapa pendengarnya akan sangat paham bahwa lagu itu telah dipermainkan, sebagai sebuah cerita verbal. Artinya, SH Mintardja telah memanfaatkan idiom sastra tulis ini secara total: suara seruling bisa diterjemahkan secara literer. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukannya dengan idiom musik, dengan suara seruling beneran.

Maka, sampai di sini kita telah menemukan beberapa hal. Pertama, musik yang abstrak bisa dikonkretkan secara literer. Kedua, karena bentuk literernya yang konkret, terdapat peluang untuk menunjukkan parodi dari lagu yang sama, juga dalam bentuk literer. Ketiga, konflik lewat musik dalam episode ini membentuk sebuah cerita tentang perahu di tengah laut yang mandiri, menjadi sebuah cerita dalam cerita, dengan atmosfer taufan dan badainya sendiri.

Konflik Wirasaba dan Mahesa Jenar sendiri diselesaikan dengan cara lain. Ketika kapak Wirasaba mencuil batu, Mahesa Jenar menghancurkan batu itu dengan Sasra Birawa, sehingga Wirasaba mendapat penyadaran, dan Mahesa Jenar bisa menang tanpa harus mengalahkannya dalam pengertian yang harafiah. Apalagi setelah ia tahu, bahwa kakinya sembuh dari kelumpuhan karena obat pemberian Mahesa Jenar.

Seruling Gading tak pernah muncul lagi sepanjang Nagasasra dan Sabuk Inten. Kemampuan berkelahinya tidak terlalu cukup untuk sebuah dunia yang penuh tokoh-tokoh sakti. Namun kemunculannya telah menghadirkan sebuah permainan, yang termasuk paling penting, dalam pengungkapan literer dari seluruh riwayat Nagasasra dan Sabuk Inten yang legendaris.
(Seno Gumira Ajidarma)

Ilustrator ‘MAHESA JENAR’ Kentardjo Meninggal Dunia



Minggu, 09 Maret 2003, Yogyakarta

KASIHAN (Kedaulatan Rakyat)

Perupa Otodidak Kentardjo (82), yang lebih dikenal Pak Ken, meninggal dunia Sabtu (8/3/2003) pukul 05.00, di Panti Wredha ‘Abiyasa’ Pakem Sleman. Pak Ken, salah seorang ilustrator yang pertama kali menciptakan tokoh prototipe ‘Mahesa Jenar’ dalam cerita bersambung (cerbung) Nagasasra dan Sabuk Inten karya SH Mintardja, yang dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat dan cerita buku yang diterbitkan PT BP Kedaulatan Rakyat. Jenazah dikebumikan di Makam Umum Bibis, berangkat dari rumah duka di Perumahan Gunung Sempu, Jl Melati 181, Kelurahan Tamantirto Kasihan Bantul, Sabtu (8/3) pukul 15.00.



Menurut istri almarhum, Ny Endang Juwaeni (68), sekitar 3 bulan suaminya tinggal di Panti Wredha ‘Abiyasa’ dalam keadaan sakit. “Pak Ken, selama sakit karena usia tua memang sepertinya sudah sulit untuk komunikasi. Namun semangatnya untuk menggambar masih membara yang digunakan untuk mengekspresikan kegelisahan kreatif. Tapi, karena usianya sudah tua dan sakit sehingga tak sehebat ketika masih muda,” cerita Ny Endang, seraya menambahkan almarhum meninggalkan 9 anak dan 24 cucu.

Shita Birat Rudatina, putri nomor 4 Pak Ken, mengungkapkan, ilustrasi cerbung ‘Nagasasra dan Sabuk Inten’, pada perkembangannya digarap oleh Herry Wibowo, Santosa dan Andang anak SH Mintardja.

“Bapak selain menggarap ilustrasi pertama buku cerbung Nagasasra dan Sabuk Inten, juga menggarap beberapa cerbung seperti Suramnya Bayang-bayang, Api di Bukit Menoreh dan cerita lainnya. Bapak bekerja menggarap ilustrasi di KR sejak sekitar tahun 1964 hingga awal tahun 1990-an. Selebihnya, waktunya digunakan untuk menggambar ilustrasi namun hanya untuk kesibukan dan mengekspresikan kreativitasnya. Sedangkan karya-karya bapak sebagian besar saya simpan di Jakarta,” kata Shinta. (Cil)-d.

