Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Tragedi Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia

Kedatangan penduduk TiongHoa di Betawi sesungguhnya sudah sama tuanya dengan usia Betawi. Awal mula kedatangan mereka adalah sebagai pekerja koeli dalam pembangunan Kastil Betawi. Aturannya mereka datang sebagai rodi, dan dibebaskan sebagai manusia mardyk(a) setelah kastil rampung di bangun. Akan tetapi banyak yang menetap sekitar Kastil.

Yang mulai merisaukan Kompeni adalah bangsa ini memiliki kemampuan produksi anak tidak menunjukkan tanda akan menurun di musim kemarau, dan menanjak tajam di musim penghujan. Belum lagi kegemaran membentuk komunitas sendiri secara eksklusif.

Seiring dengan berkembangnya Betawi, datang pula para pedagang Tionghoa. Ditambah pedagang "dadakan" yang datang dari bekas koeli yang sudah mantap tarap hidupnya maka sedikit demi sedikit Olanda menyadari bahwa roda perekonomian mereka sangat bergantung kepada pedagang bermata zipit ini.

Tetapi lama kelamaan Olanda juga mulai merasa gerah dengan kemajuan yang dicapai oleh orang TiongHoa ini. Bayangkan ada yang koeli tarik semacam Rijksaw tiba-tiba berubah menjadi tauke. Tadi pedagang tahu pikulan, tiba-tiba sudah menjadi juragan Roema Makan besar. Seperti pernah ditulis oleh seorang pengamat Belanda: "orang Cina memiliki keuletan, kecakapan dan naluri dalam berdagang, ditambah dengan keahliannya menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya."

Apalagi mereka memang banyak yang jadi kaya raya sehingga bisa ditebak, apa yang mereka inginkan bisa didapat. Rasa superioritas bangsa kulit putih sepertinya mendapatkan tandingan dari bangsa kulit kuning ini.

Perkebunan tebu dan tembakau misalnya, sebagai sumber utama pemerintahan Batavia, sudah hampir 100% dikuasai bangsa pedagang ini. Sementara koelinya juga didatangkan dari daratan Cina, akibatnya populasi Cina di Batavia waktu itu cepat sekali membengkak. Di perkirakan pada tahun 1740, penduduk Batavia 50%-nya adalah orang
Cina.

Padahal sejak 1690, Olanda sudah mencoba mencegah arus imigran koeli datang dari Cina. Tetapi mereka ibarat "aliens" bisa datang dari mana saja. Para pedagang lebih suka dengan imigran yang rajin kerja, ulet serta murah. Lagian mereka bisa "cincai" dengan oknum Gubernemen sehingga membanjirlah imigran ilegal masuk ke Hindia Belanda setelah membayar sejumlah upeti kepada oknum.

Seratus tahun kemudian, gejala "bedhol desa" ini sudah mulai nampak kembali. Pedagang "minyak" dari Cina datang dengan modal yang besar dan kuat menyerbu negara bekas Ommelanden atau Hindia Belanda ini. Selain mampu membeli perusahaan minyak milik bangsa Eropa dan Amerika, mereka juga datang bersama dengan "perkakas dan orangnya" sekalian. Bahkan yang anak keturunan "Hok Kian" sudah mulai menguasai dunia
entertainmen, mampu menggelar pesta ulang tahun dengan biaya aduhai tanpa rasa risih melihat keadaan sekeliling yang masih serba kekurangan.

Hidup ternyata tidak linear, tahun 1790, perdagangan gula jeblok di pasaran dunia, belum lagi akibat masuknya gula dari Brazil yang lebih murah dan kompetitip.

Pabrik-pabrik Gula di Batavia banyak yang "ngedrop" dan gulung tikar sehingga pengangguran pun terjadilah. Celakanya perut tidak mau tahu apakah harga gula sedang ngedrop, pokoknya mereka perlu diisi bakmi dan bakpow. Lantas apalagi yang bisa dikerjakan kecuali merampok. Dalam waktu singkat kejahatan meraja lela. Gang-gang terbentuk dimana mana memalaki para orang kaya. Olanda mengatur strategi untuk memindahkan penduduk Cina yang sudah gludak gluduk kaya kelinci ini ke suatu negeri. Pada Juli 1740, sebagian besar pekerja Tionghoa yang pengangguran akan dibawa ke Ceylon (Galle) untuk dikerjakan disana. Sekalipun belum era Cyber mereka yang cerdik maklum kalau di Batavia perdagangan gula sedang jeblok, di negara lain juga kurang lebih "sarwa keneh".

