Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 10, 2006

Soe Hok Gie dan Kenangan Mahameru

Tulisan Mas Mimbar tentang "Lelucon Soe Hok Gie" membangkitkan kenangan saya waktu jaman sekolah dulu. Waktu itu lagi senang-senangnya menjadi pecinta alam dan salah satu kegiatannya adalah mendaki gunung. Satu diantara nama-nama yang saya kenal sebagai pendaki gunung adalah Soe Hok Gie yang hidup di jaman Angkatan '66 dan terkenal dengan buku kumpulan catatan hariannya, "Catatan Seorang Demonstran" (Penerbit LP3ES, 1990), dan akhirnya meninggal di puncak gunung Semeru.

Mulanya nama ini lebih saya kenal, bukan lantaran aktifitasnya sebagai demonstran Angkatan '66, melainkan karena dia sorang pendaki yang mati digunung. Ini memang kenangan masa duapuluh tiga tahun yll. (dengan lain perkataan, berarti sekarang ini saya sudah menginjak tua).

Tahun 1980 adalah pengalaman pertama saya mendaki gunung, dan gunung itu adalah gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Saya memang suka hiking atau jalan-jalan (benar-benar dengan berjalan kaki) melintasi alam pegunungan, hutan dan bahkan termasuk perkotaan. Namun mencapai ke puncak gunung Semeru atau Mahameru adalah pengalaman pertama mendaki gunung yang benar-benar mendaki. Perjalanan pendakian kala itu dilakukan bersama rekan-rekan pecinta alam lainnya.

Perjalanan dari Yogya menuju Surabaya (dengan naik kereta api nembak di atas), lalu dilanjutkan ke Malang. Dari Malang menuju ke Tumpang, lalu melewati Gubuk Klakah menuju ke Ranu Pani sebagai desa terakhir sebelum pendakian dimulai. Waktu itu sarana transportasi belum seperti saat ini. Truk seringkali menjadi pilihan yang tanpa bisa memilih jika sekali waktu bau bak truknya naudzubillah...., entah habis ngangkut apa.

Pendek cerita, perjalanan akan menyinggahi Ranu Kumbolo. Ini sebuah kawasan danau yang dikelilingi perbukitan berada di pertengahan pendakian. Momen paling indah di tempat ini adalah ketika pagi hari cerah dan angin bertiup lembut sehingga permukaan air sangat tenang tak bergelombang. Maka memandang ke danau akan nampak seperti memandang sebuah cermin besar sehingga bayangan terbalik di permukaan air dari dua bukit yang terbelah di latar belakangnya akan nampak persis seperti perbukitan aslinya. Sehingga kalau melihat hasil fotonya, akan kesulitan mengidentifikasi mana belahan bukit yang asli dan mana yang bayangan.

Melewati Kalimati, lalu Arcopodo hingga terakhir pendakian menuju puncak Semeru. Penggal terakhir inilah perjalanan pendakian menuju puncak yang paling menantang dan menguras tenaga. Jaraknya paling-paling sekitar satu kilometer, tapi terjal mendaki di atas tanah dan bebatuan lepas dan tanpa pepohonan, sehingga mudah merosot jika dipijak. Maka jarak satu kilometer dapat ditempuh berjam-jam, hingga tiba di puncaknya. Biasanya dipilih waktu pagi sekali untuk mencapai puncak, karena jika kesiangan kondisi tanah bebatuan menjadi kering dan semakin tidak stabil, sehingga sukar ditempuh.

Selain itu -- nah, ini yang berbahaya -- semakin siang angin akan bertiup rendah ke arah utara menyapu dinding Mahameru, sehingga gas beracun yang menyembur dari kawah Jonggring Saloko di selatan Mahameru bukan tidak mungkin akan menyerang siapa saja yang berada di utaranya. Dan, diantara korbannya pada tanggal 16 Desember 1969 adalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang tercekik gas beracun ini. Kini di puncak Mahameru terpancang tonggak "In Memorium" untuk mengenang kedua pendaki anggota Mapala UI itu.

***

Gunung Semeru atau Mahameru, tinggi puncaknya 3,676 meter di atas permukaan laut, berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tepatnya di perbatasan antara kabupaten Malang dan Lumajang. Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api yang masih aktif. Keaktifannya ditandai dengan menyemburnya asap vulkanis bersama gas beracun dari kawah Jonggring Saloko yang berada di sebelah selatan puncak Mahameru. Semburan asap dan material vulkanis tinggi ke angkasa terjadi hampir setiap 10 - 15 menit. Menyisakan latar belakang pemandangan yang menarik untuk berfoto di puncak gunung (momen yang hampir-hampir tidak pernah dilewatkan oleh para pendaki), tapi juga ancaman gas beracun yang mematikan.

Di tempat itulah dan dalam situasi seperti itulah, seorang demonstran, Soe Hok Gie, yang waktu itu sedang mengejar perayaan ulang tahunnya yang ke-27 di puncak Mahameru, menjadi korban atas serangan gas beracun. Rest in Peace -- seorang demonstran Angkatan '66 yang pernah dikagumi karena pikiran-pikirannya dan kemampuannya berorganisasi, hingga saat ini.

Benang merah dari cerita ini adalah bahwa mencapai puncak gunung Semeru seringkali menjadi salah satu angan-angan bagi setiap pendaki gunung atau mereka yang suka mendaki gunung. Baik terdorong oleh karena keindahan alamnya maupun oleh tantangan alamnya.

Kepada para rekan muda pendaki gunung atau mereka yang suka mendaki gunung, saya ingin meyakinkan bahwa jika kesempatan memungkinkan, jangan lewatkan untuk dapat mencapai puncak gunung tertinggi di Jawa, Mahameru. Kalau bukan karena itu, saya pasti tidak akan mau mengulanginya tiga tahun kemudian, kembali menuju puncak Mahameru pada tahun 1983, dua puluh tahun yang lalu.

Hidup pendaki gunung.


Tembagapura, 2 Juli 2003
Yusuf Iskandar

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com