Catatan :

Salah seorang puterinya alm Kentardjo menulis surat kepada saya. Menurut Estu Brataningsing salah seorang puterinya yang tinggal di Amerika, biografi Kentardjo pernah dijadikan thesis oleh mahasiswa ASRI. Beberapa karya lukisannya tercatat di perpustakaan Cornell University. Teguh Santosa (alm) , seorang pelukis komik terkenal SANDHORA dan Mat Pelor, adalah murid almarhum. (Mimbar)

Dian yang Harus Padam

JAKARTA-- Di blok Randu Belatung, Blora, kepiawaian para pengebor minyak pribumi dalam memadamkan api tengah diuji. Bisa berhasil, tapi bisa juga tidak. Pertamina mengatakan, tak tertutup kemungkinan mereka akan meminta bantuan tenaga asing.

Bagi para tukang bor minyak, semburan liar menjadi salah satu risiko -- persis film 'Armagedon' yang dibintangi Bruce Willis; juga seperti memelihara ikan yang kadang tak semua sehat. Tapi, seperti pada ikan, sebelum sakit biasanya ada gejala yang mendahului semburan liar di pengeboran minyak.

Sumur mungkin akan menampakkan tanda batuk atau mud gain. Sebuah sumur disebut batuk jika jumlah lumpur yang dipompa ke lubang bor sebesar -- misalnya -- 1000 kubik kemudian kembali menjadi 1020 kubik. Dalam keadaan ini sumur disebut memperoleh kelebihan (gain) sebesar 20 kubik. Jika sumur mengandung gas hidrokarbon, jumlah gas yang keluar dari perut bumi akan tercatat di permukaan tanah dalam jumlah yang makin lama, kian besar. Mungkin, ini pula yang dialami oleh salah satu calon Persero di Cepu itu.

Senin (25/2), sekitar pukul 09.00, kru pengeboran sudah melihat adanya anomali kenaikan volume lumpur. Biasanya, jika sumur batuk-batuk dan melakukan /kick/ atau tendangan, kegiatan pengeboran dihentikan. Mata bor tak diperbolehkan beroperasi membuat lubang dan sumur harus diobati.

Ini tugas para ahli lumpur (mud engineer). Mereka akan segera membuat lumpur baru dengan campuran khusus. Disebut lumpur berat, ke dalam lumpur itu ditambahkan bahan kimia khusus. Bahan kimia itu disebut Barite.

Lumpur itu diberi nama lumpur berat, karena jika satu liter air beratnya kurang lebih satu kilogram, satu liter lumpur berat beratnya mencapai satu setengah kilogram dan ada yang sampai dua kilogram.

Lumpur itu kemudian dimasukkan ke sumur. Sederhananya, tahap ini dapat disebut mengiinfus sumur dengan cairan baru -- yang lebih kental, lebih berat -- agar gas yang mengotori sumur bisa dikeluarkan.

Meski nampak sederhana, pekerjaan ini sangat rumit dan perlu kesabaran serta perhitungan cermat. Jika infus lumpur baru masuk ke dalam lubang dan mendesak lumpur yang terkontaminasi, bisa dikatakan suasana sudah terkendali. Tapi, sering terjadi, batuan sekitar lubang bor sudah retak, hingga gas mencoba keluar melalui retakan-retakan itu. Mula-mulanya gas keluar sedikit-sedikit, tapi karena retakan membesar, pelan-pelan tancap gas. Gas, minyak, air, lumpur muncrat.

Kerap kejadian ini diikuti lontaran batu. Kerasnya lontaran menyebabkan terjadinya percikan api, ketika batu menabrak tiang menara atau perkakas bor lainnya. Inilah, nisalnya, sumber kebakaran yang paling dihindari oleh pekerja bor. Mungkin, inilah yang gagal dihindari di Cepu, hingga sorenya terjadi kebakaran yang dahsyat -- Borobudur hanya memiliki ketinggian 47 meter, dan semburan gas ini disebut-sebut mencapai 60 meter.

Selain api, ada bahaya lain. Jika gas itu mengandung zat racun seperti H2S dan terhirup, tergantung konsentrasinya di udara, kepala paling tidak pusing, perut mual, atau kelenger. Mereka yang tak dapat bertahan bahkan bisa mengalami kematian.

