Under dan Overstatement

Apa yang menarik dari cerita serial Harry Potter karangan JK Rawling yang sampai menghebohkan dunia itu?

"Penasaran, ada cerita yang digantung jadi maunya cepat-cepat membuka halaman berikut sampai habis...," demikian kata Maggie, keponakan saya.

Saya ambil dari Harry Potter I (Batu Bertuah)

"Kelihatannya begitu," kata Dumbledore. "Banyak yang harus kita syukuri. Kau mau permen jeruk?"

"Apa?"

"Permen jeruk. Permen Muggle yang kusukai."

"Tidak, terimakasih," kata Profesor McGonagall dingin. "Sudah kukatakan, bahkan jika Kau-Tahu-Siapa sudah pergi..."

Membaca halaman-halaman pertama saya diajak main tekateki siapa Dumbledore, Muggle (manusia), Permen Muggle, Profesor McGonagall, Kau-Tahu-Siapa," akibatnya halaman selanjutnya dari Harry Potter harus dikebet sampai habis. Nama Profesor Dumbledore sebagai kepala sekolah Sihir Hogwart, asistennya yang mampu menjadi kucing yaitu Prof
McGonagall, rasanya seluruh anak sedunia tiada yang tidak mengenalnya. Kedatangan mereka ke dunia Muggle adalah untuk mencari tahu lokasi Harry Potter si anak berbakat sihir yang sudah waktunya masuk Sekolah (tanpa bayar uang bangku, atau jalur khusus).

Lalu saya mengulang-ulang buku yang menceritakan teknik menulis dengan gaya ngambang, Carmel Bird dalam "Menulis dengan Emosi," menjelaskan bahwa ada dua teknik menulis yang dikenal lugas atau "understatement" dan ngambang alias "overstatement."

Saya jadi penasaran, untung Carmel memberi contoh:

"Dia mendekati perempuan itu dengan mimik muka yang menyiratkan maksudnya. Perempuan itu mundur, tertawa dan berusaha dengan sia-sia menolak tubuh lelaki itu dengan tangannya. Lelaki itu menariknya ke tubuhya dan menciumnya, melengkungkan tubuh perempuan itu secara dramatis di atas lengannya seperti dalam film, hingga akhirnya perempuan itu melingkarkan tangannya ke leher lelaki itu..."

Membaca kalimat di atas, sudah jelas apa yang terjadi. Pengarang melukiskan dengan cermat apa yang bisa dilihat, dirasa oleh pancaindra.

Bedakan dengan contoh "understatement" seperti di bawah ini:

"Dengan kurang hati-hati aku menjulurkan leherku. Sejenak kulihat pintu belakang mobil terbuka. Aku menduga-duga mengapa pintu itu dibiarkan terbuka dan mengapa tidak terlihat kepala orang di kursi. Aku yakin Paman yang disebelahku tidak hanya melihat apa yang telah kulihat, tetapi juga melihat bahwa aku melihatnya.."

Di contoh ini kita diajak menerka-nerka mengapa pintu mobil terbuka dan siapa orang didalam mobil tersebut. Umumnya pengarang lebih suka menulis dengan gaya "understatement" sebab ada suspense atau kejutan di akhir kalimatnya.

Tepat seperti dikatakan Strunk dan White "Jarang mengungkapkan segalanya adalah tindakan bijak.."

Mimbar Seputro
0811806549
Jakarta, Friday, July 11, 2003
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe