Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Umar Kayam, 1000 hari, Brongkos, Nasi Kapau, Ayam Penggeng, Trancam

Tue Feb 22, 2005 10:02 am

Umumnya peringatan kematian seseorang selalu diwarnai duka. Bagi saya muncul rasa sedih ketika harus men-delete Nomor Handphone, me-remove email address teman yang beberapa waktu masih saling tukar SMS, e-mail, saling bertanya kesehatan masing-masing, lalu ingat bahwa mereka sudah mendahului kita. Saat membaca emailnya, seakan masih berhadapan dengan almarhum. Benarlah pepatah yang mengatakan "menulis atau habis" - maksudnya hanya tulisanlah yang kita berikan kepada dunia saat kita dipanggil menghadap khalik.

Namun tidak demikian dengan peringatan nyeribu hari budayawan Umar Kayam, pasalnya pengarang buku Mangan Ora Mangan Kumpul ini memang dikenal amat "memanjakan lidah," seperti yang ditulis oleh Bondan Winarno.

Lebih lanjut dikatakan tak kurang masakan seperti "penggeng ayem" alias Panggang Ayam Klaten yang selalu ditulis berulang-ulang dalam buku Mangan Ora Mangan Kumpul, lalu ada Gudeg "SELOKAN" - karena penjualnya buka kios di Selokan Mataram, lalu Trencem dan Brongkos, Nasi Goreng Masih Sepuluh (Nama aselinya Bakmi Ketandan bekas Kampus UPN), sate kambing kesukaan UK, "tengkleng" dan nasi liwet keprabon dari Solo, sate ambal van Kebumen, pecel sambel wijen.

Dengan aneka ragam makanan "ndeso" yang dimunculkan malam itu, tak pelak acara 1000 hari berubah seperti acara reuni. Sepertinya Umar Kayam hadir disana dan terbahak-bahak kepada Yayasan Lontar dan Tinuk Lamposky sebagai event organizer yanh sukses memeriahkan "hari jadinya".

Kami memperingati kematian, namun yang terjadi adalah kehidupan. Tulis Bondan.

Sayang, katanya, ia tidak sempat menyicipi wedang ronde kepul-kepul karena sudah digerilya para pengunjung lain sebelum acara makan dipersilakan.

*****

Kenangan atas Umar Khayam dari seorang Habas Semimbar:
Ada respons Pembaca dari DURI... masih mengenai kesukaan Umar Kayam
Mas Umar Kayam juga pernah kita suguhin Nasi Bungkus Kota Buana Pekanbaru yang katanya Sak Petutuk (tolong dikoreksi spellingnya). Waktu dibuka nasi bungkusnya, beliau sudah menduga duluan bahwasanya enggak bakalan habis. Ajaib, ternyata waktu makannya habis, masih belum menyadari kalau sebetulnya makannya sudah habis alias menghabiskan nasi bungkus yang sak petutuk itu tanpa terasa.


Ruarr biasa......

Memang kalau kami pergi meninggalkan Pekanbaru, yang terutama dikangeni itu adalah Nasi Bungkusnya. Pokoknya sembarang Nasi Bungkuslah, Ada Kapau, Kota Buana, Simpang Raya, dll. Anehnya, semua itukan makanan Sumatra Barat toh? Tetapi kalau kita ke Sumatra Baratnya langsung, koq enggak ada yang seenak nasi bungkus di Pekanbaru tho ya?? Kalau enggak percaya, tanya deh sama Bu Nuning.

Kembali ke Mas Umar Kayam, waktu pulang dari Rumbai beliau minta dibelikan beberapa bungkus nasi bungkus untuk oleh-oleh ke Yogya. Di Yogya nasi bungkus itu dibagikan pada koleganya (kakung putri). Dengan dugaan, terutama kolega putrinya yang lemah lembut gemulai langsing itu pasti tidak bisa menghabiskan nasi bungkusnya. Lagi-lagi aneh bin ajaib, putri-putri itu juga mengalami hal yang sama, nasi Sak Petutuk habis ludes tanpa terasa. Cerita Mas Umar Kayam itu beliau ceritakan di Gedung Pertemuan UGM Bulak Sumur dalam suatu konvensi nasional yang kebetulan saya hadiri

Istri saya yang waktu baru menikah itu langsingnya sak kelingking sehingga saya sering khawatir kalau sedang "hot-hotnya" takut mrotoli, he he he ... Off-the-record ... Ternyata waktu hamil anak pertama kami juga makan dua bungkus nasi Padang Kota Buana itu(bukan promosi rumah makannya lho ini) koq ya habis tak terasa. Kupikir itu gawan bayi yang memang lahir lumayan besar sehingga harus di bedhel perutnya (lumayan ... bagian saya wutuh..), ternyata setelah melahirkanpun tidak berkurang minatnya sama nasi bungkus sak petutuk. Jadi, tolong ditambahkanlah perbendaharaan jenis makanan yang beliau suka. Dan kawan-kawan yang membutuhkan nasi bungkus Kapau atau lainnya, silakan pesan Bu Nuning atau Mas Mimbar kalau kebetulan dinas ke Pekanbaru. Soalnya sayapun sekarang berdomisili nun jauh di desa kecil bernama Duri. SHHS dari Duri..

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com