Gas H2S untungnya gampang ditengarai. Dalam konsentrasi tak berbahaya, baunya seperti telur busuk. Tapi, hati-hati jika kemudian tak menciumnya sama sekali. Konsentrasi gas itu mungkin sudah meningkat tajam, mematikan penciuman, dan kita pun meninggal.

Meski kadar H2S aman, tak berarti keadaan di sekitarnya aman. Mungkin di bawah tanah, gas sedang mencari jalan untuk keluar. Radiusnya bisa lumayan jauh dan keluar dari tempat yang tak terduga. Jika ketika gas keluar ada yang menyalakan rokok, blam!, rokok, perokoknya, dan yang ada disekitarnya diledakkan.

Celakanya, gas ini tak berbau. Berbeda dengan gas Elpiji yang sudah diberi bau aromatik, hingga kebocorannya bisa dikenali dari baunya. Sudah begitu, gas ini tak kasat mata. Jernih.

Alasan ini yang sesungguhnya membuat penduduk di sekitar tempat kejadian perlu diungsikan -- jika tak mengungsi, mereka pasti kelaparan, karena api dilarang sama sekali. Entah mengapa dalam kasus yang terjadi di desa Sumber, kecamatan Kradenan, itu evakuasi berlangsung alot. Padi, ternak, rumah dan harta benda memang vital, hingga oleh karenanya Pertamina harusnya mengupayakan cara agar penduduk sesegeranya dapat mengunsi.

Di Armagedon, mengendalikan sumur yang mengamuk terlihat gampang. Tapi, akan lebih sulit jika menara pengeboran Bruce Willis tumbang. Meski begitu, melihat ketika Amerika menyerang Iraq, sumur yang terbakar cukup ditanggulangi dengan crane besar dan pemasangan peralatan baru di atasnya -- tekniknya disebut capping.

Teknik yang sama pernah diterapkan di sini dan berhasil. Entah apakah untuk sumur Cepu teknik ini akan diterapkan -- apapun, mudah-mudahan berhasil. April 2002, api berhasil dipadamkan.

Sebenarnya, ada satu teknik yang lazim dipakai karena terbukti andal. Pada teknik ini, mula-mula sebuah menara pengeboran baru dipersiapkan dalam jarak yang aman di sekitar sumur bermasalah. Menara itu akan mengebor sumur baru, mengarah pada sebuah titik di antara sumber minyak/gas dan api. Ketika lubang baru -- dan miring itu -- mendekati target, dipompakan bubur semen khusus yang pada akhirnya akan mengisolasi sumber gas dari api.

Karena sumur berada jauh dari titik kebakaran, mata bor yang dipakai dilengkapi dengan rangkaian yang bisa menunjukkan arah dan kemiringan lubang. Asalkan koordinat lokasi pengeboran dan penampang sumur bermasalah diketahui, target tak sulit didekati, meski dari jauh sekalipun. Sumur baru itu dikenal dengan nama sumur-injeksi atau relief well.

Pada akhirnya, boleh jadi ketika usaha pemadaman dilakukan, kebakaran tiba-tiba berhenti sendiri. Tapi, bisa jadi sebaliknya. Jika yang terakhir terjadi, ahli penjinak sumur dari Texas, Red Adair, yang terkenal dengan seragam baju merahnya, mungkin perlu dipanggil. penulis: yosep suprayogi, kontributor naskah dan bahan: mimbar bs, sumber: cudd well, www.howstuffworks.com

