Terminal F2 Cengkareng

Date: Thu Dec 2, 1999 5:40 pm
Subject: Sebuah cerita (biasa) di F2 Cengkareng

Beberapa hari yang lalu saya berada di ruang tunggu F-2 Cengkareng.

Seperti diketahui, di ruang tunggu Cengkareng ada dua pintu untuk menuju ke badan pesawat. Saya suka sekali mencoba insting saya, pintu mana yang akan dipakai untuk giliran saya. Biasanya meleset, padahal cuma 2 pintu.

Kedatangan saya kali ini suasana agak lain, di counter sayap kiri ruang tunggu, ada secarik kertas ditulis secara darurat "ACEH" lantas tulisan ini ditempel didinding counter dengan plester yang darurat juga, yaitu stiker bertuliskan fragile.

Maka saya maklum kalau pesawat ke Aceh, menggunakan pintu kiri. Sayap kanan diberi pemberitahuan sama daruratnya, yaitu "PEKANBARU". Maka hilanglah kesempatan saya bermain tebak pintu mana.

Tapi saya senang, sebab sekarang ruang tunggu F2 lebih komunikatip.

Sekalipun darurat, cenderung memalukan bisa dibandingkan dengan megahnya bangunan sekitarnya, maka saya tahu, paling tidak para penumpang tidak akan bingung, atau memilih tempat yang terlalu jauh dari pintu masuk. Alasannya sederhana, pertama ada kemungkinan tidak mendengarkan aba-aba masuk pesawat, yang kedua, kalaupun masuk, kalau terlambat sedikit saja, ruang kabin kita sudah diisi penumpang lain.

Apalagi kalau pesawatnya jenis Foker, para penumpang nggak tanggung-tanggung bawa jinjingan seperti orang mau mengungsi akibatnya ruang bagasi siapa saja diembat.

Saya lihat Marie Muhammad mau ke Aceh, "langsung atau ke Medan dulu ?", yang dijawab Medan dulu, oleh petugas. Marie Muhammad tidak sendirian sebab saya lihat ada Provost yang mengawal rombongannya. Dibelakang Marie, ada rombongan RCTI juga ke Aceh.

Tidak lama datang group adik-tiri eks orang nomor satu kita, juga rombongannya panjang. Salah satu terdapat rekan satu angkatan saya (tapi dia di Pertanian), mas Suharyadi. Rekan yang seneng ngeyel kalau bicara ini, sedari mahasiswa super sibuk, sekarang sukses berat dengan menjadi orang kepercayaan Mr.PRB, terutama dibidang pendidikan Universitas Mercu Buana, cuma karena dia sibuk berlobby, saya urungkan niatnya untuk.... tanya e-mail addresnya, sebab kalo boss biasanya sudah nggak ada waktu untuk berkorespondensi.

Suharyadi dan Mr.Prb rupanya menuju Yogyakarta.

Saya juga lihat dr. Boyke dan Psikolog cewek Tika Bisono (yang ini sering ketemu makan siang di kantin belakang Arkadia - Kebagusan). Juga ke Yogya.

Dr. Sri Bintang datang sendirian, menenteng lappy (laptop), berjas dan senyum sana sini. Rupanya akan ke Palembang. Sri Bintang juga ketularan cium pipi kanan cium pipi kiri kalau ketemu sahabatnya.

Sekarang terjadi kesibukan di Bandara, seorang penumpang bernama Purnomo (saya tahu karena diumumkan namanya), belum muncul di pesawat.

Petugas teriak-teriak seperti calo bis di Magelang, "Yogya...Yogya".
Karena tidak ada respons, maka pak Purnomo ditinggalkan.

Sekitar 15 menit setelah pintu pesawat ditutup (saya dengar melalui HT petugas), seorang bapak tinggi besar, gabungan Faisal Tanjung dengan Matori, berbatik, berkupiah, muncul. Mr.Purnomo. Dia protes keras sebab tidak dipanggil, tidak ada pemberitahuan keberangkatan ke Yogya.

Mr. Purnomo duduk sangat jauuuuh dari pintu masuk. Mungkin ketiduran.

Tapi saya menarik pelajaran, jangan duduk jauh dari pintu masuk ke pesawat.

Hari itu saya rasanya menjadi orang yang tambah ilmu pengetahuannya.

Saya coba duduk rileks, buka Intisari Desember, berniat membaca ulang cerita saya yang dimuat disana.

Dan saya tambah pelajaran baru lagi, jangan tinggalkan rumah tanpa ..... tanpa ......tanpa

Cilaka, handphone ku ketinggalan.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Nyaris bentrok antar angkatan

Daftar Pemain Nagasasra dan Sabukinten

Meditasi Lilin bikin PeDe