Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Ulang Tahunnya - di cambuki

Bayangan hukuman cambuk selalu mengingatkan saya pada "Kartini" yang di Tanah Arab, lalu seorang anak Amrik yang coret-coret di Singapore. Tetapi ada hukuman cambuk yang memberi pelajaran kepada seseorang agar lari lebih cepat, istilahnya tinggal landas menuju kemakmuran.....

Sebuah gedung dengan corak Eropah berasimilasi Jawa dibangun pada tahun 1775 oleh Hooyman. Dituturkan oleh penulis Belanda bahwa interiornya dibuat dengan selera extravaganza, kusen pintu dan jendela diberi ukiran indah serta langit-langit dan dindingnya diperelok dengan pigura artifisial. Karena rumah ini besar, sekalipun pemiliknya merendah dengan menyebut Pondok, tetapi masyarakat setempat memanggil langoed tersebut sebagai Pondok Gede. Keberadaan Hooyman tidak banyak diceritakan dalam sejarah Pondok Gede.

Seperempat abad kemudian kepemilikan tanah langoed Pondok Gede ini berpindah ke tangan Lendeert Miero yang terkenal berlidah tajam, mudah memaki-maki orang dengan alasan yang sepele. Inilah orang nyentrik tapi asoy yang ditulis sejarah.

Toean tanah Lendeert Miero alias Juda Leo Ezekiel adalah putera Yahudi asal Polandia yang ikut mencari nafkah di Betawi. Ia datang ke Betawi dalam keadan lontang-lantung, dan bisa bangkit menjadi Tuan Tanah kaya raya. Selain langoed Pondok Gede ia juga memiliki sebuah rumah mewah yang sampai sekarang (2003) masih bisa disaksiken kehebatannya. Gedung Arsip Nasional di jalan GajahMada, Jakarta Pusat.

Setelah hidup sukses, kerjanya hanya bersenang-senang. Lendeert mengundang ratusan tamu bukan untuk merayakan hari ulang tahunnya melainkan hari kepedihannya. Rupanya di masa mudanya ia pernah jadi opas jaga atau centeng. Suatu hari ia terlanggar apes, kedapatan menggeros (tidur nyenyak) waktu jam kerja sehingga mendapat hukuman sebanyak 50 kali sabetan rotan dipantatnya. Cambukan ini dianggap pemicu untuk lari cepat dan lepas landas dari kemiskinan.

Ia berhasil...

Sekalipun memiliki rumah di Betawi, tetapi ia sering mengunjungi istananya di Pondok Gede. Orang setempat menyebutnya pondok yang gede sehingga kawasan itu terkenal dengan nama Pondok Gede. Lendeert meninggal dalam usia 79 tahun dan dimakamkan di samping rumahnya di pondok gede. Konon saat kematiannya ia dalam keadaan kesepian, maklum teman yang mendekatinya sudah menjauh satu persatu. Tetapi makam itu dibongkar dan dijadikan rumah hunian penduduk. Bahkan nisannyapun dicongkel untuk umpak-umpak rumah.

Kalau soal merusak cagar budaya kita bisa diunggulkan. Buktinya bangunan bekas Sin Hwa alias Candra Naya di jalan Gajahmada hendak dipindahkan. Maksudnya jelas dihancurkan lalu akan dibuat replikanya di taman mini. Lha auranya sudah beda.

Rumahnya "pondok gede" pada 1992 dirobohkan untuk dijadikan Toserba.

Banyak pihak yang menyayangkan pembongkaran tersebut, tetapi siapa perduli dengan sejarah. Jadi kalau ada yang bertanya, kenapa namanya Pondok Gede padahal pondoknya tidak ada.

Itulah jawabannya
Mimbar Seputro
0811806549
Date: Thu Jul 3, 2003 8:49 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com