Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 18, 2006

Tenggelamnya Kapal Pengeboran Seacrest akibat diterjang "GAY"

Pada tahun 1988 saya pernah bertugas di lepas-pantai Teluk Siam. Umumnya pengeboran di lepas pantai (offshore) relatif lebih cepat ditimbang terhadap pemboran darat (onshoe/land). Alasan utama, umumnya umur batu endapan di lepas pantai lebih muda usia sehingga belum alot dan mudah ditembus mata bor. Pengeboran di kawasan Teluk Siam termasuk gila-gilaan, dalam 2 minggu kerja kami bisa menyelesaikan paling tidak 2 sumur miring yang kedalamnya diatas 9000 kaki (3 kilometer). Padahal pada kedalaman yang sama, bisa dilakukan dua kali pemasangan selubung sekaligus penyemenannya.

Saat operasi pasang selubung, keseluruhan mata bor sudah harus dicabut. Bandingkan dengan pengeboran di darat yang membutuhkan waktu 3 minggu untuk mencapai kedalaman 1000 meter atau 9 minggu untuk mendapatkan kedalaman 3000 meter. Produktivitas kapal SeaCrest memang tergolong menakjubkan sebuah lubang dengan kedalaman 1850 kaki setiap harinya. Tidak heran prestasi ngebor-ngebut ini dianugerahkan kepada para karyawannya berupa plakat dan bonus. Sayangnya niat baik ini menjadi drama karena unsur keselamatan sering dipicingkan. Bagi mudlogger, bekerja dengan kecepatan bor yang tancap gas adalah nightmare, betapa tidak pengeboran menggunakan lumpur mahal yang terbuat dari minyak solar. Sekeliling rig cuma terisi bak-bak berisi ribuan liter minyak solar, selain bahaya api, maka bahaya air juga harus dihindari. Maksudnya sudah pasti, setetes airpun tidak diperkenankan masuk kedalam solar yang sengaca diramu menjadi lumpur karena bisa merusak sifat lumpur. Belum lagi bau yang solar menguap menyisakan bau yang mirip tumpukan cabai busuk.

Selalin berbau, lumpur minyak, bila terkena, menimbulkan rasa gatal ditubuh, dan meninggalkan kulit seperti bersisik.

TETAPI MENGAPA LUMPUR SOLAR DISUKAI?

Mula-mula pengeboran di Teluk Siam menggunakan lumpur jenis air-tawar, namun terjadi reaksi berlebihan antara batu lempung dengan lumpur sehingga lempung mengembang dan menjepit pipa-pipa bor sehingga sukar untuk digerakkan, apalagi dicabut. Dengan penggunaan solar, gesekan antara pipa bor dengan batuan seperti diberi minyak pelicin, makin licin makin lancar. Jarang sekali pipa bor terjepit, hal yang banyak dijumpai dalam pengeboran dengan lumpur air. Irisan lubang yang dihasilkan juga mulus, berbeda dengan pengeboran dengan lumpur biasa, dinding lubang sering terkikis, tidak jarang bentuk lubang sudah seperti keris ditelikung tsunami. Saya bekerja dua mingu di Rig dan satu minggu di darat.

Karena hampir dua minggu sekali mampir dan menginap di Singapore sebelum keesokan harinya ke Thailand, maka pihak imigrasi bandara Hatyai sampai hapal dengan wajah saya. Di Hatyai Kadang mereka memanfaatkan passport dan pas pesawat untuk dibelikan barang "duty free" seperti rokok, whiskey karena memang lebih miring katimbang beli diluaran. Tapi yang pasti saya belum pernah sepeserpun dimintai uang seperti yang sering kita dengar keluhan orang asing dan "orang dewek" yang datang ke Indonesia.

Satu-satunya orang yang kurang ramah terhadap saya adalah pak Mustafa dari Malaysian Airlines yang membawa saya dari Hatyai ke Singapore. Begitu saya menyodorkan tiket tanpa kode booking, wajahnya langsung "BT". "You always gets me in trouble," katanya suatu hari. Maklum orang minyak kadang sulit menduga jadwal kepulangan kerja.

Saat mengebor di lepas pantai, terkadang kami mendapat laporan dari lembaga Meteorologi Thailand. Misalnya akan kedatangan taifun, badai dsb. Kalau ini terjadi, seluruh operasi pengeboran distop, pipa yang masih dalam lubang bor dicabut lalu diurai dan dimasukkan kedalam kapal, lalu diikat erat-erat. Kalau anda mengebor 3000 meter, paling tidak ada 100 batang pipa panjang "stand" di dalam lubang bor. Kalau pipa ini harus dicabut dan diurai per batang memerlukan 5 menit, maka sudah terbuang 500 menit. Dalam kenyataan, angka 500 menit tidak pernah tidak terlewati, maksudnya selalu lebih dari patokan. Sementara untuk meningkatan kesiagaan dilakukan latihan emergency evacuation seperti meninggalkan kapal dan mengatasi kebakaran.

Caranya saat orang tidur lelap sirine berbunyi dan kita harus sudah berada di tempat yang ditentukan (misalnya dek helikopter) dengan menggunakan, pelampung, sepatu boot dan helm. Bila didapati awak kapal yang lelet lebih dari 3 menit, maka latihan akan diulangi dengan waktu dan hari yang dirahasiakan. Kalau waktu tidur tidak mau diganggu, resikonya harus reaksi cepat. Namun demikian, yang namanya alam seringkali tidak bisa diprediksi. Dikabarkan ada taifun lewat, bisa jadi sekedar "false alarm", dan manusia biasanya terlena. Tidak jarang menyumpah serapah kepada badan meteorologi dan geofisika sebagai "bullshit".

Tahun 1989, saya mengambil cuti tahunan. Tidak berapa lama kemudian, saya dikabari bahwa kapal tersebut terbalik dihantam taifun yang ditakuti di perairan Thailand karena daya rusaknya yang tinggi yaitu taifun Gay.

Hasil investigasi ternyata saat peringatan diberikan, rig pengeboran masih nekat belum mencabut pipa bornya. Dengan berat 200 ton yang dibebankan pada menara, boleh jadi kapal kehilangan keseimbangannya saat datangnya serangan taifun. Perusahaan ingin "mengejar setoran" dengan memperkecil "down-time" untuk cabut pasang pipa yang berakhir dengan 91 nyawa terpental dari jasadnya. Beberapa yang selamat (bisa dihitung dengan jari), umumnya berhasil bepegangan pada tong-tong dan mengikatkan diri pada tong tersebut sehingga ketika mereka tidak sadar, kedinginan (hypotermia), organ pernafasannya masih terselamatkan karena tidak tenggelam.

Dari pengalaman tersebut, tidak salahnya bila mengalami banjir, lalu lari ke loteng sambil paling tidak membawa tong, ember, tali, sehingga apabila ketinggian air sudah sulit melebihi badan, tong, ember, atau kasur tiup bisa menjadi alat pelampung kita. Juga kecenderungan kita (para wanita) berteriak histeris, meratap akan memperburuk kondisi fisik kita. Bukankah setelah menangis kita akan merasa letih seluruhtubuh.

Para mudlogger dan seperti pekerja rig pengeboran biasanya mendapat latihan dalam helikopter bohongan, lalu helikopter ditenggelamkan dalam keadaan terbalik. Peserta yang mudah panik biasanya akan kesulitan untuk melakukan orientasi dalam air, menendang jendela pesawat dan berenang keluar karena kehabisan nafas.

7 Jan 2005

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com