Siskamling Tempo Doeloe

Date: Wed Dec 17, 2003 10:29 pm 12630

Ketika angka kejahatan di residensi Betawi memperlihatkan trend yang menguatirkan maka gubernemen membuat perintah untuk melibatkan sipil sebagai peronda dengan istilah jaman sekarang siskamling. Setiap malam polisi berkeliling untuk mengontrol gardu-gardu. Dari dulu, seorang polisi atau tentara yang bertugas mempunyai kewajiban mengetahui apa saja yang terdapat dikawasannya dalam radius 8 kilometer. Mereka harus tahu setiap belokan jalan, penghuni sholeh, yang sakinah dan yang bajingan. Sekarang jangan heran diradius 8 meter ada dua orang terkapar ditembak didepan hidung polisi, dan lolos (sebentar), sebab yang nembak tentara (marinir) seeh. Seguru seilmu. Disebuah gardu jaga yang terletak di jembatan Tomes polisi mendapati dua ronda yang satu sakit beri-beri yang lain kakinya luka parah.

Bintang Betawi terbitan 9 Des 1903 lantas berkomentar, kalau penjaganya saja tidak mampu berdiri lantas apa yang akan dijaga. Orang jahat bisa masuk kampung tanpa ada yang mengejarnya. Tidak jelas kapan perentah siskamling ini dikeluarkan. Yang harus menjaga gardu adalah orang BumiPutra dan orang Timur Asing. Sementara orang asing seperti Belanda tidak dikenai peraturan ini, lalu ada dua kelompok warga yang juga bebas ronda yaitu orang Papango dan Moor. Orang Moor sebetulnya orang keling yaitu berasal dari Coromandel yang pernah menjadi pasar dagang kumpeni. Tahun 1753 seorang bangsa Moor (keling, islam) diangkat menjadi Mayoor Moor dan jabatan basah ini mengeruk banyak uang seperti pajak kepala dsb. Dan dengan kekayaan ini orang keling dibebaskan dari kewajiban ronda.

Setiap ada upacara resmi seperti pengangkatan gubernur jendral baru, orang akan bisa melihat batalion Papangor dan Moor bergabung disitu. Ini berbeda dengan orang Cina yang dilahirkan di Hindia lantaran mereka tidak berada di bawah kapitan Cina. Umumnya mereka menyebar dan menggunakan mesjid untuk didiami dan ibadah mereka. Akhirnya mereka membuat gardu sendiri.

Daendels lalu mengeluarkan perentah agar setiap rumah gardu dilengkapi dengan kentongan yaitu kayu yang dilubangi tengahnya, jadi kalau ada pencurian, kebakaran atau kematian suara kentongan dipukul untuk disebarkan ke seluruh penjuru desa. Nampaknya Daendels meniru tradisi orang Jawa yang selalu menaruh kentongan didekat rumahnya. Almarhum simbah saya kalau malam punya kebiasaan keluar rumah, memukul
kentongan, lalu balik tidur.

Ketika sosialisasi kentongan berjalan dengan baik di Batavia, uniknya di tanah Jawa, yaitu Surakarta tanah tumpah darah "soto Nggading" malahan dikeluarkan perentah agar kentongan di ganti bende yang suaranya lebih nyaring. Surabaya pun sami mawon, karena mereka menggunakan bende.

Tahun 1902, keluar peraturan baru oleh residen Einthoven. Yang berhalangan jaga malam bisa membayar para bek (wijkmeester) untuk menggantikan dirinya atau menyuruh sanak saudaranya menggantikan mereka. Akibatnya terjadi penyimpangan seperti di Jembatan Tomes.

Pengadilan roi pernah menghukum Souw Tjia dan Liong Hoa selama 8 tahun di hotel prodeo lantaran kedapatan tertidur selama masa ronda mereka. Hukuman badan bisa diganti dengan denda 3 gulden. Jaman dulu untuk mendapatkan 3 gulden orang harus kerja berat selama seminggu sehingga banyak yang memilih masuk bui karena tak ubahnya masuk hotel prodeo.

[pegel juga 2 hari jaga Booth no 20 di Joint Convention HAGI dan IAGI di HMS dari 16-17 Desember 03, terimakasih kepada teman-teman yang sempat lewat di Booth kami.]
"If you fail to plan, you plan to fail"

Comments

Popular Posts