Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 17, 2006

Sumpah Serapah orang Thailand

Date: Thu Nov 4, 2004 10:29 am

Surat Kabar mewartakan 84 warga Thai yang sebagian besar muslim tewas dalam kerusuhan. Lalu di Indonesia kita ngamuk, asal warga Thailand di sweeping. Lalu ingatan saya kembali ke Hadyai, Thailand. Sekitar 10 tahun lalu. Saya punya teman yang bekerja di Rig, tugasnya adalah Mudlogger Sample Catcher, yaitu orang suruhan untuk mengambil sample batu bor, membuatkan kopi, mengepel kabin sampai menjadi pengawas sewaktu saya masih merokok (itu dulu). Bukan apa-apa, kalau ketahuan merokok di Rig Pengeboran, alamat di gusah dari Rig. Jadi kalau sudah "kecuut", saya nekat merokok, sementara Salman ditugaskan pura-pura ngapain gitu, dan memberi kode bilamana pengawas rig datang. Sebetulnya tindakan "stupid" sebab asap rokok akan menempel di baju, rambut dan seantero ruang 8x8x8 meter.

Suatu malam, setibanya dari Singapore, saya bermalam di Hadyai sebelum esok paginya naik Heli ke Rig Pengeboran kawasan Teluk Thailand. Lalu ingat pernah janji akan kerumah Salman, sekalian melihat kehidupan orang Thai Moslem. Tapi apa mau dikata handphone belum ditemukan sehingga berbekal alamat yang pernah ia berikan, saya jalan kaki menyelusuri lorong yang gelap sampai setengah gelap. Dan kesasar....

Untung saya melewati barak tentara Thai. Saya datangi pos mereka dan mencoba bertanya alamat yang diberikan. Prajurit pertama sukar menerima Inggris saya, baru prajurt ke-2 bisa memberikan arah jalan.

Tidak berapa lama saya sudah dibibir pantai Hadyai. Beberapa lampu nelayan hanya diterangi oleh pelita. Saat melangkah lebih jauh, tiba-tiba beberapa sosok tubuh bermunculan dari pasir di kegelapan pantai. Rupa-rupanya karena hari amat gerah, penduduk lebih suka tiduran di pasir seperti turis asing di Bali (tapi bukan). Untung saja tidak terinjak. Kebiasaan yang sama juga ditemui di pantai Madura. Dengan rumah yang begitu rapat, dan hari gelap agak sukar mencari alamat tanpa nomor tersebut. Untung ada seorang bocah yang mengerti maksud saya ketika saya bilang Salman.

RENTETAN SUMPAH SERAPAH

Di depan rumah yang dituju, si bocah mengetuk pintu dan bicara dalam bahasa negeri. Diluar dugaan, belum sempat saya mengucapkan assalamualaikam, rentetan maki-makian dalam bahasa Thai menerpa saya (dari desibel serta frekuensi yang sampai ditelinga saya). Guide jawilan saya memberi kode untuk meninggalkan tempat tersebut. Rupa-rupanya, Salman ini sedang punya WIL baru, sehingga jarang sekali pulang ke rumah. Akibatnya semua temannya dianggap penyebab keretakan rumah tangga mereka. Termasuk saya yang tidak tahu ujung pangkal persoalan. Sial bener.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com