Tukang Insinyur Jantung

Pada usia terbilang remaja, 23 tahun Stelios sudah menjadi CEO perusahaan Strodoos Shipping yang bergerak di bilang Tanker. Kalau di Indo, prestasi ini biasanya dimiliki kaum muda fasilitas. Yang kata sementara orang seperti membangun istana pasir ditepi laut. Kalau pasir tersapu ombak. Maka satu persatu imperium bisnis rontok.

Kepandaian berbisnis tanker nampaknya diwarisi dari ayahnya. Namanya bisnis, high profit sekaligus high risks. April 1991, salah satu kapal tankernya minyaknya meledak, membawa korban 5 awak kapal tewas serta ceceran minyak mentah mencemari pantai Italia. Kerugian sudah membayang didepan matanya. Ia di klaim US$ 1 miliar, kecuali sanggup membuktikan bahwa kesalahan itu akibat "human error" para awaknya, dan itu akan membebaninya US $ 200 juta, yang kira-kira setara dengan modal yang disetor untuk 100 perusahaan TAC di Indo. TAC adalah singkatan Technical Assistance Contract, suatu kerja sama di bidang perminyakan untuk sumur-sumur marginal.

Ketika pengadilan berlangsung, penyandang gelar MBA ini seperti trauma di dzolimi" sebagai pemilik kapal rongsokan. Ia lalu membuktikan bahwa dirinya mampu membeli kapal yang relatif baru. Caranya ia meninggalkan Strodoos dan mendirikan perusahaan Stelmar Shipping, selanjutnya cerita sukses dimulai. Namun pria Yunani ini bergerak terus dari membangun bisnis penyewaan mobil, internet cafe, online shopping dan perusahan penerbangan. Stelios melihat peluang di bidang penjualan tiket pesawat. Ia melihat, banyak permainan biro jasa dibidang penjualan tiket. Konsumen harus membayar terlalu mahal untuk sebuah tiket.

Ia berniat menyingkat jalur pembelian tiket. Di bypass-nya biro perjalanan sambil membuat slogan "beli tiket langung, penjual dan pembeli sama-sama untung. Ia membuat slogan, "jauhi kartel ticketing, langsung tilpun kami!." Keruan saja Biro Perjalanan seperti kebakaran jenggot, sampai-sampai kasusnya dibawa ke pengadilan. Dasar mbeling, di pengadilan ia bikin pengumuman. Barang siapa yang datang ke pengadilan dan mendukungnya akan diberi tiket gratis dari EasyJet miliknya.

Majalah Forbes 9 Juli 2001 mengatakan bahwa ada sekitar 1000 orang menghadiri sidangnya dan banyak diantaranya adalah pengusaha biro perjalanan yang mengharapkan tiket pesawat gratis. Hasil sidang hakim membolehkan usahanya jual tiket tanpa biro perjalanan sekaligus iklan gratis atas launching perusahaan ticket. Orang Greek ini contoh bagaimana ia mereposisikan dirinya ketika melihat kesukaran didepan mata.

Kalau majalah Forbes melisting 548 orang terkaya di dunia, peringkat Stelios ada di nomor 343.

Lha Insinyur Jantungnya Mana?

Imam Soeharto adalah anak kimia UGM. Mula-mula ia masuk KPS (Kontrak Production Sharing) bernama PT Stanvac Indonesia. Tidak lama kemudian ia cabut dari Stanvac dan bergabung dengan Pertamina selama 20 tahun. Pria yang semula bangga menyebut dirinya "workaholic" kegilaan kerja yang berlebihan sampai memacu kerja hatinya.
Ia terkena hepatitis C, dan beberapa operasi "baloon" untuk memperlancar aliran darah di jantungnya yang terakumulasi oleh plak-plak lemak. Saat arteri ke jantungnya tersumbat, saluran oksigen ke otak terhalang, tetapi otaknya bekerja terus.

Ia menulis buku bagaimana rasanya menjadi pasien jantung dengan bedah koroner. Dengan detail semua nasehat dokter ia susun menjadi suatu tulisan berlogika dan jadilah sebuah buku laris berjudul "Pencegahan dan Penyakit Jantung Koroner." Disusul dengan buku lainnya mengenai kolesterol jahat dan kolesterol baik, bahkan kabarnya ia sedang mempersiapkan buku ketiganya juga mengenai jantung.

Tulisannya diakui oleh ahli jantung RS Harapan Kita dan RS Pertamina, karena akurasinya sekaligus iri hari karena mengapa mereka yang ahli jantung malahan tidak menulis buku serupa.

Setiap pagi ia bangun dengan sense of mission yang baru, dan harap dicatat ia mereposisikan hidupnya justru di usia senja yaitu 65 tahun. Dimana orang biasa sudah merasa tidak bisa berfikir lagi. Dengan kepandaiannya yang melenceng dari sekolahnya Imam sering diledek "Tukang Insinyur Jantung" "Rupanya bapak harus sakit, sebab Indonesia tidak akan pernah memiliki buku soal Jantung yang bermutu sebab para ahli jantung beneran lebih suka membedah jantung dengan biaya 50, 100,200,300 juta sekali belek."

Marahkah ia, tentu tidak. "Mas saya sangat bahagia menemukan panggilan di masa tua saya"

Serangan stroke ternyata memberikannya dua pilihan, ingin "mutung" dengan menghabiskan waktu didepan TV sambil pegang remote control, pindah acara dari Dulce Maria ke Duet Maut,Diva, Country dst. sambil seakan menunggu di pundut", atau menjadi insinyur jantung.

Pak Imam Suharto memilih yang ke dua.

Mimbar Bambang Seputro
29/3/03
Tips Bo Wero ke 9
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe