March 07, 2006

Tongseng Sunda Kelapa

TONGSENG dan Es Kelapa di Masjid SUNDA KELAPA

Gara-gara menulis soal tongseng daging kambing dan "sandung lamur" atau gajih, saya diprotes oleh teman lantaran rasanya tongseng yang saya rekom menurut lidah teman tadi tidak selezat yang seperti dongengan saya.

Setelah diusut sampai tuntas, rekan tadi rupa-rupanya salah pilih tempat yaitu pesan tongseng kepada penjual tongseng lain yang dagangannya kelewat sepi dan mungkin sekali menangguk rejeki dari sisa pelanggan yang tidak sabar menunggu tongseng aseli pak AGUS disiapkan. Memang ada dua penjual tongseng disitu dan letaknya cuma terpisah oleh gerobag penjual kelapa muda.

Lokasinya di Mesjid Sunda Kelapa-Menteng yang beberapa tahun silam dianggap tempat bersejarah karena berdamainya GusDur dan Amin Rais yang belakangan ternyata ecek-ecek saja. Mesjidnya sendiri pembuatannya diprakarsai oleh Ali Sadikin. Sekalipun namanya seperti menyiratkan cerita pesisir Jakarta kuno, namun jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan isi surat perintah Sunan Gunung Jati dari Cirebon yang diterjemahkan bebas oleh sang Panglima Fadhila KHAN untuk menyerang negara SUNDA dengan pelabuhan KALAPA sehingga berganti nama menjadi Jayakarta.

Para artis dari "dugem" banyak yang menikah disini umumnya langgeng sebagian dan yang cerai juga tetep banyak. Ya nggak ngaruh juga nampaknya.

Semula Agus tidak berniat menuliskan merek dagangnya. Dia percaya bahwa rejeki
kagak bakalan ketuker. Tetapi melihat banyaknya pendatang baru yang salah tongseng, maka mulailah gerobagnya berani diberi tulisan "Tongseng pak AGUS". Beruntung dia tidak ikutan tokoh ilmu napas, coba kalau dia jumawa, bisa-bisa dia patenkan masakan tongseng dengan mengatakan barangsiapa masak tongseng, itu adalah hak paten saya. Kadang betul juga sih. Hero pernah memperkenalkan roti tawar tanpa kulit sejak jaman dulu kala, eh di CNN muncul pemegang paten baru-baru ini yang mengatakan bahwa mereka
menemukan satu cara untuk menghasilkan roti telanjang. Peresmiannya dihadiri para selebriti.

Kalau ada yang pesan dengan kode menaikkan telunjuk seperti Ronaldo habis menyarangkan bola di gawang Oliver Kahn dari Jerman, dia langsung mengambil beberapa tusuk daging sate segar dan berwarna kemerahan untuk dipanggang sebentar sehingga menimbulkan aroma daging yang ceglukan daging kalamenjing. Belakangan, karena mbludaknya peminat, maka acara "foreplay" panggang-first sudah dihilangkan dengan alasan tidak kondusif.

Jadi daging dari tusuk sate langsung diplorotkan dari tusukan bamboo dan jozzz masuk ke wajan berisi kuah gule yang dari baunya saja sudah terbayang kelezatannya. Bumbunya kelihatannya ada bawang putih, ketumbar dan deplokan cabe rawit. Diluar itu saya tidak tahu lagi sebab lebih repot ngurusi perut yang mulai terasa kosong mencium bau masakan Agus.

Uniknya tongseng ini dimasak dengan bara api diatas anglo tanah. Pegawainya ada 4 orang semuanya lelaki, lantaran tungkunya hanya satu para pegawai yang bekerja lebih mirip main domino daripada mengerubung masakan. Yang pasti layanannya cepat.

Mereka punya resep sendiri yaitu, masak dengan bara api jauh lebih sedap daripada pakai pompa tekan kerosene yang kadang bisa mencemari masakan dengan rasa minyak tanah.

