Toekang Letjet

Orang Singapore sering mengolok-olok partainya Lee yaitu PAP dengan (Pay and Pay), again. Atau olokan lainnya "everything just fine" yang maksudnya fine=denda. Meludah didenda, merokok di bis di denda, mencowel bokong perempuan didenda, coret-coret di jalanan dengan pylox di denda dan di rotan.

Tetapi bak mengiyakan pepatah Ingris "there's is nothing new under the sun", atawa di kolong langit tiada sesuatoe yang baroe. Soal denda, kita pernah melakukannya tapi duluuu.

Conto-nya.

Mas Sriman dan Sapi (sapei?) pada tanggal 2 Januari 1887 di denda 3 gulden (bacanya g akah ke H, biar seperti anak MULO), lantaran kambingnya ditemukan berkeliaran di jalan tanpa tali. Sekarang, kambing keliaran dijalan kalau kelindes yang nabrak harus mengganti sampai ke anak cucu kambing (kalau nggak KaBe wedhusnya).

Ridan didenda lebih banyak lagi sebab sebagai kusir dokar membiarkan pakaian kudanya rusak. Pengadilan polisi yang semula namanya Politierol lalu jadi landrechter inilah yang mengadili perkara sumir (remeh temeh). Di jaman itu kalau kuda penarik dokar kedapatan lecet, atau pakaiannya rusak, bisa-bisa sang kusir berabe kalau sampai pak
lecet duduk didampingnya pada hari minggu.

Akibat lalai menjalankan tugas siskamling di Kampung Angke, mas Kromo dan Adji terpaksa masuk tahanan tanpa boleh menengok ayah, karena kedapatan tidur sewaktu bertugas jaga malam. Kali ini bukan 6 gulden tetapi krakal (tahanan) selama 6 hari.

Sambil dan Oen, mengalami masa krakal 12 hari sebab sebagai centeng, rumah yang dijaga kecurian saat mereka ronda di Kemayoran. Mungkin Sambil dan Oen rada ngedumel, beberapa ratus tahun lagi, malahan petugas keamanan yang ikut mencuri. Dan Bebas bas...

Seandainya giliran jaga tiba, tiada bole seseorangpun mangkir dari ia poenya kewajiban, atawa diganti sejumlah oeang, contonya Abdoelrachman dan Raiman, mencoba mangkir dan ia kena krakal selama 6 hari dan tidak dipeluk Kapolda.

Tan Teng Hok, didenda 25 gulden (inget cara bacanya), lantaran sebagai keturunan Cina dia tinggal di Tanah Abang, padahal waktu itu etnis Cina musti tinggal di pecinan (Glodok).

Mpok Noria didenda 1 gulden lantaran mandi di tempat terlarang di kali Ciliwung, yaitu di bawah jembatan Busuk. Sementara Saoedin, Margan dan Midin dan Gouw cuma 1 gulden sebab menaruh dagangannya sampai menutup pinggir jalan didepan roemah bola di jalan Majapahit. Asyik juga baca klipping koran 1887-an dan berbahasa Belanda, tapi itu kata Tanu Trh yang saya kutip dari Intisari.

Jakarta 19.12.01
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe