March 10, 2006

Tahu yang asem justru tak berformalin

Waktu kecil di Tangsi Brimob Bukit Besak- Palembang, hampir tiap pagi kami didatangi seorang perempuan muda yang kalau lihat perawakan dan cara berbicara pasti "HoKian," wajahnya terbilang cantik ini memikul dua keranjang penuh berisi tahu sehingga kulitnya yang putih menjadi muscle, tapi kami tahu bahwa tahunya enak sekali seh. Dengan pengalaman kita tahu bahwa tahu dengan formalin ada kekerasan dan textur yang tidak wajar.

Saya nggak tahu pisan bagaimana tahu dibuat, kecuali digiling dengan batu besar, diberi bibit tahu, lalu didiampak semalaman, tetapi berapa bulan berselang saya naik kereta Bisnis ke Cirebon (harap dimaklumi kereta bisnis ini bukan pesawat terbang kelas bisnis, melainkan kereta bagi para pedagang ayam dan kambing ). Tanpa AC dan tanpa Kipas angin (yang diatas saya).

Tersebut kisah, diseberang saya ada 3 pemuda, sekalipun mereka bercakap dalam bahasa 'aa, eta, heula, kunaon," tapi pengalaman nyangkok ilmu "perminyakan " berbulan di ITB Bandung maka bisalah mengerti bahasa tersebut.

Intinya mereka berbincang bahwa kenapa tahu mereka kalau sore tau-taunya sudah asem, padahal mereka sudah semaksimum mungkin bersikap higienis. Walaupun sedang pura-pura baca buku, kuping saya tegakkan, saya pinjam ilmu Ken Arok untuk menyetel sensitivitas kuping agar bisa lebih peka mendengar percakapan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dengan Dedes di bilik peraduannya, sehingga dia bisa tahu bahwa ada keretakan rumah tangga yang bisa disusupi orang ketiga (cek ricek nih ye).

Salah seorang bilang "kalau mau nggak asem, ada sekolahannya itu, ada obatnya." - terus mereka bertanya, kalau Formalin tea naon.

"eh jangan main-main dengan yang itu, berbahaya bisa ditangkap...." cetus temannya lagi.

Kalau pernah melihat jenasah disuntik diujung kaki, lha itu formalin yang disuntikkan. Lalu kalau barang tersebut bercampur udara, breng mata bisa jadi pedes. Persis kalau masuk toko Kohinoor di jalan Malioboro. Tahu yang dicampur dengan formalin memang disinyalir ada, sebab tahu menjadi sangat keras, awet. Tetapi bukan itu saja, pedagang yang nakal, mulai ikan bandeng, gurami, lele juga di "kepyuri" formalin agar tetap mblegendong tetapi atraktif. Ibu rumah tangga sudah pada bisik-bisik.

Di desa Citayam, pas liburan kalau pagi saya pesan nasi uduk dan goreng tempe. Masih okeylah dengan gorengan minyak curah yang "kotos-kotos" minyaknya. Tetapi ketika melihat semur tahu yang per biji cuma Rp. 300 dan besar, tur tegar saya mulai curiga. Tahu yang heboh kualitetnya macem tahu Kediripun kalau dipegang masih ada lunaknya, lha ini malahan seperti apem bantet. Ini tahu disimpan 3 hari tiga malem tidak berubah warna rasa maupun kekerasannya. Dan terlalu keras untuk tahu biasa.

Kalau penduduk setempat diberitahu soal kemungkinan formalin, mereka tertawa sebab mau pindah ke daging ayam atau steak jelas nggak mamphu. jadi ya makan saja sambil baca mantra "tamba teka, lara lunga," glek, yamy, yami. Toh dagelan mereka kalau mayat saja bisa awet, orang hidup bisa awet hidup.

Di Bekasi misalnya saya lihat bocah-bocah mengumpulkan ikan sapu-sapu dari sungai. Ikan yang lebih mirip tokek daripada ikan ini mau diapain. Lalu iseng saya tanya, beberapa menjawab untuk dijual dan dicampur bakso. Astaga. Tapi soal keabsahan jawaban bocah tadi saya belum sempat membaca penelitian. Lha wong tikus saja dibuat campuran Bakso.

Tapi dengan mengetahui asal usul pedagang dan penjual tahu biasanya kita bisa lebih tentrem makan tahu. Lha Megawati minum obat palsu saja jadi presiden, apalagi makan tahu.
Date: Thu May 29, 2003 9:03 am

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com