Nasinya ditaburi bawang goreng sehingga merupakan kombinasi nasi-pulen dari ilmu nasi masakan padang, digabung dengan harumnya nasi uduk Betawi. Saya tidak pernah punya kesempatan untuk "tanya ini dan itu" seperti kapan buka warung, modalnya berapa, gimana sih kok bisa jadi pedagang tongseng, apakah visi dan misi perusahaan, sehari berapa kambing dihabiskan.

Siapa orang dibelakang perusahaan. Lebih celaka lagi pertanyaan "standar kurang ajar" seperti "apakah menggunakan dukun, jimat, daun dewandaru dari gunung Kawi". Oalaaaah daftar tanya ini kerap saya terima dari para wartawan media-masa. Sampai-sampai saya teriak keras (dalam hati)- Tobil-tobil anak kadal, mengapa setiap ada anak bangsa yang maju dan berhasil selalu dicurigai pasti ada skandal dibalik sebuah kesuksesan.

Singkatnya dimata anak bangsa SUKSES identik dengan SKANDAL jepit. Selain tongseng anda bisa pesan sa'te nggak pake jeruk, jangan je'ruk nggak pake sa'te, dan nasi goreng. Saran saya pilihlah makanan selain tongseng kalau pembelinya sepi, daripada keburu diserang para "hongerodeem" lantaran menunggu giliran wajan kosong.

Pasangan tongseng ini akan lebih afdol kalau anda memesan es "klamud" yang gelasnya ukuran 1 pint. Penjualnya juga lelaki, mbacoki sebuah kelapa hanya untuk dibuat satu atau dua gelas jadi rasanya masih bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi di mata peminat metafisika, minum air kelapa muda bagus untuk membersihkan badan yang kotor akibat perbuatan, fikiran atau ketempelan hawa jahat. Para Jawara Banten, mengasah goloknya dengan air kelapa, sebab nggak punya gayung lagipula hanya buah kelapa yang tersedia. Bahkan ada yang nekad jual kelamud dengan tulisan "Disini Juwal Kelapa IJO
Untuk Obat." - Untuk penjual kelapa muda ini karena saya pikir masih statusnya masih diakui jadi saya nggak kedereng-dereng mau minta Company Profile sang penjual.

Keunikan nomor dua, mereka tidak menyediakan meja, padahal kuah tongseng yang panas bisa tembus ke mangkok beling, jadi tidak mungkin makan sambil pegang mangkok panas. Caranya, para pembeli akan duduk jejer dibangku panjang persis pasien di ruang tunggu dokter. Mejanya, hanya deretan bangku plastik pak bakso, lha ini seninya. Jadi furniture pak Agus adalah dingklik kayu dan dingklik plastik. Ini memang praktis, kalau sudah tutup warung, meja ditumpuk jadi satu, plastik pisan
warnanya hijau. Praktis dan tepat guna. Nggak perlu taplak meja, atau lilin
untuk mengusir laler.

Lantaran meja yang notabene adalah bangku berukuran pas piring, keunikan ketiga
adalah bagaimana menaruh mangkok tongseng berjejer dengan piring nasi. Jelas tak mungkin. Jadi lebih simple kalau kuah tongseng diguyurkan ke nasi. Sehingga nampaknya seperti mau main kolam-kolam ikan kecil.

Keunikan ke-empat adalah bagaimana dengan minuman ? Lha yang ini terpaksa harus
rela ditaruh dipagar mesjid. Daripada njomplang lalu tumpah membasahi pakaian kita.

Keunikan lain, bisa melihat rombongan Wapres Liwat. Maklum lokasi di Menteng.
Dulu kalau anda Jumatan disitu paling tidak bisa ketemu Ali Sadikin, Ginanjar dan Baramuli.

Keunikan tambahan ?

Banyak pelanggannya adalah pemilik mobil mewah. Lha ini dia, kok ya harus dihubungkan dengan BMW, MERCY, jabatan Presiden Direktur, dan Dasi hanya untuk menceritakan sebuah masakan itu uenaak tenan. Nggak ngaruh kaan.

Cirebon 2 Juli 2002

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com