Lanjut... cerita,

Pakai berhembus pula sas bin sus yang mengatakan bahwa, ditengah laut, para kuli tadi dilempar kelaut untuk jadi santapan hiu. Akibatnya terjadi keresahan dikalangan orang Tionghoa. Keresahan bak alang-alang di lahan gambut pada musim kemarau pakai di kompori oleh beberapa provokator. Akibatnya mereka menolak diberangkatkan ke Ceylon. Bahkan laporan intelijen mereka membentuk "satgas" beringas yang berniat
menggempur kastil Batavia. Gubernemen menganggap tindakan represif sudah harus dilakukan.

Malam-malam 8 Oktober 1740 ada rumor lagi bahwa Cina di luar Kastil sudah membentuk aliansi dengan cina Beteng akan menumbangkan rezim Olanda. Ini diluar dugaan sebab selama ini Cina Beteng ahli membuat kecap dan tauco kenapa ikutan masuk ke politik praktis.

Belanda bertindak.

Menjelang pagi 9 Oktober 1740, rumah-rumah penduduk Cina di geledah.
Ada sekitar 5000 rumah didatangi para pasukan pemukul dan reaksi cepat. Mungkin bermaksud memisahkan gerilyawan pengacau combatan dengan yang non combatan. Cuma soldadu seringnya sumbu pendek lalu bertindak tidak tanggung-tanggung.

Dalam 3 malam pembunuhan atas bangsa Cina dilakukan secara besar-besaran dan sistematis. Orang bilang Genocide. Orang tua, perempuan, anak bayi langsung dibunuh. Masih kurang puas, mereka mendatangi rumah-rumah sakit. Cina yang sakit langsung di ditebas, para tahanan Cina di sel-sel juga ikut dilibas.

Gilanya lagi, ada wara-wara atau ular-ular yang menggatakan "Barang siapa sengaja atau tidak sengaja bisa menenteng kepala Cina akan diberi hadiah besar oleh Gubernemen."

Coba, siapa yang tidak getap mendengar iming-iming tersebut, di jaman malaise begini?.

Setelah puas memburu dan memenggal kepala, lalu dikeluarkan peraturan bahwa Cina hanya boleh tinggal di kawasan tertentu yaitu Glodok.

Serangan brutal ini menggelitik kemanusiaan para aktivis HAM di luar Hindia Olanda. Mereka mendesak negara-negara besar untuk dilakukan pengusutan atas pelanggaran HAM.

Calon terdakwa yang di bidik adalah Gubernur Jendral Valckenier yang dianggap paling bertanggung jawab memerintahkan "massacre in Batavia". Cuma baru masuk sel didetensi sebentar ia sudah tewas. Penyelidikan mengalami jalan buntu.

Gubernur Jendral penggantinya, Van Imhoff juga keburu "dut" pada 1750 sehingga kasus di peti es-kan untuk kedua kalinya.

Diperkirakan ada sekitar 5000-10000 korban terbunuh dalam pembantaian selama 3 hari, uniknya seorang pendeta Belanda malahan mengatakan bahwa pembunuhan ini sepertinya dilakukan oleh "bantuan Tangan Tuhan," artinya sah sah saja.

Sebuah spanduk 1902 terbaca "The murder of 10,000 harmless Chinese was never punished. One of the most important people responsible, Governor-General Valckenier, died in prison and the Heeren XVII declared the trial that was run against him abolished by his death".

Jadi gagal sudah usaha menyeret para pembunuh ini ke pengadilan, dan seratus tahun lebih kemudian kita akan baca bahwa Belanda adalah negeri para pendekar hak azasi manusia...

Huh..

Date: Sat Jul 19, 2003 4:00 pm

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com