March 09, 2006

Soto Gebrak, Bush Menggebrak Iraq

SUATU MALAM DI PANGKAL JALAN MARGONDA

Jalan Margonda Raya yang sudah diperlebar sampai dua kali adalah jalan favorit saya. Pasalnya, kalau sudah sore petugas para hamba wet (tapi memang ada yang ada orang jawa wetan) dari Polantas sampai Brimob Kelapa Dua hadlir disitu untuk mengantisipasi lonjakan mobil. Alasan lain yang paling significan, kan disitu ada RM Padang Sederhana yang legendaris, RM Padang Simpang Raya, Mie Ayam Barokah (Berkah), ayam Goreng Christine, Bakmi Margonda dan Empek-empek pak Raden. Disamping penjual Ayam Arab dan mesin penetas telur.

Di pangkal jalan Margonda ada plengkung Selamat Datang ke Kota Depok. Dan di “kulon” jalan terhamparlah kain mori putih dengan tulisan “SOTO GEBRAK, Senyum Boleh Marah Jangan..” – dengan ciri khasnya Sebuah botol yang dulu isinya “Jin” dan dibuang ke laut diganti dengan kecap manis nampak di pajang di depan. Mobil saya parkir disitu, agak melawan arus dan egois. Maklum dari kantor di TB Simatupang, Lenteng Agung lalu Margonda. Ada 6 meja diparkir disana dengan kursi plastik. Hiasan meja selain kecap, sambel tusuk gigi juga ada tusuk sate dengan korbannya usus ayam, empal sapi, dan bacem paru.

Ini hanyalah semata soto biasa, irisan daging, irisan babat, plus miehun atau sohun. Potret didinding bukan seekor cicak melainkan Cak Anton pendirinya dengan Kris Dayanti, Mamiek Slamet dan beberapa Seleb lainnya.

Menu hiburannya tepatnya “horror” adalah suara “dog-dog” yang ditimbulkan beradunya botol kecap dengan meja. Dulu dinamakan soto dog-dog, tetapi orang mulai curiga, jangan-jangan daging “kambing balap”. Sejak itulah soto dog-dog berubah menjadi gebrak sekaligus bikin pete Jaya Mulya dengan logo Botol “Jin”

Soal suara gedubrak kalau didengarkan memang gedubraknya dua kali lebih keras daripada ember plastik yang diadu oleh penjual alat rumah tangga door to door. Dan akhirannya selalu ada “krompyang…..”

Penderita Jantung dan Latah sebaiknya makan ditempat lain saja.

Bicara soal ember plastik, saya memang sering beli ember ini untuk penetasan telur gurami, embernya memang kuat dijamin nggak pecah kalau diadu. Tetapi cerita jadi lain kalau ember ini diisi air dan mulai di otong sana di otong sini. Maksudnya diisi air lantas di gotong, biasanya bibirnya yang robek. Kecuali merek kondang seperti Lion Star. Ah saya di dis, menyebut nama pabrik. Anda akan kecewa kalau melihat botol kecap yang di benturkan ternyata botol minuman “gin”, yang entah bagaimana diucapkan dalam dialog Jawa Timur jadi botol Jenjun. Ada yang mengatakan botol dengan pantat lebar dan leher kecil memanjang ini sebagai botol Jin. Sebuah botol yang dipakai sejak tahun 1976 ternyata masih sakti sampai sekarang. Dan untuk mencegah pecahnya botol, mereka rata-rata sudah menyiapkan imitasinya untuk masing-masing gerai.

Kalau mau jujur rasa sotonya sih biasa-biasa saja kendati katanya ada 16 ramuan didalamnya termasuk Jahe, Kunyit, Loncang plus tepung kedelai untuk membuat kuahnya menjadi mengental. Untuk dagingnya, menurut Cak Anton yangkini juga mahir ber dasi, dia pilih daging nomor satu yang telah direbus minimal 3 jam, tetapi sekarang daging nomor satu juga dicampur nomor dua. Maklum menjaga harga tetap sama tetapi, kualitet sedikit diturunkan.

Sambil mengaduk Es Jeruk yang gulanya mungkin seperempat gelas sendiri, mata saya menatap sesosok figur yang cukup kondang. Cuma siapa ini.

Mungkin merasa diperhatikan seseorang, mereka berdua makan jadi buru-buru dan langsung pergi.

Melihat pelayan berseragam cukup akrab dengan tamu tadi, lantas saya dekati pelayan, “kenal sama dia mas?”

Pelayan mengangguk – ini bahasa tubuh artinya “saya kenal sekali Jek”

“Siapa sih dia tadi?” tanya saya setengab berbisik

“Oh itu yang duduk berdua di pojok tadi kan?” Sekali lagi bahasa tubuhnya bahkan auranya memancarkan sinar terang, dia pasti tahu tamu tadi, tebakan saya betul.

“Lha iya”, kata saya penuh harap. Pasti dia akan menceritakan tamu tadi panjang lebar dengan bumbu sekaligus.

“Itu kan, tamu kami, pelanggan tetap” katanya dingin..

“Lha itu orang bule juga tahu, tapi namanya siapa?”

“Nah itu yang saya nggak tahu juga," katanya sambil nyengir lalu kembali melayani pembeli.

Siwalan...bener..

Itulah Jaksa Kito (nggak pakai Harahap, itu plesetan) sedang menikmati soto gebrak ini dengan temannya. Senyumnya yang manis tetapi sedikit culas masih tersisa dibenak saya. Mudah-mudahan ini cuma “twinnya” kalau mau ikutan filem Bolywood. Bukankah ia sedang dalam perkara kejaksaan, kok bisanya jalan-jalan.

“Gedubrak…praang, suara dari ruang dapur. Dan gadis didepan saya menjerit (sekali lagi), kaget sambil memukul manja pasangan disampingnya. Tangannya menggegam kertas tissue dan dipukulkan ke kekasihnya persis manjanya tokoh silat wanita filem Taiwan kepada kekasihnya, memukul tetapi lebih mirip massage.

Depok 20 Maret 2003
Beberapa jam setelah Bush membombardir Baghdad.

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com