Sebuah catatan memasuki usia LANSIA. Ada yang bilang untuk memelihara binatang seperti anjing, kucing atau burung, maksudnya muncul rasa persahabatan dan saling membutuhkan. Saya menyikapi hidup dengan dengan tetap bekerja sambil memelihara pena. Perawatannya mudah, sering diajak jalan-jalan, putar pikiran. Saya merasa sebagai penulis sebab selalu ingin menulis setiap hari.

March 16, 2006

So bored So Chap

Date: Thu Jul 15, 2004 11:57 am

Minggu-minggu ini universitas elite di Singapore sedang ramai-ramainya mengadakan pelantikan pada wisuda atau Convocation. Para orang tua yang selama ini telah merasa memeras habis segala resources demi anaknya, seperti mendapat hari bebas sesak napas. Bayangan kekuatiran seperti "apakah anak saya bisa lulus tepat waktu, atau apakah saya mampu secara finansial mendukung study anak saya, hari itu seperti terjawab tuntas, tas. Tetapi tidak semua para wisudawan melihat hari tersebut sebagai istimewa, penuh sensasi emosional, bahkan ada yang memanfaatkan peluang bisnisnya alasannya "neat profit" - maksudnya tidak pakai modal tetapi untungnya gede.

Sebut saja Rachel, 22, misalnya, seorang warga Singapore, dia lulusan Teknik Listrik dari Nanyang University (sekarang masing NTU), tetapi dua tiket masuk yang diperolehnya secara gratis yang seharusnya untuk kedua orang tuanya, justru dijualnya seharga $50/lembar. Jadi boro-boro bikin selametan di kampung. Menghadiri wisuda-pun mereka anggap buang-buang waktu saja. Padahal mencari selembar kertas bernama diploma itu sulit, tetapi giliran mengambilnya, sang pemilik terkesan ogah-ogahan. Dalam bahasa Singlish "So bored, so bo-chap" - "bosen, ngapain gitu aja kok repot." Alasannya, "orang tua saya sudah pernah lihat convocation yang clinical begitu, jadi okey saja kalau mereka tidak datang pada saat wisuda saya. Atau Said malahan bilang dalam sebuah media :"I think it's nothing fantastic, I dont intend to go on my convocation.."

"The ceremony is quite long winded. A lot of my friends are also not going.."

Tetapi ada juga alasan lain seperti Gao Yuan, 23, dari Cina daratan. Ia tahu orang tuanya tidak bisa hadir sehingga daripada mubadzir lebih baik menjual tiketnya. Diperkirakan ada sekitar 80-an atau (14%) wisudawan membolos pada hari convocation mereka.

Sekarang siapa pembeli tiket yang paling potensial dari tahun ke tahun ?

Orang Indonesia!

Sebut saja Aji, 23, seorang lulusan Teknik Mesin Indo, mengaku beli tiket extra seharga Sin $100 untuk dua orang dilakoninya juga, lantaran dua adiknya sangat bahagia ingin melihat kakaknya diwisuda dinegara orang.

Tapi tidak semua demikian, Ranan, 22, misalnya dari Teknik Elektro NTU selain mengundang kedua orangtuanya dia malahan bisa mengajak pacar, dua adiknya tanpa tiket. Ini memang masuk mahzab anti-Bo-Chap dan pro- Bo-nek. Alias niat bangget!

No comments:

Blog Archive

Mimbar Saputro as Pakde Blangkon

My photo
Anak tangsi Brimob yang menulis blogger. Bekerja sebagai MudLogger "tukang ambil conto batuan" di rig-rig pengeboran, Indonesia, Papua Niugini, Muay Tai, Philippine, Pakistan, Australia. Sekolah: SD 43 Kertapati, SMP 3 Lampung, SMA2 Lampung, UPN Yogya(tak selesai), UNPAD (tak selesai). Kontributor jurnal publik wikimu.com