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

NagaSasra dan SabukintenKarya SH Mintardja

Tokoh Utama dalam Seri Nagasasra dan Sabukinten

  1. Raden Rangga Tohjaya alias Mahesa Jenar alias Manahan. Seorang "pendekar Budiman" yang masih murid dari Kiai Pengging Sepuh alias Ki Kebo Kenongo. Masa kecilnya dilalui sebagai teman bermain "Nis" yang dikenal juga sebagai Sela. Legenda mengatakan bahwa Sela mempunyai kelincahan yang luar biasa sehingga mampu menangkap petir. Tatkala terjadi benturan kekuasan para elit dimana Syeh Siti Jenar berebut pengaruh dengan elit politik Kerajaan Demak, maka selain berakhir dengan terbunuhnya Syeh Siti Jenar, terbunuh pula Ki Kebo Kenongo alias Ki Pengging Sepuh yang merupakan guru Rangga Tohjaya. Petualangannya di mulai dengan hilangnya sepasang keris pusaka dari ruang penyimpanan pusaka keradjaan Demak. Keris ini seperti "legitimasi" seseorang untuk menjadi raja Mataram. Akibatnya banyak tokoh-tokoh persilatan dari dunia Hitam maupun setengah hitam berebut untuk mendapatkannya. Sekalipun sakti mandraguna, Mahesa Jenar ternyata kikuk ketika menghadapi lawan jenis.
  2. Arya Palindih, tokoh militer dari Demak yang menangkap GajahSora.
  3. Ki Gede Asem murid Ki Tambak Manyar memiliki keahlian utama b erupa melempar batu, pisau, bandul sehingga efektip sebagai senjata jarak jauh. Ki Asem Gede juga mempunyai keahlian dalam pengobatan. Ia mempunyai menantu Wirasaba alias Seruling Gading.
  4. Kebo Kanigara alias Putut alias Tumenggung Surajaya. Anak dari Ki Kebo Kenongo. Hobby berkelana membuatnya menguasai ilmu Sasra Birawa dengan campuran dari pengetahuan lain.
  5. Karebet alias Jaka Tingkir, kemenakan Kebo Kanigara. Ia menguasai ilmu kebal Lembu Sekilan. Gurunya banyak sekali salah satunya Ki Ageng Sela yang mampu menangkap ekor petir.
  6. Pasingsingan, inilah tokoh misteri dalam cerita ini. Berjubah abu-abu dengan senjata belati Kiyai Suluh, dilambari kemampuan mengeluarkan aji Gelap Ngampar serta Karang Kobar, sungguh susah dicari tandingannya.
  7. Sima Rodra Muda dari Gunung Tidar. Nama aselinya Ki Panutan, menikahi anak gadis Ki Sentanu alias Ki Pandan Alas, namun tergila-gila kepada perempuan "Harimau Betina" dari Lodaya Gambaran seorang suami yang tergila-gila kepada seorang wanita sakti sehingga meninggalkan anak dan isterinya. Mereka mempunyai ritual kuno dengan mengingat gadis muda di tengah altar dan membunuhnya sebagai tanda katuh kepada dewa Harimau.
  8. Nyai Sima Rodra. Tidak disebutkan nama kecilnya, dikenal perayu lelaki tetapi sekalugus kejam. Dengan kecantikannya Ki Panutan rela meninggalkan isteri dan anaknya Rara Wilis.
  9. Sima Rodra Tua dari Alas Lodaya, menguasai aji Macan Liwung. Ayah dari Nyi Sima Rodra.
  10. Jaka Soka dari Nusakambangan. Pendekar pemetik bunga dari Nusakambangan. Ganteng, Simpatik dan pesolek. Mukanya selalu tersenyum.
  11. Sarayuda dari Gunung Kidul. Demang dari Gunung Kidul. Murid perguruan Pandan Alas, yang kaya raya namun gagal merebut cinta Rara Wilis, saudara seperguruannya.
  12. Ki Pandan Alas dari Gunung Kidul, tokoh eksentrik yang gemar menyanyi. Lagu andalannya adalah "Dandang Gula". Pencipta ilmu pedang Pandan Alas. Sering bergelar ki Santanu.
  13. Bugel Kaliki dari Ciremai. Tokoh bongkok ini mencari kemukten dengan mencari keris Nagasasra dan Sabukinten. Tidak memiliki murid. Kelebihannya kalau bertarung makin lama tenaganya makin berlipat ganda.
  14. Lawa Ijo murid terkasih dari Pasingsingan. Senjatanya aji sirep, belati terbang dan akik kelabang sayuta.
  15. Nagapasa dari Nusakambangan, guru sepasang Uling dari Rawa Pening.
  16. Radite
  17. Anggara
  18. Arya Salaka alias Bagus Handaka
  19. Sawung Sariti
  20. Lembu Sora ilmunya Lebur Sekethi
  21. Gajah Sora ilmunya Lebur Sekethi
  22. Titis Anganten dari Banyuwangi
  23. Wirasaba bergelar Seruling Gading dengan senjata Kapak raksasanya
  24. Endang Widuri
  25. Ki Dalang Mantingan dengan senjata Trisula dan jurus Pacar Wutah. Murid Ki Ageng Supit. Bahkan pernah tersebar khabar di Demak bahwa Dalang Mantingan seorang diri dapat menangkap tiga saudara perampok dari Jarakah, di kaki Gunung Merapi, yang dikenal dengan satu nama: Samber Nyawa.
  26. Wanamerta
  27. Buntaran
  28. Panembahan Ismaya dari Telomoyo. Diketahui juga sebagai Pasingsingan Sepuh, guru dari Radite, Anggara, dan Umbaran (yang kemudian malih rupa jadi Pasingsingan), disamping itu, semasa muda panembahan Ismaya bernama raden Buntaran. Nama Pasingsingan sendiri diambil dari nama seorang abdi sepuh, yang merupakan satu-satunya orang yang dapat mempercayai raden Buntaran, namun kemudian disingkirkan oleh orang-orang yang mengejar kekuasaan.
  29. Sendang Papat dan Sendang Prapat
  30. Sora Dwipayana
  31. Gajah Alit, seorang perwira Kerajaan Demak
  32. Paningron
  33. Rara Wilis alias Pudak Wangi, murid sekaligus cucu Ki Sentanu alias Pandan Alas dari GunungKidul. Mewarisi ilmu pedang "tipis" Pandan Alas yang ciri khasnya selalu digetar-getarkan agar membingungkan lawannya. Membawa dendam karena ibunya ditinggalkan oleh ayahnya yang tergila-gila dengan Nyi Sima Rodra, anak dari Sima Rodra dari Lodaya. Tetapi dendamnya justru kepada sang "ibu tirinya" - yaitu Nyi Sima Rodra (muda). Terlibat percintaan segitiga dengan dua pemuda yaitu Demang Sarayuda dan Rangga Tohjaya.
  34. Sura Sarenggi guru sepasang Uling dari Rawa Pening
  35. Tumenggung Prabasemi
  36. Galunggung
  37. Bantaran, Nyi Penjawi, Sontani, Temu Ireng, Talang Semut, Sempada dan Sambirata

