Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Tinta Pengacara, Tinta Sihir, Tinta Biasa

Date: Wed Nov 3, 2004 3:54 am

Ternyata ada beda pemilihan warna tinta antara Pengacara dengan profesi lainnya. Pengacara lebih memilih tinta biru daripada hitam. Sementara menurut JK Rowling, para penyihir menggunakan tinta warna hijau.

Walaupun sebentar, saya masih mengalami sekolah dengan modal buku batu (sabak), batu alam hasil proses ubahan dari lempung kemudian berangsur-angsur mengeras menjadi batu sabak yang berlapis-lapis setebal 1 cm ini lalu dipotong seukuran buku script anak sekarang. Untuk menulis digunakan anak batunya yang warnanya lebih abu-abu seukuran separuh diameter pensil sekarang. Anak batu ini kekerasannya lebih lunak daripada batu sabak agar bisa digoreskan kepermukaan sabak meninggalkan image berupa tulisan. Agar sisi sabak tidak melukai pemakainya yang biasanya bocah, maka diberi bingkai (lis) dari kayu. Cara menghapusnya bisa pakai telapak tangan atau potongan kain. Kalau terpaksa, ujung baju dibantu sedikit ludah cukup berfungsi.

Sekarang "sabak" sudah dipopulerkan, hanya namanya sudah berubah elektronik yaitu "Tablet PC" - dipopulerkan oleh sebuah Universitas mahal di Jakarta, ini hari Selasa 2/11/04 di sebuah iklan koran.

Kemudian kami sudah menggunakan pensil tinta, lalu pakai tinta celup dan tangkai pena. Agar irit dan tidak berkarat, mata pena di simpan dalam beras. Maklum silika gel belum populer. Sementara untuk pelajaran menggambar, diperkenalkan tinta OI atau tinta China atau "bak."

Anak SD diajari menulis pakai tinta botol dan tangkai pena, ya perlu latihan sendiri, sebab diperlukan kecermatan dan konsentrasi penuh. Tetapi yang ceroboh tak urung menyenggol botol tinta lalu menodai meja kayu, bangku, lantai dan kemeja kita sendiri. Besok pagi kami harus membawa lap dan jeruk nipis untuk membersihkan sisa noda tinta dari meja dan bangku.

Pelajaran menulis selalu saja menyebalkan, banyak aturan, padahal yang baku tulisan bisa dibaca. Karena seringnya disalahkan guru, saya mencari akal dengan menulis selalu dengan hurup cetak, sekalipun secara "aturan menulis alus kasar" tidak dibenarkan, namun dalam komunikasi tidak ada keluhan dalam membaca tulisan saya. Baru belakangan saya baca tulisan ahli grapholog seperti Bart yang mengatakan bahwa tanda tangan, menulis hurup latin merupakan alur panjang hasil ledakan listrik dalam otak yang disalurkan melalui jari tangan. Orang yang menulisnya konsisten dan rapih akan tercermin dari pola dan sikap hidupnya. Begitu juga yang tulisannya "tanda tangan semua" alias orat-oret doang.

Ternyata ilmu menulis, menurutnya, mirip ilmu fengshui. Bentuk palang horisontal dari huruf "t", panjang pendeknya loop pada huruf g atau j melambangkan watak masing-masing (dan peruntungan) seseorang. Dengan mengikuti aturan baku ilmu tulis yang diajari bapak/ibu guru disekolah ledakan listrik dalam otak bisa dikontrol.

****
Ketika menjadi "mudlogger" - itu lho orang yang pekerjaannya menyampling, memeriksa, dan menyatat batu hasil pengeboran untuk dibuatkan kolom-kolom berdasarkan urutan stratigrafi atau nama batuan, maka saya hanya kenal satu warna tinta yaitu "HITAM". Dari pengalaman, spidol warna hitam jauuh lebih tahan lama dari pada warna biru, apalagi berani "coba yang merah", gampang sekali luntur. Harap maklum, contoh batuan akan disimpan sampai puluhan tahun, sehingga label harus jelas terbaca dan tidak luntur dimakan usia.

Sejak itu semua pulpen, ballpoint saya selalu berwarna hitam. Kalau di fotocopy, atau dikertas fax warnanya selalu jelas terbaca. Kata Rhoma Irama "Entah mengapa kusuka, barang yang berwarna hitam, sehingga yang aku punya semua berwarna hitam." - kecuali istri-istrinya yang selalu berwarna putih kinclong.

Bekas bos saya seorang cewek, di meja kerjanya selalu tersedia spidol aneka warna. Instruksi ditulis pada kertas putih A4 dengan spidol berwarna coklat, hijau dan jarang sekali warna hitam. Bila ia marah, tulisan berubah warna merah. Para staf sudah maklum mood sang pimpinan kalau sudah begini. Cukup dengan coretan kertas putih, semua instruksi sudah diberi legitimasi untuk dijalankan secepatnya.

Eh sejak berteman dengan pengacara, kok mulai mengendus kebiasaan aneh mereka. Profesional yang kantornya penuh lukisan bertema "rame-rame potong padi", ternyata fanatik berat akan tinta berwarna biru. Alasannya warna biru akan nampak kurang jelas bila di-fotocopy. Apakah ini melambangkan para pengacara kalau nge"charge" clientnya sering tidak jelas, wallahualam.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com