Daya Linuwih yang terlibat dalam cerita ini serta pemiliknya

  1. Sasrabirawa [Mahesa Jenar, Kebo Kanigoro, Arya Salaka]
  2. Rog-Rog Asem [ Karebet]
  3. Lembu Sekilan [Karebet] ilmu ini konon dipakai oleh Mahapatih Gajahmada.
  4. Karang Kobar dan Gelap Ngampar oleh Pasingsingan
  5. Macan Liwung [Sima Rodra Tua dan Muda]
  6. Sirep [LawaIjo dari Mentaok] juga dimiliki oleh Pendekar lain
  7. Cunda Manik [Sarayuda]
  8. Lebur Seketi [Lembu Soradan Sawung Sariti]
  9. Pacar Wutah [Ki Dalang Mantingan]
  10. Uler Kilan dan Welut Putih [Sura Sarenggi]
  11. Naga Angkasa [Radite dan Anggara]
  12. Aji Welut Putih, Bajra Geni dan Tameng Waja milik Baginda raja Mataram Sultan Trenggana
  13. Aji Sapu Angin milik Tumenggung Prabasemi

    Senjata yang terlibat dalam konflik Nagasasra dan Sabukinten

  1. Keris Sigar Penjalin milik Pandan Alas
  2. Kiyai Bancak, tombak milik Arya Salaka
  3. Kiai Suluh, belati panjang milik Pasingsingan
  4. Akik beracun Kelabang Sayuta milik Lawa Ijo dari Hutan Mentaok
  5. Keris Sangkelat milik Karebet atau Jaka Tingkir
  6. Sabuk milik Sura Sarenggi
  7. Wesi Kuning milik Bugel Kaliki
  8. Kiyai Kalatadah tombak milik SIma Rodra muda dari Gunung Tidar
  9. Tongkat dan pedang lentur milik Jaka Soka si Ular Laut dari Nusakambangan
  10. Bandul bergerigi milik Widuri
  11. Rantai milik Gajah Alit

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My Photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com